Jumat, 10 September 2010  |  
Muliakanlah YAHWEH bersama-sama dengan aku, marilah kita bersama-sama memahsyurkan nama-Nya (Maz 34:4)
   APOLOGETIK DETIL
24-10-2007
Waspadai Neo Marcionisme 2: APOLOGIA TERHADAP LEAFLET “DIKALA YESUS MENOLAK YAHWEH”
 
 
Posma Situmorang :
“Bandingkan Yesus dengan Mose[istilah ibrani untuk Musa]. Yoh 1:17 [sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus, SIAPA YANG LEBIH LUHUR?” [hal 1].

Tanggapan :
Ayat diatas tidak memberikan indikasi bahwa yang satu lebih superior dari yang lain. Ayat diatas hendak menjelaskan bahwa oknum yang satu diberikan wewenang untuk menjadi perantara Torah diturunkan di Sinai dan oknum yang satu dipercaya sebagai perantara Kasih Karunia. Baik Torah maupun Kasih Karunia, datang dari Elohim dan Bapa yang satu yang bernama Yahweh, karena Dia telah menjanjikan akan memperbaharui perjanjianNya dengan umatNya [Yer 31:31-34].

Posma Situmorang :
“Mat 19:8, [Kata Yesus kepada mereka : Karena ketegaran hatimu, Musa mengijinkan kamu menceraikan istrimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian…’. Musa kewalahan menghadapi kedegilan orang Israel, sehingga mengalah, mengijinkan terjadinya perceraian. Yesus-Alfa dan Omega- mengetahui bahwa pada mulanya tidaklah demikian, melainkan :…Apa yang telah dipersatukan Yang Maha Pencipta [YMP] tidak boleh diceraikan oleh manusia[Mat 19:6]. SIAPA YANG LEBIH LUHUR ?” [hal 1].

Tanggapan :
Jangan menjadikan diri kita sebagai orang bodoh, hingga mengkonfrontasikan Musa dengan Yahshua, seakan-akan Yahshua menyalahkan Musa. Ingat, Yahshua memberikan penghargaan kepada Musa sebagai yang orang menulis mengenai PRA ADA [Pra Existence] diriNya dalam Torah [Yoh 5:46]. Bahkan para muridNya diijinkan melihat visium [penampakan] digunung mengenai hadirnya tokoh Musa dan Elia yang bercakap-cakap dengan Yahshua [Luk 9:28-31].

Yahshua tidak menyalahkan Musa, namun menyalahkan kedegilan orang Israel, sehingga harus terpaksa terjadi perceraian. Baik Yahshua maupun Musa mengatakan hal yang sama, yaitu tidak menghendaki terjadinya perceraian. Namun Yahshua pun memberikan sinyalemen, bahwa perceraian hanya dan hanya dapat terjadi jika dan hanya jika salah satu melakukan perzinahan [Mat 5:32]. Namun kehendak yang utama adalah keutuhan pernikahan dan bukan perceraian [Mat 19:8].

Posma Situmorang :
“Kel 4:4-5 [Tetapi Firman Yahweh kepada Mose, ulurkanlah tanganmu dan peganglah ekornya-Mose mengulurkan tangannya,ditangkapnya ular itu, lalu menjadi tongkat ditangannya-supaya mereka percaya, bahwa Yahweh,Elohim nenek moyang mereka, Elohim Abraham, Elohim Ishak, Elohim Yakub, telah menampakkan diri kepadamu]. Kel 4:6 [Lagi Firman Yahweh kepadanya..], Kel 4:10 [lalu kata Mose kepada Yahweh…],Kel 6:1 [Selanjutnya berfirmanlah Elohim kepada Mose-Akulah Yahweh, Aku telah menampakkan diri kepada Abraham…], Kel 31:18 [Dan Yahweh memberikan kepada Mose ,setelah ia selesi berbicara dengan dia di Gunung Sinai, kedua loh hukum Elohim, loh batu yang ditulisi jari Elohim.

