SERI MEWASPADAI NEO ARIANISME
TANGGAPAN ATAS BUKU KARYA FRANS DONALD,
"ALLAH: DALAM ALKITAB & AL QUR’AN, SESEMBAHAN YANG SAMA ATAU BERBEDA?"
TANGGAPAN TERHADAP BAB V
Pada halaman 37-41 dikatakan:
Para pembaca yang terkasih, sebenarnya, kalau kita mau dengan jujur membaca Alkitab, maka akan jelas sekali bahwa menurut Alkitab, Yesus benar-benar bukanlah Allah [Yahweh]. Hal ini misalnya diungkapkan di Kitab Wahyu 3:14, ada tertulis bahwa Yesus yang bergelar ‘Amin’ [bdk 2 Korintus 1:20] dan ‘saksi yang setia’ adalah ‘permulaan dari ciptaan Allah’. Marilah kita selidiki pernyataan Alkitab yang mengungkapkan bahwa Yesus Kristus bukanlah Allah [Bapa]. Semua ayat Alkitab ini harus dibuka dan dibaca dengan teliti:
Yohanes 12:49-50
Yohanes 14:28
Yohanes 17:3
Yohanes 20:17
Matius 24:36 dan Markus 13:32
Matius 15:34
Kisah 7:55-56
Wahyu 3:2,12
Sebelum menjadi manusia Yesus, siapakah dia? Dari perbandingan beberapa ayat kunci, tampaknya identitas Yesus sebelum kelahirannya adalah sebagai ‘malaikat utusan Allah’. Berikut ayat-ayat di dalam Alkitab ini perlu dibuka dan dibaca dengan teliti:
Maleakhi 3:1
Wahyu 1:5 dan Wahyu 3:14
1 Korintus 1:24
Amsal 8:22-30
Ibrani 1:5-9
Oleh karena itu, jika di Kolose 1:15-16, Yesus disebut sebagai ‘Gambar Wujud Allah’ dan ‘Ciptaan Yang Sulung’, tidak keliru jika Yesus disebut sebagai ‘Saudara Sulung’ bagi manusia, karena dialah yang sulung, ‘Permulaan Ciptaan Allah’ [Wahyu 3:14].
EVALUASI TEOLOGIS:
Ciri khas Arianisme dan kelompok-kelompok Unitarianisme, termasuk Jehovah Witness, adalah selalu menonjolkan ayat-ayat yang cenderung memperlihatkan kemanusiaan Yahshua belaka, tanpa menggali lebih dalam sifat Keilahian Yahshua. Kitab Brit ha Khadasha [Perjanjian Baru] dengan jelas memperlihatkan sisi hakikat Ketuhanan Mesias dan sisi kemanusiaan Mesias. Dikatakan dalam Kolose 2:9
YLT
Colossians 2:9 because in him doth
tabernacle all the fulness of the
Godhead bodily,
WHO
Colossians 2:9

HNT Colossians 2:9

Jika diterjemahkan secara literal, “Di dalam Dia berdiam keseluruhan sifat Ketuhanan, dalam wujud badani”. Ayat ini menegaskan sifat unitas yang terjaga seimbang dan sempurna, tidak bercampur tidak terpisah antara Ketuhanan dn kemanusiaan.
Untuk lebih memahami hakikat Yahshua, kita akan mengkaji secara lebih mendalam dari eksposisi Kitab Yokhanan 1:1-18, karena Kitab Yokhanan menyingkapkan tabir hakikat Ketuhanan dan Kemanusiaan Yahshua Sang Mesias.
Pemahaman Tentang Makna Logos
Rasul Yokhanan memulai “Kabar Baik” [Injil, Arab/Euangelion, Greek/Besorah, Ibrani] yang ditulisnya dengan sebuah pernyataan :
“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Elohim dan Firman itu adalah Elohim” [Yoh 1:1]…
”Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita” [Yoh 1:14].
