PENGANTAR
Penulis pernah menerima sebuah copy leaflet berjudul,
“DIKALA YESUS MENOLAK YAHWEH” . Ditulis oleh
Posma Situmorang dari Persekutuan Doa Wisma Gembala. Setelah membaca isinya, dan menganalisis gagasan yang terkandung didalam tulisan tersebut, penulis jadi teringat akan seorang bernama Marcion dari Sinope yang ajarannya ditolak oleh bapa-bapa gereja di abad 2 Ms. Gema ajaran Marcion nampak dalam gagasan tulisan Posma Situmorang.
Dalam tulisan ini, penulis akan membagi dalam dua kajian. Pertama, latar belakang historis Marcionisme dan pengaruhnya terhadap gereja sampai hari ini. Kedua, apologetik terhadap leaflet yang diterbitkan oleh Posma Situmorang.
Kiranya analisis dan kajian apologetik dalam buku ini menolong kita untuk dapat melihat hakikat Bapa [Yahweh] dan Putra [Yahshua] serta relasi ontologis diantara keduanya, demikian pula kita dapat melihat nilai penting Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru yang menghubungkan pengertian kita tentang Bapa dan Putera sehingga kita tidak terjebak pada Marcionisme atau bahkan Neo Marcionisme. Biarlah Elohim, Bapa kita memberi kita mata hati yang terang untuk mengenal Dia yang benar [Ef 1:17].
SIAPAKAH MARCION ITU ?
Marcion dilahirkan tahun 100 Ms di Sinope, disebuah tepi pantai Laut Mati di pelabuhan Asia Kecil. Ayahnya adalah seorang pemimpin disebuah gereja dikota tersebut. Diantara sekian rasul yang dia kagumi, hanyalah Paulus karena bagi dia Paulus adalah yang paling murni mengikuti ajaran Yahshua [Yesus]. Marcion sangat menggebu dalam kecintaanya pada Paulus. Marcion sangat dipengaruhi oleh kecerdasan dan semangat Rasul Paul mengenai doktrin Injil yaitu pembenaran oleh kasih karunia Elohim yang berbeda dengan pembenaran oleh melakukan Torah.
Adolf Von Harnack menyebut Marcion sebagai,
’The only man in the early church who understood Paul and even in his understanding he
misunderstood him’ [f1]. Artinya,’Marcion adalah satu-satunya orang yang paling mengerti Rasul Paulus bahkan sekaligus yang dalam pengertiannya, dia menyalahpahami tentang Rasul Paulus’. Ungkapan paradoks ini hendak menggambarkan bahwa Marcion yang meninggikan Paulus, juga yang banyak menyalah tafsirkan ajaran Paulus.
AJARAN MARCION
F.F. Bruce menerangkan ajaran Marcion dengan padat. [f2] Pertama, Marcion menolak setiap unsur Torah yang muncul dalam Kitab Perjanjian Baru. Bukan hanya menolak Torah, melainkan menolak Kitab Perjanjian Lama itu sendiri. Marcion hanya menerima Kitab Perjanjian Baru.
Kitab Perjanjian Baru, khususnya Injil yang dipercayai Marcion adalah murni sebagai ajaran baru dari Yahshua. Jika dalam surat-surat rasul Paulus ditemukan unsur-unsur Kitab Perjanjian Lama, menurut Marcion itu adalah penyisipan yang dilakukan oleh para rasul Yahudi.
Bagi Marcion, para rasul selain Paulus, yaitu rasul-rasul yang melayani di Yerusalem, adalah rasul-rasul yang mencampurkan pengajaran Yahshua dengan Legalisme Torah dalam Perjanjian Lama [
had corupted their Master'’ teaching with an admixture of legalism].