Jelaslah, Mose, penulis Kitab Keluaran, yakin benar ia berhadapan muka dengan Yang Maha pencipta [YMP] yang dikenalnya dengan nama Yahweh, dicatatnya dalam empat huruf : YHWH [Kel 3:14] diterjemahkan sebagai Aku Ada Yang Aku Ada.

Namun keyakinan Mose disanggah oleh Rasul-rasul Perjanjian Baru…,Kis 7:53 [Kamu telah menerima hukum Taurat yang disampaikan oleh malaikat-malaikat, tetapi kamu tidak menurutinya…], Gal 3:19 [Kalau demikian, apakah maksudnya hukum Taurat ? Ia ditambahkan oleh karena pelanggaran-pelanggaran-sampai datang keturunan yang dimaksud oleh janji itu-dan ia disampaikan oleh perantaraan malaikat-malaikat ke dalam tangan seorang pengantara], Yoh 1:18 [Tidak seorangpun yang pernah melihat Theos [YMP], tetapi..].

Para Rasul Perjanjian Baru menyanggah keyakinan Musa, mereka memberitahu bahwa Yahweh hanyalah sekedar malaikat, suruhan YMP. Sebagian pembaca tentu berpikir,’pihak mana yang benar?’ lalu mulai membaca dan membahas dengan teliti isi kitab-kitab, untuk mencari pihak mana yang benar…Sebagai orang kecil, saya lebih suka menawan segala pikiran dan menaklukannya kepada Kristus!” [hal 2-3].

Tanggapan :
Sikap mengkonfrontasikan Perjanjian Baru dengan Perjanjian Lama, merupakan gema ajaran Marcion. Perjanjian Baru seolah-olah lebih superior dari Perjanjian Lama.

Penulis Perjanjian Baru bukan menyanggah Musa [sebuah gagasan dan penyimpulan yang aneh dan naif]. Para penulis Perjanjian Baru sedang mengutip tafsir para Rabbi mengenai ‘Eshdat Lamo’. Dalam Ulangan 33:2-3 disebutkan,’wa yomer Yahweh, mi Shinai ba we zarakh mi Sheir lamo hoviya me har Paran we atta merivot qodesh miymiyno eshadat lamo’. Kohlenberger menerjemahkan ‘Eshdat Lamo’ sebagai ‘Mountain Slope’ [lereng gunung] dalam The Interlinear NIV Hebrew English Old Testament [f21].

Sementara Jay Green menerjemahkannya dengan,’at His Right hand a law of fire for them’[f22]. Komentator Yahudi menerjemahkan ‘Eshdat Lamo’ sebagai ‘was a fiery law’[ api yang menyala-nyala ]. Sementara teks Septuaginta Perjanjian Lama menuliskan,’ at his right hand were his angels with him’ [pada tangan kananNya malaikat-malaikat bersamaNya].

Gagasan mengenai malaikat-malaikat sebagai perantara turunnya Torah telah tersebar dikalangan literatur dan diskusi Rabinnic. Dalam Exodus Rabbah 29:2 yang dikutip oleh Strack dan Billerbeck disebutkan demikian : [23]

“Rabbi Abdimi dari Haifa berkata, ‘Ada dua puluh dua ribu [malaikat-malaikat] turun bersama Elohim diatas Gunung Sinai, suara mereka terdengar, ‘kereta perang Elohim ada dua puluh ribu, beribu-ribu shin’an[malaikat-malaikat] –Mzm 68:17-18- malaikat-malaikat yang terpilih telah turun”.

Namun dalam Pesikta Rabbati 21:5 ada keragaman malaikat yang mengantarai Torah. Ada yang menyebutkan Mikael, ada yang menyebutkan Gabriel. Namun diakhiri dengan kalimat bahwa Yahweh sendiri yang secara langsung memberikan TorahNya kepada anak-anak Israel.