Dalam naskah Greek di tuliskan,
“en arche en ho Logos kai ho Logos en pros ton Theon, kai Theos en ho Logos” [f1]. Sementara dalam naskah Aramaik di tuliskan,
“Beresyit eytuhay hua Malta we hu Malta eytuhay hua lut Alaha we Alaha eytuha hua hu Malta” [f2]. Sementara dalam naskah Bahasa Ibrani di terjemahkan, “Bereshit haya ha
Davar we ha Davar haya et ha Elohim we hu ha Davar haya Elohim” . Sementara dalam Hebraic Root Version New Testament di terjemahkan,
“In the beginning was the Word and the Word was with Eloah and Eloah was the Word” [f3]
Yokhanan memberikan penjelasan mengenai “Pra Ada” [Pre Existence] dari Sang Mashiah yang di sebutnya dengan, “Davar”, “Malta”, “Logos”. Istilah “
Davar” bermakna, “word, saying, speech, news, command, promise, incident, occurance, history, concern, cause, question, law, suit” [f4]. Adapun istilah “
Malta” bermakna, “something, matter, word, statement” [f5]. Sedangkan istilah “
Logos”, di artikan sebagai “principle of reason or order immanent in the universe, the principle which imposes form on the material world and constitutes the rational soul in man” [f6].
Dalam naskah Yunani, di pergunakan istilah “Logos” untuk Firman. Ada dua persoalan yang hendak di kaji dalam kaitannya dengan istilah Logos.
Apakah Yokhanan Mengambil Alih Gagasan Platonik Tentang Logos?
“Logos”, dalam arti filsafatnya sudah lama di pakai sebelum penggunaannya di dalam Kitab Yokhanan, baik dalam konteks pemikiran Yunani maupun Mesir bahkan pemikir Yahudi bernama Philo[f7].
- Heraklitus [500 seb.Ms] mula-mula menggunakan istilah Logos. Menurutnya, dunia selalu mengalami perubahan. Daya penggerak perubahan tersebut adalah Logos. Logos adalah pikiran yang benar dan bersifat kekal
- Anaxagoras [400 seb.Ms] beranggapan bahwa Logos adalah jiwa manusia yang menjadi pengantara antara Elohim dan manusia. Logos berdiam di dalam dunia.
- Philo [20 seb.ms-20 Ms] seorang Yahudi Alexandria menyatakan bahwa Logos adalah akal elohim yang menjadi pengantara antara Elohim dan manusia. Logos tidak berkepribadian dan Logos tidak dapat berubah menjadi manusia.
Kembali kepada pertanyaan sebelumnya. Mengenai pertanyaan bahwa Yokhanan mengambil alih atau tidak suatu gagasan filsafat Platonik tentang Logos dapat di jelaskan dari beberapa perspektif.
Perspektif pertama, mengutip pandangan DR.
Purnawan Tenibemas sbb :
“Rasul Yohanes tanpa ragu-ragu memakai kata Logos sebagai sarana untuk memperkenalkan Tuhan Yesus. Tetapi Logos yang di maksudkan oleh Yohanes tidak sama dengan Logos yang di artikan oleh orang lain. Selanjutnya Purnawan menambahkan, “Rasul Yohanes telah menyimak suasana pikiran zamannya, mengambil istilah yang umum di pakai dan tumpuan harapan orang sesamanya, serta memberi arti baru yang lebih dalam sesuai dengan ilham Roh Kudus kepadanya” [f8].
Berbeda dengan Purnawan, dalam bukunya,
Tafsiran Injil Yohanes 1-5,
Olla Tuluan, Ph.D., menjelaskan bahwa penggunaan istilah Logos dalam Injil Yokhanan di karenakan istilah itu sudah di kenal dalam lingkungan Yahudi dan Yunani, namun penggunaan Logos harus di mengerti latar belakangnya dalam penyataan Elohim dalam Perjanjian Lama[f9].
Bagaimana TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] atau lazim di sebut Kitab Perjanjian Lama, menjelaskan essensi Firman ? Ada empat essensi Firman berdasarkan kesaksian TaNaKh, yaitu :
- Daya Cipta Elohim
“bi devar Yahweh shamaym naasyu, ube ruakh piw, kal tsevaam” [Sefer Tehilim 33:6] yang artinya, “Oleh Firman Yahweh langit telah di buat dan oleh nafas dari mulut-Nya, terbentuklah semua tentara-Nya” [Mzm 33:6]. Dalam Sefer Beresyit atau Kitab Kejadian, sebanyak 9 kali istilah “Amar” [Firman] di hubungkan dengan terjadinya ciptaan. Di tuliskan, “wayomer Elohim, ‘yehi wa yehi’, artinya, “jadi maka jadilah”.