Lebih jauh lagi, Marcion menganggap bahwa Elohim [Sesembahan,Tuhan] Perjanjian Lama berbeda secara eksistensial dengan Elohim Perjanjian Baru. Ajaran ini dipengaruhi paham Gnostik. Menurut Gnosticm, Tuhan yang membentuk alam materil adalah tuhan yang jahat dan lebih rendah martabatnya dibandingkan tuhan yang menciptakan roh. Tuhan yang menciptakan roh adalah tuhan yang eksistensinya roh adanya. Dialah tuhan yang sejati. Ajaran ini bergema dalam pemikiran Marcion. Tuhan Perjanjian Lama, yaitu Tuhan Israel berbeda dengan Tuhan Perjanjian Baru, yaitu Bapa dari Tuhan Yahshua. Bapa adalah Tuhan yang baik dan mulia tabiatnya. Bahkan Tuhan Perjanjian Lama adalah Tuhan yang kejam dan gagal melaksanakan TorahNya, sehingga Dia melampiaskan kemarahan itu dengan membunuh Yahshua, putera dari Tuhan Perjanjian Baru[f3].
Bagi Marcion, arti dari ‘Iman’ adalah,’menyangkal Tuhan pencipta dan menyerahkan diri kepada kasih Tuhan yang maha tinggi. Penyerahan itu berarti,bahwa orang-orang kristen patut menjauhkan diri dari dunia yang cemar ini dengan jalan bertarak dan beraskese: menyiksa diri,menahan diri dari daging,minuman keras,bersetubuh dsb. Sudah barang tentu bahwa Marcion menolak kedatangan Ha Mashiah [Kristus] kembali dan kebangkitan segala dahing/mahluk[f4].
KARYA THEOLOGIA
Marcion menyusun Kitab Perjanjian Baru berbeda dengan susunan yang telah dipakai sebelumnya oleh para rasul maupun bapa-bapa gereja sebelum Marcion. Kanon Perjanjian Baru memang baru ditetapkan th 393 Ms di Hippo dan tahun 397 Ms di Kartago, namun keberadaan susunan informal dan tradisional dari Kitab Perjanjian Baru, sudah lama berlaku sejak para rasul menyelesaikan injilnya.
Marcion menyusun pengantar untuk Injilnya. Pengantar ini dinamai
ANTIHESES, sebuah penjelasan perbedaan eksistensial tuhan Perjanjian Lama dan tuhan Perjanjian Baru dan tidak relevannya Kitab Perjanjian Lama. [f5]
F.C. Burkit menyebutkan bahwa Anthitese dibuka dengan sebuah lirik kidung perayaan yang merupakan ucapan berkat : ‘oh sumber kemakmuran!, kenikmatan, kekuatan dan ketakjuban!, tidak ada satupun yang dapat dikatakan mengenai hal tersebut, tidak juga ada yang dapat membayangkannya, tidak juga dapat diperbandingkan dengan apapun’[f6].
Marcion tidak menggunakan istilah Kitab Perjanjian Baru, melainkan
EUANGELION kai
APOSTOLIKON [Kabar Baik/Injil dan Rasul-rasul] [f7].
Injil yang dipergunakan Marcion hanyalah Injil Lukas, karena dianggap selaras dengan ajaran Paulus. Namun beberapa bagian Injil Lukas dihilangkan. Yaitu kelahiran Yohanes Pembaptis [karena Yohanes Pembaptis merupakan tokoh kunci yang menghubungkan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, sebelum kelahiran Yahshua], demikian pula kelahiran Yashshua [karena Marcion beranggapan bahwa Yahshua langsung turun dari surga secara supranatural] [f8].
Selain itu beberapa bagian Injil Lukas yang dihilangkan adalah masuknya Yahshua ke Sinagog [Luk 4:16-30], karena dianggap itu berbau Yahudi dan disisipkan oleh penulis yahudi. Pencobaan di padang gurun, dimana Yahshua mengutip Kitab Ulangan[Luk 4:1-13],juga ditiadakan. Kata-kata ‘KerajaanMu datanglah’[Luk 11:2] diganti menjadi : ‘Biarlah Roh Kudus datang keatas kita dan menyucikan kita’. Kata-kata ‘anggur yang tua adalah baik’[Luk 5:39] juga ditiadakan karena mengimplikasikan Perjanjian Lama. Laporan mengenai ibu dan saudara Yahshua secara jasmani [Luk 8:19] dan kisah Zakheus sebagai keturunan Abraham [Luk 19:9] dihilangkan. Marcion memulai Injilnya pada Lukas 3:1,’Dakam tahun kelimabelas dari Pemerintahan Kaisar Tiberius…’ lalu loncat ke Lukas 4:31,’Kemudian Yahshua pergi ke Kapernaum…’ [f9].