Dengan latar belakang sejarah diatas, kita berkesimpulan bahwa para Rasul Perjanjian Baru sedang mengutip kisah yang berkembang diantara para rabi Yahudi mengenai perantara turunnya Torah.

DR. David Stern menegaskan bahwa makna ayat-ayat ini [Kis 7:53, Gal 3:19, Ibr 2:2] sebagai,’…emphasizes that even though the Torah came through supernatural mediation…his hearers, who are sitting in judgement of him, have no kept it’[f24]. Dengan kata lain, para rasul sedang mengutip komentar para rabbi mengenai malaikat sebagai perantara turunnya Torah, yang tidak mereka pelihara dengan baik.

Mengenai Yoh 1:18 dikonfrontasikan dengan Kel 6:1 dan Kel 31:18 merupakan contoh kenaifan yang dilakukan oleh orang yang mengaku menjadi murid Yahshua [Yesus] yang notabene Yahshua sendiri mengakui otoritas tulisan Musa yang dikenal sebagai Torah.

Meskipun dalam sejumlah ayat dalam Perjanjian Lama tertulis ‘melihat Elohim muka dengan muka’, namun pengertiannya bukan seperti Teguh Hindarto melihat wajah dan badan Posma Situmorang. Karena Elohim itu Roh adanya [Yoh 4:24]. Ketika orang Israel bertemu Elohim Yahweh di Sinai, mereka hanya melihat kemuliaan dan kebesaranNya dalam bentuk guntur, api dan asap [Kel 20:18], sebab tidak ada seorangpun yang dapat melihat Yahweh, karena pasti akan mati[Kel 19:21]. Musa memang disebut sebagai nabi yang berhadapan muka dengan Yahweh[Ul 34:10], namun pengertian berhadapan muka disini adalah ‘secara langsung melihat kemuliaan yang mengelilingi Sang Pencipta, dalam bentuk awan,api,guntur, suara menggelegar, asap’[Bil 14:14, Ul 5:24, Kel 20:21]. Tidak ada indikasi bahwa Musa melihat wajah Elohim yang asli. Musa melihat kemuliaanNya secara langsung, bukan lewat mimpi dan penglihatan. Itulah arti ‘panim al panim’ [berhadap-hadapan muka].

Saya melihat upaya yang dilakukan dalam tulisan Bpk. Posma Situmorang bukanlah ‘menawan segala pikiran dan menaklukkannya kepada Sang Mashiah’ , melainkan ‘menjadikan pikirannya sendiri tertawan oleh konsep yang diyakininya sebagai kebenaran’.

Posma Situmorang :
“Yesus menyebut YMP dengan ‘BapaKu…’[sah-sah saja jika Yesus tidak pernah menyeru Yahweh, bahwa Yesus tidak sepakat dengan Musa, seperti ditunjukkan pada Bab 1]. Yesus tidak mengajarkan bahwa Yahweh adalah YMP[Sebab Yesus mau mengajarkan kebenaran mengenai YMP]. Yesus tidak pernah katakan,’Aku diutus oleh Yahweh[banyak orang kristen beranggapan bahwa Yesus adalah utusan Yahweh, karena bulat-bulat menerima ‘claim Musa’: Yahweh adalah YMP]. Yoh 7:28 [waktu Yesus mengajar di Bait Theos, Ia berseru:’memang Aku kamu kenal dan kamu tahu darimana asalKu, namun Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, tetapi Aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal]. Yesus diutus oleh Dia yang tidak dikenal oleh orang-orang yahudi. Berarti Yesus tidak mengakui diutus oleh yahweh, tidak juga diutus Elohim,dll. Yang orang-orang Yahudi sudah kenal!. Berarti Yesus mengaku bahwa Ia diutus oleh YMP, yang tidak dikenal oleh orang-orang Yahudi”[hal 3-4].