- Utusan Elohim
“yislakh devaru we yirpaem…” [Sefer Tehilim 107:20] artinya, “Dia mengutus Firman-Nya dan di sembuhkannya mereka” [Mzm 107:20]
- Pelaksana Kehendak Elohim
“ken yihye devari asher yetse mipiy. Lo yashuv elay reqam. Ki imasha et asher khapatsti we hitsliyakh asher shelakhtiw” [Yes 55:11] yang artinya, “demikianlah Dia, Firman-Ku yang keluar dari mulut-Ku tidak akan kembali kepada-Ku dengan kehampaan namun Dia akan melaksanakan dengan sempurna apa yang Aku inginkan dan akan memperoleh tujuan-Nya sebagaimana Aku mengutus-Nya” [Yes 55:11].
- Kehendak Elohim yang di komunikasikan pada para nabi-Nya
“wa yomer et Yahweh el YesaYah..” [Sefer Yesayah 38:4] “Maka berfirmanlah Yahweh kepada Yesaya..” [Yes 38:4].
Logos, Elohim atau “suatu Elohim “?
Sehubungan dengan bunyi teks Kitab Yokhanan naskah Greek,
“kai Theos en ho Logos” [Yoh 1:1] ada beberapa terjemahan yang berbeda sesuai dengan asumsi masing-masing penerjemah. Dalam
The New Testament in An Improved Version di terjemahkan demikian :
“dan Firman itu adalah suatu [elohim]” , 1808. Sementara
The Emphatic Diaglot menerjemahkan,
“dan suatu [elohim] Firman itu” , 1864. Lalu
La Bible du Centenaire L’Evangile selon Jean menerjemakan,
“dan Firman itu adalah suati pribadi elohim” , 1928. Dan akhirnya
The Bible An Ammerican Translation menerjemahkan,
“dan Firman itu elohim” , 1935. [f10] Mengapa beberapa terjemahan di atas berbeda dengan terjemahan pada umumnya [“dan Firman itu adalah Elohim”]??
Donald Guthrie membahas kesalahpahaman banyak orang terhadap frasa naskah Yokhanan berbahasa Greek, sbb :
“Dalam Yokhanan 1:1 dalam bahasa Yunani, kata Theos tidak mempunyai kata sandang, hal ini telah menyesatkan banyak orang yang berpikir bahwa pengertian yang benar dari pernyataan itu ialah, ‘Firman itu adalah seorang elohim’, tetapi secara tata bahasa pengertian itu tidak dapat di pertahankan, karena kata Theos merupakan predikat. Tidak dapat di ragukan bahwa Yokhanan bermaksud agar para pembacanya mengerti bahwa Firman itu memiliki sifat [Elohim], tetapi ia tidak bermaksud bahwa Firman dan Elohim merupakan istilah yang sama artinya, karena pernyataan sebelumnya dengan jelas membedakan keduanya. Seharusnya pernyataan ini berarti bahwa walaupun Firman itu adalah Elohim, namun pengertian tentang [Elohim] mencakup lebih dari Firman…dengan beberapa kata ia telah memberi kesan mengenai sikap dan kedudukan Keelohiman dari Firman yang selalu bersama-sama dengan [Elohim] [f11].
Makna Logos dalam Kitab Yokhanan
Dari eksposisi esensi Firman dalam TaNaKh, kita dapat menarik kesimpulan bahwa Rasul Yokhanan sedang menggemakan kembali hakikat dan fungsi “davar” dalam TaNaKh yang terlibat langsung dalam penciptaan dan kekal bersama Yahweh Sang Pencipta. DR.
David Stern menjelaskan:
“The language echoes the first sentence of Genesis…thus the TaNaKh lays the groundwork for Yochanan’s statement that the Word was with God and was God’s[f12].