Jika Injil [Euangelion] Marcion hanya menggunakan Kitab Lukas, maka Rasul-rasul [Apostolikon], hanya menggunakan sepuluh surat-surat Rasul Paulus dengan menghilangkan 1 & 2 Timotius serta Titus. Marcion memulai surat-surat Paulus dengan urutan surat Galatia terlebih dahulu, karena dianggap menyerang Yudaisme [Gal 2:1-10], namun isinya yang mengandung unsur dukungan kepada Yudaisme, dihilangkan seperti Galatia 3: 6-9 dan Galatia 3:15-25] [f10]
Beberapa bagian dari surat Roma dihilangkan, yaitu Roma 1:19 -, Roma 2:1 -, Roma 3:21-, Roma 4:25 dan keseluruhan Roma 9-11, kecuali Roma 10:1-4 dan Roma 11:33-36 dan segala sesuatu sesudah Roma 14:23[f11].
Surat Efesus disebut Surat kepada orang-orang di Laodikea. Marcion mengubah bunyi Efesus 3:9 yang berbunyi,’dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi
dalam Yang Maha Kuasa [Elohim, Theos,God],yang menciptakan segala sesuatu,..’ lalu diubah menjadi,’dan untuk menyatakan apa isinya tugas penyelenggaraan rahasia yang telah berabad-abad tersembunyi
dari Yang Maha Kuasa,yang menciptakan segala sesuatu,..’. Perubahan kalimat dengan menghilangkan kata ‘en’[dalam, kasus dativ] menjadi dari, dimaksudkan untuk menyalahkan Tuhan Perjanjian Lama yang gagal menemukan misteri yang disembunyikan berabad-abad, yaitu kehadiran Yahshua dari Sang Bapa. [f12].
Dengan demikian, susunan Kanon Euanggelion dan Apostolikan versi Marcion adalah, Lukas, Galatia, 1&2 Korintus, Roma, 1&2 Thesalonika, Laodikea [Efesus], Kolose, Filipi, Filemon[f13].
F. C. Burkit menyebut usaha Marcion dan pengikutnya tersebut sebagai,
’They are the work of one who was as much obsessed by the opposition of Paulinism to Judaizing Christianity as was Baur himself’ [f14] [Mereka adalah orang yang bekerja dengan terobsesi oleh penentangan Paulus terhadap Yudaisme Kristen, seperti dikatakan Baur].
PENGARUH MARCIONISME
Memang benar bahwa pengaruh Marcion dan pengikutnya telah lenyap pada Abad kelima, karena adanya perlawanan dari negara yang menghendaki adanya satu gereja[f15]. Namun bukan berarti nafas ajaran tersebut hilang begitu saja. Gema dan nafas dari ajaran marcion terefleksi dalam bentuk :
SPIRIT ANTI SEMIT yang memanifestasikan diri dalam tiga hal. Pertama, Sikap negatif terhadap Yudaisme, sikap negatif terhadap Torah, sikap negatif terhadap nama Tuhan dalam Perjanjian Lama pra Mashiah.
Sikap-sikap demikian mulai muncul melalui tulisan-tulisan bapa gereja awal yang bernada sinis seperti Justin Martyr[f16], Origen[f17] ,Ephipanius[f18] dan tokoh-tokoh kekristenan modern. Untuk melihat pengkajian mengenai eksistensi dan relevandi Torah dalam kehidupan kekristenan, silahkan membaca Buletin Nafiri Yahshua no 18, Po.Box 122 Kebumen 54300. Salah satu pendapat teolog modern ketika memberika interpretasi terhadap surat Efesus 2:15, yaitu Heiki Reisanen, beliau berkata,’In summary, Paul’s writings abound in statetments which justify
the claim that a radical critique of the Torah is ‘unmistakable characteristic’ of his theology…Paul assert that the Torah had been superseded in Christ’ [f20].