Tanggapan :
Gema ajaran Marcion nampak dalam pernyataan bahwa Yahshua diutus oleh Sesembahan yang tidak dikenal oleh orang Yahudi. Kita akan uji pernyataan dangkal ini.

Yahshua menyebut Bapa, tidaklah menjadi alasan bagi kita bahwa Yahshua tidak ada hubunganNya dengan Yahweh. Yang menjadi pertanyaan adalah SIAPAKAH NAMA BAPA itu ?. Dalam Yesaya 64:8 dikatakan,’we atta Yahweh Abinu…’ [dan Engkaulah Yahweh Bapa kami]. Dalam Amsal 30:4 dikatakan,’Siapakah yang naik ke sorga lalu turun?, siapakah yang telah mengumpulkan angin dalam genggamanNya?, siapakah yang telah membungkus air dengan kain?, siapakah yang telah menetapkan segala ujung bumi?, siapakah namanya dan siapakah nama anaknya? [ma shemo uma shem beno],engkau tentu tahu![Ams 30:4].

Dari eksposisi diatas kita dengan yakin bahwa Bapa Sorgawi, Sang Pencipta adalah Yahweh. Siapa Putera Bapa Yahweh itu ?. Yahshua mengklaim diriNya adalah Putera Bapa Surgawi [Yoh 5:24, Yoh 14:6]. Yahshua datang dan keluar dari Bapa [Yoh 8:42], Bapa dan Putera adalah satu hakikat [Yoh 10:30]. Barangsiapa melihat Putera, telah melihat hakikat Bapa[Yoh 14:9]. Hakikat Ontologis Yahshua adalah Sang Firman[Yoh 1:1]. Firman itu kekal dan tidak diciptakan, karena Firman itu perantaraan terciptanya segala sesuatu[Mzm 32:6,9, Ibr 1:1-4, Yoh 1:3]. Firman itu telah menjadi manusia[Yoh 1:14] mengampil rupa manusia[ Fil 2:7]. Nama Sang Firman Yahweh yang menjadi manusia adalah Yahshua [Yeshua, Yesus, Mat 1:21] yang digelari Putera Elohim atau Putera Yahweh[Yoh 1:18].

Dalam seluruh teks Perjanjian Baru berbahasa Yunani, nama Yahweh diganti menjadi KURIOS. Namun dalam naskah Ibrani Aram, versi Shem Tob, Du Tillet, Munster, Crawford, ditulis Yahweh atau MarYah. Selain itu, dalam setiap naskah Perjanjian Baru, nama Yahweh dipakai kata ganti Elohim atau Theos, Ab atau Patros. Setiap kata itu muncul, maksudnya adalah Yahweh. Orang Yahudi post exilic dari babilon biasa menyebut Yahweh dengan sebutan Adonai [Kurios], Elooah atau Elohim[Theos] dan Ab [Patros]. Yahshua menyingkapkan nama Yahweh [Yoh 17:6].

Apa arti orang-orang Yahudi ‘tidak mengenal Bapa?’. Apakah orang Yahudi tidak mengenal dalam pengertian Teguh Hindarto tidak mengenal Posma Situmorang karena belum pernah bertemu dan berkenalan?. Bukan!. Arti tidak mengenal disini bermakna bahwa ‘orang Yahudi menolak kehadiran Yahshua yang datang dari hakikat Bapa.’, Penolakkan ini disebabkan mereka tidak tinggal dalam FirmanNya.

Orang yahudi mengklaim bahwa Abraham adalah bapa mereka [Yoh 8: 39]. Tapi Yahshua mengatakan, jika Abraham adalah bapa mereka, seharusnya mereka menerima kehadiran diriNya karena Abraham melakukan pekerjaan yang dilakukan Tuhannya[Yoh 8:39-40]. Orang Yahudi mengklaim bahwa Elohim[Yahweh] adalah Bapa mereka[Yoh 8:41], tapi Yahshua mengatakan jika mereka mengakui bahwa Yahweh adalah Bapa mereka, seharusnya mereka percaya pada diriNya, karena diriNya datang dan keluar dari bapa [Yoh 8:42].