[bahasa Yokhanan menggemakan kalimat pertama dalam Kitab Kejadian…sehingga TaNaKh meletakkan latar belakang bagi pernyataan Yokhanan bahwa Sang Firman bersama dengan Elohim {Tuhan} dan adalah Elohim {Tuhan}]
Penggunaan istilah
“Logos” dalam Kitab Yokhanan berbahasa Greek, bukan menandakan bahwa Yokhanan mengambil alih ide tentang
“Logos” Helenistik Platonik dan mengisinya dengan arti yang baru, sebagaimana anggapan banyak teolog. Penggunaan istilah Logos merupakan pemindahan bahasa untuk menerjemahkan makna kata
“Davar” atau
“Milta” serta
“Memra” [dalam Targum]. Dengan menggunakan istilah Logos, pengertiannya mudah di kenali oleh pembaca Yahudi [pengikut Filsuf Philo] maupun pembaca Hellenis [pengikut Filsuf Anaxagoras, Heraklitus, dll], meskipun esensi Logos yang di bicarakan Yokhanan berbeda secara substansial dan konseptual dengan gagasan Helenistik.
Firman Yahweh tidak di ciptakan karena Firman Yahweh ada dalam kekekalan bersama dengan Yahweh. Firman adalah Daya Cipta Yahweh[yang menyebabkan sesuatu Ada]. Firman tidak di ciptakan. Jika Firman di ciptakan, dengan apakah Firman di ciptakan ??
Eksposisi Kitab Yokhanan 1:1-18 hendak menjelaskan aspek Ontologi dan Antropologi mengenai Yahshua, sbb:
- Dia bersama Elohim” [ay 1]. Artinya, sang Firman berdiam dan sehakikat dengan Elohim Yahweh. Kata yang di terjemahkan “bersama dengan” adalah “pros”. Marcus Doods “pros” sbb : “pros, implies not merely existence alongside with but personal intercourse” [f13]
- “Dia adalah Elohim” [ay 1]. Artinya, sang Firman adalah manifestasi, ekspresi dari pikiran dan kehendak Elohim. Dia adalah daya Kreatif, Daya Cipta yang menciptakan sesuatu menjadi ada dan bukan ciptaan.
- “Dia menjadikan segala sesuatu” [ay 3]. Artinya, dari segala yang ada dan hidup, Sang Firmanlah yang menyebabkan adanya sesuatu. Dalam Kitab Kejadian 1:3, 6, 9, 11, 14 ,20, 24, 26, 29, di tegaskan bahwa Firman “menjadikan segala sesuatu”, sebagaimana ungkapan “yehi wa yehi” [jadilah ada maka jadilah ada]. Ungkapan tersebut sejajar dengan istilah Qur’an, “kun fa yakun”.
- “Dia kekal” [ay 4]. Artinya, Dia tidak akan mengalami kemusnahan atau eksistensi yang temporal. Dia adalah eternal. Pernyataan ini tersirat di balik istilah Yunani “zoe” atau Ibrani “khay” yang bermakna “kehidupan yang berkualitas kekekalan”.
- “Firman itu menjadi manusia” [ay 14]. Artinya, Firman yang merupakan Daya Cipta Elohim telah menjadi daging. Istilah Yunani “Sark” atau Ibrani “Bashar”, biasanya di terjemahkan, “daging” dan menunjukkan pada keberadaan manusia seutuhnya. Baik Heraklitus, Anaxagoras maupun Philo, tidak pernah menyangka bahwa Logos dapat menjadi manusia.
- “Yahshua [Firman yang menjadi manusia] adalah Putra Elohim” [ay 18]. Artinya, Dia datang dari hakikat Elohim dan menyatakan siapa Elohim Yahweh yang eksistensi-Nya adalah Roh, dalam ucapan, pikiran, tindakan seorang manusia, yaitu dalam pribadi-Nya. Istilah Yunani “Huiou” atau Ibrani “Ben”, bermakna anak bukan dalam pengertian biologis semata. Konsekwensinya bagi hakikat Yahshua, terma Putra, menunjukkan terma kesehakikatan dan terma bagi Firman yang menjadi manusia.