EVALUASI KRITIS
Pengajaran Marcion tidak dilandaskan pada Ajaran Yahshua dan Injil Kanonik yang diakui oleh orang-orang percaya generasi awal. Yahshua mengajarkan otoritas Kitab Perjanjian Lama ketika Dia mengutip untuk melawan ibllis [Mat 4:1-11,ketika Dia membacakan di Sinagog [Luk 4:16], ketika Dia menunjuk bahwa diriNya tertulis dalam Kitab Suci [Luk 24:44]. Bahkan Rasul Paulus mengakui otoritas dan relevansi Kitab Suci Perjanjian Lama [2 Tim 3:16].
Yahshua mengajarkan relevansi dan meluruskan tafsir orang Yahudi terhadap Torah, ketika Dia mengatakan bahwa ‘Aku tidak datang untuk meniadakan Torah dan Kitab Para Nabi, melainkan menggenapinya’ [Mat 5:17-18]. Rasul Paulus pun mengatakan bahwa dirinya tidak meniadakan Torah [Rm 3:31, Rm 7:12].
Yahshua mengajarkan bahwa diriNya adalah Sang Firman Yahweh yang datang dalam rupa manusia [Yoh 8:24, Yoh 8:42], Rasul Paulus mengajarkan bahwa Elohim dalam Perjanjian Lama berbicara melalui FirmanNya yang disampaikan melalui mulut para nabi namun sekarang melalui PuteraNya, yaitu sang Firman yang menjadi manusia [Ibr 1:1-4, 1 Tim 3:16].
DR.
Bekhof memberikan ulasan mengenai Marcion,’Sungguhpun Marcion berjasa kepada Gereja, sebab yang ditekankannya ialah pembenaran oleh iman, namun sebenarnya ia kurang mengerti theologia paulus, karena bagi Paulus, Elohim Perjanjian Lama yang memberi Torah adalah sama saja dengan Elohim Perjanjian Baru yang mengaruniakan rahmatNya didalam Yahshua Sang Mashiah. Siapa yang memisahkan keduannya, ia merusakkan Injil'’0.
Footnote:
- [f1] : History of Dogma, E.T.,I, London 1894, p.89
- [f2] : The Canon of The Scripture, Intervasity Press, 1988, p. 134-136
- [f3] : Pdt. Paulus Daun,M.Div.,Th.M., Bidat-Bidat Kristen dari Masa ke Masa, Yayasan Daun Family, Manado, 1999, hal 57-60
- [f4] : DR.H.Berkhof & DR.I.H. Enklaar, Sejarah Gereja, BPK 1993, hal 23
- [f5] : Op.Cit., F.F. Bruce, p. 136
- [f6] : The Exordium of Marcion’s Anthiteses, JTS 30, 1929, p. 279
- [f7] : Op.Cit., F.F. Bruce, p. 137
- [f8] : Ibid., p. 137
- [f9] : Ibid., p. 138
- [f10] : Ibid., p. 139-140
- [f11] : Loc.Cit., p. 140
- [f12] : Ibid., p.141
- [f13] : Ibid., p. 141-142
- [f14] : The Gospel History and its Transmission, London, 1907, p. 354
- [f15] : Op.Cit., DR. H. Berkhoff, hal 21
- [f16] : Dialogue with Trypho
- [f17] : Alexis P.Rubin, Scatered among the Nations, Documents Affecting Jewish History 49 to 1975, Jason Aronson Inc, London, p. 22-23
- [f18] : Panarion 29
- [f19] : Paul & The Law, Fortress Press Philadhelpia, 1986, p.50
- [f20] : Loc. Cit., DR. H. Berkhoff, p. 23
Pdt. Teguh Hindarto, MTh
Nafiri Yahshua Ministry
KEBUMEN
JAWA TENGAH - INDONESIA