Yang menjadi persoalan adalah, orang-orang Yahudi tidak mengerti ucapan Yahshua[Yoh 8:43], ketidak mengertian ini karena Bapa mereka bukanlah Elohim tapi Iblis, karena mereka menuruti Iblis [Yoh 8:44]. Dari eksposisi diatas, kita dapat melihat bahwa pengertian ‘tidak mengenal Bapa’ yang diucapkan Yahshua bermakna ‘orang-orang Yahudi yang mengklaim mengenal Bapa dan tinggal dalam FirmanNya, namun dengan perbuatan mereka, menunjukkan bahwa mereka sebenarnya tidak mengenal, baik Bapa maupun Putera’. Ini sama halnya dengan orang yang mengaku sebagai kristen, pengikut Yahshua, namun dengan perbuatan mereka [mencuri,berzinah,menipu,dll], menunjukkan bahwa mereka tidak mengenal Yahshua.

Posma Situmorang :
“Akibat tidak menaklukan pikiran mereka kepada Kristus, ada saja ahli pikir yang menggangap bahwa ‘Yahshua adalah Anak Yahweh’ atau ‘Yesus diutus oleh Yahweh’ atau ‘Yesus pernah tampil dalam zaman Perjanjian Lama sebagai Yahweh’. Semuanya dinyatakan keliru oleh Yesus sendiri. Cara yang sah untuk membandingkan dua tokoh adalah dengan membandingkan :1. Berkat-berkat yang dijanjikan masing-masing tokoh. 2. Cara-cara bergaul yang ditetapkan oleh masing-masing tokoh. 3. Otoritas masing-masing tokoh, beserta izin penggunaan otoritas itu [jika ada].

Bandingkan Kejadian 12:1-3 [janji berkat Yahweh kepada Israel adalah kelimpahan yang bersifat materil] dengan Yohanes 10:10 [janji Yahshua mengenai hidup kekal] dan Yohanes 14:27 [janji Yahshua mengenai damai sejahtera sejati].

Apakah pembaca perhatikan bahwa janji berkat dari yahweh sekedar mencakup kehidupan didunia ini ?…namun Yahweh tidak menjanjikan hidup kekal seperti yang dijanjikan oleh Yesus”[hal 4-6].

Tanggapan :
Apakah Adam,Abraham,Musa,Yakub,Daud,dan tokoh-tokoh Kitab Suci belum menerima kehidupan kekal ?. Mereka telah menerimanya.Konsep keselamatan atau hidup kekal dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru bukan tidak sinkron namun berbeda dalam pelaksanaannya.

Torah yang diberikan Yahweh, jika dilaksanakan akan mendatangkan berkat,damai,kesehatan,kebahagiaan, kecerdasan bahkan kehidupan atau usia panjang [Ul 28:1-14]. Untuk menerima kehidupan kekal, seseorang harus hidup oleh iman [Hab 2:4]dan mengaplikasikan iman itu dalam perbuatan yang diatur oleh Torah. Rasul Paul mengatakan :’Ia akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu HIDUP KEKAL kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan…karena bukanlah orang yang mendengar Torah yang benar dihadapan Elohim tetapi orang yang melakukan Torahlah yang dibenarkan’[Rm 2:6-7,13]. Rasul Paul menghubungkan Hidup Kekal dengan pelaksanaan Torah yang didasarkan Iman.