Ketuhanan dan Kemanusiaan Yang Sempurna
khususnya Injil Sinoptis [MatitYah, Markos, Lukas, Yokhanan] namun berusaha mengabaikan perspektif Ontologis Yahshua, maka kita tetap akan melihat perspektif Anthropologis Yahshua yang sempurna. Perspektif anthropologis yang sempurna itu terlihat dalam hal kerendahan hati Yahshua yang sempurna, kesetiaan dan ketaatan Yahshua sampai mengalami kematian di kayu salib, kesabaran Yahshua memperlakukan kedegilan murid-murid-Nya, dll. Yahshua, bukan separuh manusia separuh Elohim [50%/50%]. Secara Ontologis, Dia adalah Sang Firman Elohim [100%] dan secara Antropologis, Dia adalah manusia seutuhnya [100%]. Merujuk pada Konsili Chalcedon pada tahun 451 Ms telah di tetapkan bahwa Yahshua bertabiat ganda dalam satu oknum. Dia bukan bertabiat satu namun juga bukan bertabiat dua. Tabiat ganda Yahshua [yang Elohim dan Manusia] tidak bercampur [
a-sunkhutos, pernyataan ini menolak ajaran
Euthices dan
Cyrilius dari Alexandria yang berkeyakinan Monofisit] namun juga tidak terpisah secara ekstrim [
a-khoristos, pernyataan ini menolak ajaran
Nestorius dari Anthiokhia yang berkeyakinan Duofisit] [f14].
Tanggapan Terhadap Istilah “Permulaan Dari Ciptaan Elohim”
Dalam Kitab Wahyu 3:14 versi Lembaga Alkitab Indonesia dikatakan: "Dan tuliskanlah kepada malaikat jemaat di Laodikia: Inilah firman dari Amin, Saksi yang setia dan benar,
permulaan dari ciptaan [Elohim]:…” Dalam naskah Yunani dituliskan,

[he arkhe tes ktiseos tou Theou]. Sekalipun terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia tidak terlalu keliru, namun dapat menimbulkan konotasi bahwa Yahshua adalah ciptaan Elohim. Padahal Yahshua adalah perwujudan Firman Elohim dan Firman tidak diciptakan melainkan menciptakan [Mzm 33:6; Yoh 1:3]. Yahshua dilahirkan namun tidak diciptakan. Istilah
“arkhe” mengandung pengertian “permulaan dari segala sesuatu” [Yoh 1:1]. Namun disisi lain dapat pula bermakna “pengatur, penguasa, pemerintah” [Rm 8:38]. Kata
“arkhe” dalam Wahyu 3:14, setara dengan Wahyu 21:6 dan Wahyu 22:13. Kata
“arkhe” dihubungkan dengan kekekalan sebagai Alef dan Taw atau Alfa dan Omega. Yahshua adalah “Yang Memulai” dan “Yang Mengakhiri”.
DR. David Stern menerjemahkan,
“…The Ruler of God’s creation” [f15] sementara Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky The menerjemahkan,
“…the first cause of all the creation of 
[f16]. Sementara Young’s Literal Translation, 1901 menerjemahkan dengan,
“…the chief of the creation of God;...” [f17]
Dengan terjemahan di atas, hendak menunjuk pada hakikat Yahshua sebagai “pengatur”, “penguasa”, “permulaan yang menciptakan” dalam konteks sebagai Sang Firman.
Tanggapan Terhadap Istilah “Yang Sulung Dari Ciptaan Elohim”
Dalam Kolose 1:15 versi Lembaga Alkitab Indonesia dikatakan:
“Ia adalah gambar [Elohim] yang tidak kelihatan, yang sulung, lebih utama dari segala yang diciptakan” . Terjemahan ini menimbulkan kesan bahwa Yahshua adalah ciptaan yang paling utama. Dalam teks Greek dikatakan:

[prototokos paseos ktiseos]. Kata
“prototokos” memiliki makna: “secara literal berarti anak sulung” [Luk 2:7; Ibr 11:28], namun secara simbolis bermakna “sifat kekekalan Yahshua sebagai Putra Elohim” [Ibr 1:6]. DR. David Stern menerjemahkan dengan,
“Supreme over all creation” [f18]. Dalam komentarnya mengenai Kolose 1:15 DR. David Stern menjelaskan:
“The Messiah is the firstborn of a new humanity through being the first to be resurrected from the dead; this is clearly the sense of “prototokos” in v.18. But this sense does not fit here because of what follows in vv.16-17, even though it is consistent with the preceding allusion to Adam. If one chooses, ‘firstborn of’ instead of ‘supreme over’, the phrase, ‘firstborn of all creation’ does not mean that Yeshua was the first created being but speaks of the eternal sonship”[f19]
[Mesias adalah yang sulung dari manusia baru, melalui yang sulung yang mengalami kebangkitan dari kematian; inilah makna sesungguhnya dari kata ‘prototokos’ dalam ayat 18. Namun makna ini tidak ditopang pada ayat ini, dikarenakan diikuti oleh ayat selanjutnya yaitu 16-17, meskipun ini terlihat konsisten dengan kiasan mengenai Adam. Jika seseorang memilih menerjemahkan dengan “yang sulung” daripada “yang menguasai”, maka frase “yang sulung dari semua ciptaan”, janganlah dimaknai bahwa [Yahshua] adalah yang pertama diciptakan, namun mengenai Kekekalan Sang Putra]
Dengan demikian, sekalipun diterjemahkan dengan “yang sulung dari segala yang diciptakan”, bukan bermakna bahwa Dia adalah ciptaan, melainkan dijelaskan dalam ayat 16-17 sbb: “karena di dalam Dialah telah
diciptakan segala sesuatu, yang ada di sorga dan yang ada di bumi, yang kelihatan dan yang tidak kelihatan, baik singgasana, maupun kerajaan, baik pemerintah, maupun penguasa; segala sesuatu diciptakan oleh Dia dan untuk Dia.
