(redaksi1@yabina.org)
Redaksi YABINA:
Sekarang, bahasa apakah yang digunakan oleh Petrus? Kemungkinan Petrus sehari-hari berbahasa dua, Aram sebagai bahasa ibu dan Yunani sebagai bahasa umum, bahasa Aram karena sejak Ezra (abad VI SM) rakyat yahudi sudah tidak mengerti bahasa Ibrani sehingga diterjemahkan ke bahasa Aram (Neh.8:9) dan sejak itu bahasa Ibrani mati sebagai bahasa percakapan dan Aram menjadi bahasa ibu yahudi palestina, dan Kitab Suci Ibrani (Tanakh/PL) diterjemahkan bebas ke bahasa Aram dalam bentuk Targum. Kemungkinan kedua bahasa Yunani karena sejak abad IV SM, kawasan itu dikuasai Yunani dan bahasa Yunani (koine) menjadi bahasa percakapan regional, bahkan Tanakh diterjemahkan ke bahasa Yunani (Septuaginta/ LXX, abad III-II SM. Kutipan PL dalam PB umumnya dari LXX) karena umumnya orang yahudi sudah tidak mengerti bahasa Ibrani, dan bahasa Ibrani hanya hidup di kalangan Para Rabbi yang tetap melestarikan Tanakh ke dalam salinan-salinan. Namun karena ayat (7) menyebutkan: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea?” tentulah yang digunakan Petrus dalam kotbahnya bukan bahasa regional Yunani melainkan bahasa lokal Aram, dimana ia banyak menyebut istilah ‘elah/alaha’ dan ditulis Lukas sebagai ‘theos.’ Yesus sendiri di kayu salib berseru ‘Elohi’ dalam bahasa Aram.
Tanggapan Shem Tov:
Benarkah Petrus dan rasul-rasul lain hanya mengerti bahasa Aramaik dan Yunani? Pemahaman ini masih dipengaruhi kuat bahwa bahasa Ibrani hanyalah bahasa pinjaman dan evolusi akhir dari bahasa Aramaik dan bahasa Ibrani telah mati sejak orang Yahudi pulang dari Babilonia. Untuk menanggapi pernyataan tersebut, mari kita perhatikan beberapa data berikut:
“Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tu(h)an kita berasal dari suku Yah(u)da dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam” (Ibr 7:14)
“…tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Shaul, Shaul, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang galah”(Kis 26:13-14)
“Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya:…”(Kis 21:40)
Dari pemaparan tiga ayat tersebut, kita mendapatkan beberapa data dan fakta bahwa Yahshua secara antropologis (dari sisi kemanusiaan) lahir dari suku Yahuda yang berbahasa Ibrani. Dan Ketika dia berbicara pada Shaul setelah kenaikan-Nya ke Sorga, Dia berbicara padanya dalam bahasa Ibrani. Demikian pula Shaul berbicara dengan bahasa Ibrani. Frasa “bahasa Ibrani” dalam Kisah Rasul 21:40 dan 26:14 dalam naskah Kitab Perjanjian Baru, dituliskan “Ebraidi Dialekto” dan dalam naskah Peshitta (Perjanjian Baru bahasa Aramaik) disebut “E’braita”
Apa yang dimaksud dengan “Ebraidi Dialekto” itu? …………..
Baca Selengkapnya