Torah memang tidak bisa mengubah hati seseorang yang berdosa. Torah memang bukan dasar untuk beroleh keselamatan dan hidup kekal. Hanya iman kepada Mashiah yang dijanjikan dan yang telah datang, yaitu Yahshua, maka seseorang menerima kehidupan kekal [Rm 4:1-8]. Yang dikecam oleh Yahshua dan Rasul Paulus adalah PENAFSIRAN YANG KELIRU terhadap Torah dan PRAKTEK LEGALISME sebagai dasar beroleh kehidupan kekal. Orang yang bermegah dengan perbuatannya melakukan Torah secara legalisme, maka dia tidak broleh pembenaran dihadapan Tuhan [Rm 3:20]. Namun Torah menolong kita untuk hidup kudus,terkendali,sehat,tertib karena berbagai peraturan yang tertulis didalamnya untuk kebaikkan kita.

Posma Situmorang :
“Bandingkan cara bergaul dengan YEHOVAH dirumuskan dan dilaksanakan melalui perantaraan nabi-nabi, imam-imam,dalam skala kecil dengan Yohanes 15:4-5, dimana umat dapat langsung datang pada sesembahan mereka. Jelas sekali cara bergaul yang ditetapkan oleh Yahshua jauh lebih unggul. Umat dapat bergaul langsung dengan sesembahan. Nabi dan pengantara lainnya tidak diperlukan lagi. Mulialah Yesus Kristus!”[hal 7]

Tanggapan :
Kita harus menyadari bahwa perbedaan kualitas Yahweh bergaul dengan umatNya didalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru,bukan untuk dikonfrontasikan lalu disimpulkan bahwa kedua kenyataan ini merupakan perbedaan eksistensil Tuhan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru

Elohim Yahweh memilih sebuah bangsa untuk melahirkan Mashiah [Mik 5:1,Yes 7:14,Yes 9:5]. Mashiah ini diutus kepada domba-domba Israel. Sebagai persiapan munculnya Mashiah, Elohim Yahweh menururnkan Torah [Ajaran] untuk menjaga kehidupan mereka kudus sampai Mashiah datang[Ibr 10:1]. Torah mengatur pola berinteraksi umat dengan ElohimNya harus melalui imam atau nabi. Namun kelak saat Mashiah datang, dan terjadinya pembaharuan perjanjian, maka terjadilah pembaharuan pola berinteraksi dengan Elohim. Terjadi pembaharuan keimamatan. Kita datang melalui imamat Malkisedek [yaitu Yahshua] dan bukan imamat Lewi [yang ditandai dengan korban darah domba]. Kita tetap datang kepada Elohim secara pribadi dengan pengantara. Namun pengantara yang bukan diatur dengan sistem imamat lewi melainkan imamat Melkisedek[Ibr 7:11]. Dialah pengantara perjanjian baru yaitu Yahshua[Ibr 9:15] yang telah mengorbankan diriNya[Ibr 9:12]. Pola ibadah Perjanjian Lama adalah bayangan[Kol 2:16] dan penuntun[Gal 3:24] dan wujudnya adalah Yahshua. Mengkonfrontasikan pola ibadah atau cara Tuhan berinteraksi dengan umatNya dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Ba, merupakan kegagalan melihat secara holistik hubungan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Posma Situmorang :
“Baca Mat 28:18, Yoh 6:63,Mat 24:35, Mat 10:8, Yoh 11:25,Mat 5:21-22, Mat 5:27-28, Mat 5:33-37, Mat 5:32,39,34. Jelaslah bahwa Yesus mengajarkan nilai moral yang paling luhur dari semua pemimpin spirituil yang pernah tampil didunia…orang yang bijaksana tentu memilih SEMBAHAN yang paling menjanjikan berkat, untuk disembah dan dilayani, seraya menolak sembahan lainnya: TERPUJILAH YESUS KRISTUS!”[hal 8-9].