Ia ada terlebih dahulu dari segala sesuatu dan segala sesuatu ada di dalam Dia”.
Dari penjelasan mengenai Wahyu 3:14, Kolose 1:15, kita dapat mengambil kesimpulan bahwa makna kalimat
“he arkhe tes ktiseos tou Theou” dan “prototokos paseos ktiseos” , tidak menunjukkan status Yahshua sebagai “mahluk yang diciptakan untuk pertama kalinya”. Sebaliknya, “Dia adalah yang permulaan dalam hakikat-Nya sebagai Sang Firman, Putra Yahweh Semesta Alam”.
Membuat kesimpulan bahwa Pra Ada Yahshua sebelum berinkarnasi menjadi manusia, adalah “malaikat Elohim”, berdasarkan Malekhi 3:1, Wahyu 1:5, Wahyu 3:14, 1 Korintus 1:24, Amsal 8:22-30, Ibrani 1:5-9. Mari kita telaah satu persatu bunyi teks-teks di atas.
- Maleakhi 3:1 [Lembaga Alkitab Indonesia]: Lihat, Aku menyuruh utusan-Ku, supaya ia mempersiapkan jalan di hadapan-Ku! Dengan mendadak Tuhan yang kamu cari itu akan masuk ke bait-Nya! Malaikat Perjanjian yang kamu kehendaki itu, sesungguhnya, Ia datang, firman [Yahweh] semesta alam”.
Komentar:
Tidak kata atau kalimat yang menunjuk secara propetik kepada Yahshua. Yahshua tidak pernah disebut “malaikat” dan tidak pernah mendapat julukan “yang mempersiapkan jalan”. Sebaliknya, kata “malaki” [utusanku], menunjuk kepada apa yang telah dituliskan dalam YeshaYah 40:3 dan tergenapi dalam pribadi Yokhanan ha Metavel [Pembaptis], sebagai orang yang berseru-seru di padang gurun agar mempersiapkan jalan bagi Yahweh [Yokh 3:1-6].
- Amsal 8:22-30 [Lembaga Alkitab Indonesia]: “[Yahweh] telah menciptakan aku sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada. Sebelum air samudera raya ada, aku telah lahir, sebelum ada sumber-sumber yang sarat dengan air. Sebelum gunung-gunung tertanam dan lebih dahulu dari pada bukit-bukit aku telah lahir; sebelum Ia membuat bumi dengan padang-padangnya atau debu dataran yang pertama. Ketika Ia mempersiapkan langit, aku di sana, ketika Ia menggaris kaki langit pada permukaan air samudera raya, ketika Ia menetapkan awan-awan di atas, dan mata air samudera raya meluap dengan deras, ketika Ia menentukan batas kepada laut, supaya air jangan melanggar titah-Nya, dan ketika Ia menetapkan dasar-dasar bumi, aku ada serta-Nya sebagai anak kesayangan, setiap hari aku menjadi kesenangan-Nya, dan senantiasa bermain-main di hadapan-Nya;…”
Komentar:
Tidak ada petunjuk tersirat atau tersurat bahwa ayat di atas ditujukan pada Yahshua. “Khokhmah” [Hikmat] diciptakan oleh Yahweh. Yahshua adalah Sang Firman Yahweh itu sendiri [Yoh 1:1-3]. Amsal 8:22-30 tidak menunjuk pada Yahshua, karena Yahshua bukan “Khokhmah” yang diciptakan. Dia adalah sumber “Khokmah” karena di dalam Dia sebagai Sang Firman, diciptakan “Khokmah”.
- 1 Korintus 1:24 tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, [Mesias] adalah kekuatan [Elohim] dan hikmat [Elohim].
Komentar:
Karena Yahshua adalah Sang Firman yang menjadi Daya Cipta Yahweh, maka Sang Firman tentu memantulkan pikiran, kehendak, rancangan, hikmat dan kekuatan dari Yahweh Semesta Alam. Dalam terang pengertian hakikat Sang Firman, maka bunyi pernyataan bahwa Yahshua adalah “kekuatan” dan “hikmat” Elohim, dapat dipahami dengan secara wajar.
- Ibrani 1:5-9 [Lembaga Alkitab Indonesia]:”Karena kepada siapakah di antara malaikat-malaikat itu pernah Ia katakan: "[Putra]-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan pada hari ini?" dan "Aku akan menjadi Bapa-Nya, dan Ia akan menjadi [Putra]-Ku?" Dan ketika Ia membawa pula [Putra]-Nya yang sulung ke dunia, Ia berkata: "Semua malaikat [Elohim] harus menyembah Dia." Dan tentang malaikat-malaikat Ia berkata: "Yang membuat malaikat-malaikat-Nya menjadi badai dan pelayan-pelayan-Nya menjadi nyala api." Tetapi tentang Putra Ia berkata: "Takhta-Mu, ya [Elohim], tetap untuk seterusnya dan selamanya, dan tongkat kerajaan-Mu adalah tongkat kebenaran. Engkau mencintai keadilan dan membenci kefasikan; sebab itu [Elohim], [Elohim]-Mu telah mengurapi Engkau dengan minyak sebagai tanda kesukaan, melebihi teman-teman sekutu-Mu."
Komentar:
Jika kita membaca teks di atas secara wajar, maka tidak ada satupun ayat yang menunjuk secara eksplisit bahwa Yahshua adalah malaikat atau salah satu dari anggota malaikat. Sebaliknya, Yahweh sedang mengumumkan dalam kekekalan, sebelum dimulainya waktu, kepada para malaikat-Nya, bahwa Dia berkenan kepada Yahshua Sang Firman sebagai pengemban tugas penyelamatan atas dunia. DR. David Stern memberikan komentar terhadap ayat ini sbb:
“The writer obviously assumes that angels really exist and proceeds to prove the proposition of v.4, that the Messiah, as God’s Son, is ‘much better than angels’, by quoting seven text from the TaNaKh, each of which has its own richness of meaning. He sums up with the conclusion in v.14, that angels are ‘merely spirits who serve, sent out to help those whom God will deliver’, that is, believer in Yeshua” [f20]
[Penulis sebenarnya menyatakan bahwa para malaikat mahluk yang benar-benar ada dan untuk mendukung pernyataan pada ayat 4, bahwa Sang Mesias, sebagai Putra Elohim {Tuhan}, ‘lebih baik dari para malaikat’, dengan menguti tujuh ayat dari TaNaKh, yang satu dan lainnya memiliki kekayaan makna. Dia meringkaskan dengan kesimpulan pada ayat 14, bahwa para malaikat hanyalah mahluk-mahluk yang melayani, dikirim untuk orang-orang yang telah dibebaskan oleh Elohim {Tuhan}, yaitu orang-orang yang beriman pada Sang Mesias]
-
Wahyu 1:5 [Lembaga Alkitab Indonesia]: “dan dari [Yahshua Sang Mesias], Saksi yang setia, yang pertama bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja bumi ini. Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah melepaskan kita dari dosa kita oleh darah-Nya – “
Komentar:
Tidak ada pernyataan yang mendukung gagasan bahwa Yahshua, adalah salah satu anggota malaikat. Justru ayat ini menegaskan sifat Ketuhanan Mesias yang bangkit dari antara orang mati sebagai “Yang Sulung” [Bekorah, Ibr/Prototokos, Greek] dari antara orang yang mati. Kebangkitan-Nya menegaskan kekuatan perkataan-Nya sebagai Kebangkitan dan Hidup [Yokh 11:25].