Tanggapan :
Jika Nestorianisme gagal memahami sisi Ketuhanan Yahshua, sementara itu Cyrilianisme gagal memahami sisi kemanusiaan Yahshua, hingga pertikaian kedua paham itu harus diselesaikan di Konsili Chalcedon [th 451] yang menghasilkan keputusan : ‘Tabiat Yahshua antara yang Ilahi dengan manusiawi tidak bercampur dan tidak berubah[menentang ajaran Cyrilius]. Namun demikian tabiatNya tidak terbagi dan tidak terpisah[menentang ajaran Nestorius] [f25]. Maka Marcionisme gagal memahami relasi Ontologis antara Yahweh sebagai Elohim dan Bapa Surgawi dan Yahshua sebagai Sang Putera,yaitu FirmanNya yang keluar dari hakikat diriNya. Kegagalan memahami relasi ontologis ini tercermin dalam kutipan-kutipan ayat-ayat diatas[tidak perlu ditanggapi mendetail, karena sebagian dari gagasan tersebut telah diulas dibagian sebelumnya] yang hendak menggiring opini para pembaca Kitab Suci untuk meyakini bahwa Yahshua adalah tokoh Ilahi dan historis yang tidak terhubung dengan Yahweh dalam Perjanjian Lama.

Posma Situmorang :
“Tentu para rasul mengerti sungguh siapa Yesus, sehingga Liturgi Pembaptisan yang mereka lakukan tidak melibatkan nama Yahweh. Baca Kis 19:4-5, Kis 26:5, Kis 2:38, Kis 8:16”[hal 9-10]

Tanggapan :
Yang harus diketahui, bahwa Ada dua formula baptisan yang disaksikan oleh Kitab Perjanjian Baru. Formula Umum dan Formula Teknis. Formula Umum terdapat dalam Matius 28:19-20. Sementara Formula Teknis terdapat dalam Kis 19:4-5, Kis 26:5,dll.

Kebanyakan Kitab Suci menerjemahkan Matius 28:19-20 demikian :’..dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus’[baptizontes hautous eis to onoma tou Patros kai tou huiou kai tou hagiou pneumatos]. Kata ‘EIS’ kebanyakan diterjemahkan ‘DALAM’ atau ‘IN’. Namun tidak semua setuju dengan penerjemahan pola demikian. Jay Green dalam The Interlinear Hebrew,Greek and English, menerjemahkan dengan ‘INTO’[kedalam]. Demikian juga The Kingdom Interlinear Translation of the Greek Scriptures dari The Hort & Westcott25. Jadi, terjemahan yang lebih proper adalah,’baptislah mereka kedalam nama Bapa, melalui PuteraNya, melalui Roh KudusNya. Siapa nama Bapa itu ? Yahweh!. Formula ini adalah petunjuk umum pembaptisan. Perintah yang bersifat filosofis. Sementara secara teknis, pembaptisan dilakukan didalam nama Yahshua[Yeshua,Yesus],karena otoritas Yahweh telah diberikan pada Yahshua[Mat 28:19-20]. Yahshua adalah perantara berkat dan keselamatan Yahweh kepada siapapun yang percaya.

Pembaptisan atas nama Yahshua tidak membuktikan bahwa Yahshua lebih superior dari Yahweh, melainkan Yahweh telah mendelegasikan kepada Sang Firman,PuteraNya, Yahshua, segala kuasa dilangit maupun dibumi.


Footnote:
  • [f21] : Zonderfan Publishing House, 1987, p.583
  • [f22] : The Interlinear Hebrew,Greek and English, The Trinitarian Bible Society, London, 1980, p. 185
  • [f23] : Commentary on The New Testament from the Talmud and Midrash, Munich : C. H. Beck’sche, 1975
  • [f24] : Jewish New Testament Commentary, JNTP, 1992,p.247
  • [f25] : DR. Dieter Becker, Pedoman Dogmatika, BPK 1993, hal 117



Pdt. Teguh Hindarto, MTh
Nafiri Yahshua Ministry
KEBUMEN
JAWA TENGAH - INDONESIA
 

Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com

--- ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.
©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com