Kesimpulan dari keseluruhan tanggapan terhadap ayat-ayat di atas, bahwasanya Sdr. Frans Donald dengan secara TIDAK JUJUR telah mengutip ayat-ayat tersebut secara tidak utuh dalam bukunya dan memberikan TAFSIR KELIRU terhadap teks-teks tersebut, untuk mendukung kesimpulan bahwa hakikat Yahshua sebenarnya hanyalah salah satu anggota malaikat Yahweh saja. Pernyataan Sdr. Frans Donald menggemakan kembali pernyataan khas yang menjadi ciri pengajaran Saksi Yehuwa, bahwa hakikat Pra Ada Yahshua, hanyalah malaikat belaka, sebagaimana saya kutipkan:
“Jadi sebelum dilahirkan di bumi sebagai manusia, [Yahshua] sudah ada di surga sebagai pribadi roh yang penuh kuasa. Ia mempunyai tubuh rohani yang tidak dapat dilihat manusia, seperti halnya dengan [Elohim]” [f21]
Bahkan keseluruhan ayat-ayat yang dikutip dan dipersoalkan keberadaannya [al. Yokh 1:1, Fil 2:16, Kol 1:15, Yoh 8:58, dll] telah menjadi menu khas pengkajian Saksi Yehuwa dalam publikasi literaturnya. Tidak ada hal baru dalam buku Sdr. Frans Donald, selain menggemakan ajaran Saksi Yehuwa yang Arianistik dalam kemasan yang lihai. Ulasan Sdr. Frans Donald serasa menjadi sumber pencerahan, bagi mereka yang tidak mengetahui sejarah doktrin Kristen/Mesianik, namun jika pembaca telah akrab dengan argumentasi-argumentasi yang dikemukakan komunitas Saksi Yehuwa, maka keseluruhan gagasan Sdr. Frans Donald hanya memantulkan ulang belaka.
Footnote:
- [f1] : Op.Cit., The Greek New Testament
- [f2] : Agnes Smith Lewis, The Old Syriac Gospels or Evangelion da Mepareshe, 1910
- [f3] : Op.Cit., The New Testament in Hebrew & English
- [f4] : DR. Karl Feyerabend, Langenscheidt’s Pocket Hebrew Dictionary [Heb-Eng], Germany, p.66
- [f5] : Michael Sokoloff, A Dictionary of Jewish Palestinian Aramaic, Bar Ilan University Press & The John Hopkins University Press, 2002, p.305
- [f6] : F.F. Bruce, The Gospels of John, Eerdmans, 1983, p.29
- [f7] : Donald Guthrie, Teologi Perjanjian Baru I, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 363
- [f8] : Apologetika Abad Pertama [ Buletin “Sahabat Gembala”, Bandung, 1992, h.58]
- [f9] : STT I-3, Batu, Malang, Jatim, 1993, hal 13
- [f10] : Watch Tower Bible And Tract Society of Pennsylvania, Haruskah Anda Percaya Kepada Tritunggal ?, Brooklyn, new York, U.S.A, 1989, hal 27
- [f11] : Op. Cit., Teologi Perjanjian Baru I, hal 371
- [f12] : Op.Cit., Jewish New Testament Commentary, p.153
- [f13] : The Exspositor’s Greek Testament, Vol I, p.684
- [f14] : DR. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 117 & DR. H. Berkhof –I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, BPK Gunung Mulia, 1993, hal 58
- [f15] : Jewish New Testament, JNTP, 1989
- [f16] : Restoration Scriptures, North Mami Beach Florida: YATI Publishing, 2005
- [f17] : BibleWorks LLC Version 6.0. 005y, 2003
- [f18] : Op.Cit., Jewish New Testament
- [f19] : Op.Cit., Jewish New Testament Commentary, p. 603-604
- [f20] : Ibid., p. 665
- [f21] : Saudara Dapat Hidup Dalam Firdaus di Bumi, Watch Tower Bible And Tract Society of Pennsylvania, 1991, hal 58
PDT. TEGUH HINDARTO, MTH
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA>