Kamis, 09 September 2010  |  
Aku (YAHWEH) telah mendengar apa yang dikatakan oleh para nabi, yang bernubuat palsu demi nama-Ku dengan mengatakan bahwa mereka (para nabi palsu atau para pemimpin politik dan agama) telah bermimpi dan bahkan bermimpi lagi. Sampai berapa lama lagi hal itu akan berada dalam hati para nabi yang bernubuat palsu dan yang menubuatkan tipu rekaan hari mereka sendiri, dan yang merancang membuat umat-Ku melupakan nama-Ku dengan mimpi-mimpi mereka yang mereka ceritakan seorang kepada seorang, sama seperti nenek moyang mereka melupakan nama-Ku oleh karena Baal? (Yer 23:25-27)
    ARTIKEL DETIL
09-07-2007
Akar Penopang Seri 11: BAGAIMANA MENGAKTUALISASIKAN PEMAHAMAN KEMBALI KE AKAR IBRANI?
 
 
Meskipun kembali ke akar iman bukan bermakna “menjadi Yahudi” dan sejenisnya, namun pemahaman tentang “Keyahudian” atau “Keisraelan” dan berbagai ekspresi ibadah, pengajaran serta tradisi-tradisi mereka, perlu dipelajari dalam terang kehadiran Yahshua Ha Mashiah. Hasil pemahaman mengenai “kembali ke akar Ibrani”, perlu diaktualisasikan dalam berbagai bidang penghayatan Kristiani. Berikut beberapa bentuk aktualisasi pemahaman kembali ke akar Ibrani dalam kehidupan iman Kristiani:

Dalam Ibadah [Avodah]


Merekonstruksi kembali tata ibadah pengikut Mesias yang berakar pada keyahudian dan menerapkan secara kontekstual yaitu, sabat, tefilah shakharit-minhah-maariv, tujuh hari raya, dll. Sejarah mencatat bahwa Yahshua dan para rasul tidak pernah memerintahkan mengganti sabat dengan ibadah minggu. Kaisar Konstantin yang pertama kali menggagas untuk memindahkan ibadah sabat menjadi minggu, ketika Kekristenan berhasil dijadikan agama negara.

“Kahal Yahweh” [Gereja] perlu untuk mengembalikan sabat Yahweh karena sabat merupakan penetapan Yahweh sendiri. Berbagai gereja di berbagai belahan dunia, telah menyadari pentingnya sabat dan mulai memelihara sabat dan menguduskannya dalam bentuk peribadahan. Mengenai sabat akan diperdalam dalam bab berikutnya dari tulisan ini. Doa harian tiga kali sehari, yaitu Shakharit, Minha dan Maariv yang telah dilaksanakan sejak masa Daud [Mzm 55:17], Daniel [Dan 6:11], Ezra [Ezr 9:5] sebagai bentuk doa harian yang merujuk pada pola mempersembahkan korban di Bait Suci yang dilaksanakan tiga kali sehari [Kel 29:38-42, Bil 28:1-8, 2 Raj 16:15, 1 Taw 16:40]. Meskipun ada beberapa penulis yang tidak menyetujui bahwa Yahshua melakukan praktek doa harian tiga kali sehari, sebagaimana diterangkan oleh Rashid Rahman, demikian:

“Sejauh ini sulit membuktikan secara eksplisit bahwa [Yahshua] melakukan tiga kali berdoa sehari sebagaimana pola Farisi…Rupanya pola ibadah harian yang [Yahshua] lakukan mengikuti langsung ibadah Yudaisme pola Eseni: Shema dan Terapeutik, yakni pola tradisonal dari kaum leluhur: Patrious [Mrk 12:26] dan monastik Yahudi”(f1).

Namun beberapa ayat memberikan indikasi bahwa Yahshua melakukan pola tersebut [Mrk 1:35, Mrk 6:46, Luk 6:12].
Demikian pula para rasul meneruskan tradisi Tefilah Shakharit, Minha dan Maariv, sebagaimana dilaporkan bahwa Petrus dan Yohanes masuk ke Bait Suci untuk beribadah pada jam ke sembilan [jam 15.00 WIB, Kis 3:1], lalu Petrus berdoa di Yope pada jam keenam [jam 12.00 WIB, Kis 10:9].Gereja perlu memulihkan kembali pola ibadah tiga kali sehari ini untuk menghubungkan dirinya dengan akar ibadah Yudaisme yang menjadi latar belakang ibadah Mesias dan murid-murid-Nya.

Demikian pula dengan keberadaan hari-hari raya. Dalam Imamat 23:1-44 Yahweh menegaskan ada tujuh hari raya Israel. Ketujuh hari raya tersebut memiliki makna berlapis. Disatu sisi itu merupakan pesta panen. Disisi lain berhubungan dengan tindakan Yahweh yang telah menyelamatkan Israel dari perbudakan Mesir sampai peringatan penyertaan Yahweh dipadang gurun, melalui simbol-simbol ibadah dalam ketujuh hari raya tersebut. Namun Gereja di Abad ke-2 Ms dan seterusnya kehilangan akar perayaan ini dan menggantikannya dengan ibadah yang tidak firmaniah seperti “Christmass” yang dirayakan pada setiap 25 Desember dan “Easter” sebagai pengganti Paskah. Dalam berbagai kajian telah dibuktikan bahwa Christmass tanggal 25 Desember merupakan bentuk peribadahan yang berakar dari perayaan paganistik, yaitu penyembahan pada dewa “Sol Invictus” . Sementara Easter merupakan perayaan paganistik di musim semi. Uraian mengenai hari raya dan berbagai hari raya pengganti, akan diuraikan secara tersendiri dalam bagian tulisan ini. Gereja perlu untuk memulihkan tujuh hari raya yang ditetapkan Yahweh sendiri. Secara prophetik, tujuh hari raya tersebut bukan hanya menunjuk pada suatu peristiwa historis antara Israel dan Yahweh namun menunjuk pada Mesias yang akan datang, yaitu menunjuk pada kehidupan dan karya Sang Mesias dari sejak kelahiran, kematian, kebangkitan, kenaikan ke Sorga hingga kedatanganNya yang kedua.

Dalam Pokok-pokok Iman [Emunah]

Merekonstruksi kembali pokok-pokok ajaran pengikut Mesias yang berakar pada keyahudian dan menerapkan secara kontekstual [Keesaan Tuhan, Nama Tuhan, Hakikat Mesias, Baptisan, Sorga, Neraka, Setan, Malaikat,dll.]. Gereja diawal pertumbuhannya tidak pernah merumuskan istilah “Tritunggal”. Sebagaimana Yudaisme yang mendasarkan pada keesaan Elohim sebagaimana diperintahkan dalam Ulangan 6:4-5, demikianlah Mesias melafalkan “Shema” ketika ditanya oleh para ahli Taurat mengenai hukum yang terutama [Mrk 12:29]. Tidak ditolak bahwa didalam tulisan Perjanjian Baru tersebar formula sebutan “Bapa”, “Putra” dan “Roh Kudus” sebagaimana menjadi warna dari keseluruhan tulisan Rasul Paul, namun para rasul, termasuk Rasul Paul tidak pernah menyebutkan istilah Tritunggal. Sebaliknya, para rasul selalu menyebutkan Elohim sebagai Esa [Yoh 17:3, Yoh 5:44, 1 Kor 8:5-6, 1 Tim 2:5] meskipun serentak menyebut baik Bapa, Putra dan Roh Kudus. Secara historis, istilah Tritunggal merupakan rumusan Tertulianus [166-220 Ms] yang dimaknai “Una Substantia Tres Persona”[lat] atau “Mono Ousia Tres Hypostasis” [Yun] artinya “Satu Keberadaan yang memiliki tiga pribadi”. Diskusi mengenai irelevansi terminologi Tritunggal akan pula dibahas secara terpisah dalam tulisan ini. Demikianpula dengan eksistensi nama Yahweh yang tertulis sebanyak kurang lebih 6000 kali dalam TaNaKh dan kurang lebih 210 dalam Besorah [Injil], perlu mendapatkan tempat dan pengkajian yang serius serta diaplikasikan dalam penerjemahan Kitab Suci, tata ibadah, nyanyian, khotbah dan berbagai kajian kerohanian.

Dalam Etika [Halakhah]

Merekonstruksi kembali pokok-pokok etika pengikut Mesias yang berakar pada keyahudian dan menerapkan secara kontekstual [etika sosial, etika politik, etika rumah tangga, etika ekonomi, etika pendidikan, etika kesehatan, dll]. Halakhah Yudaisme yang didasarkan pada pernyataan para rabbi yang hidup diberbagai abad, menjadi salah satu sumber informasi dalam mengambil berbagai keputusan sosial, ekonomi, pemerintahan yang didasarkan pada Torah Yahweh. Di satu sisi, surat-surat rasul Paul, bisa juga dianggap menjadi rujukan halakhah mesianik di abad 1 Ms [walaupun bukan ini satu-satunya definisi yang tepat], maka umat pengikut Mesias perlu menggembangkan berbagai kajian dibidang sosial, ekonomi, politik, kebudayaan yang merupakan berbagai kumpulan tafsir dan pemahaman yang didasarkan pada TaNaKh maupun Besorah.

Dalam Teologi [Elohut]
Mempelajari pola penafsiran Hebraic Rabbinik


Ada banyak metode dalam melakukan proses penafsiran Kitab Suci [Hermeneutik] yang diajarkan dalam berbagai sekolah teologia. Pdt. Hasan Sutanto, MTh. Memberikan bentangan informatif mengenai beragam metode tafsir yang terbentang dari sejak zaman Ezra, Rabbinik sampai abad modern(f2). Secara umum, berbagai metode tafsir yang saat ini masih diberlakukan di berbagai sekolah teologia adalah:(f3)

- Textual Criticsm [Menyelidiki kata-kata asli atau dalam teks Kitab Suci]
- Historical Criticsm [Menyelidiki latar belakang dan konteks dimana Kitab Suci dituliskan]
- Grammatical Criticsm [Menyelidiki struktur bahasa yang meliputi tata bahasa, dalam teks Kitab Suci]
- Literary Criticsm [Menyelidiki susunan, struktur, gaya bercerita suatu teks dalam Kitab Suci]
- Form Criticsm [Menyelidiki gaya sastra dan fungsi suatu teks dalam Kitab Suci]
- Tradition Criticsm [Menyelidiki tahapan penyusunan suatu teks dalam Kitab Suci]
- Redaction Criticsm [Menyelidiki sudut pandang akhir dan kanonik serta teologi dalam suatu teks Kitab Suci]
Tidak ada satupun metode-metode tersebut yang sempurna. Maka dengan melakukan sintesa diantara berbagai metode penafsiran, akan dihasilkan sudut pandangan atau penafsiran yang mendekati kesempurnaan. Metode-metode diatas tidak perlu dibuang dan ditiadakan dikarenakan semata-mata dipengaruhi pola pikir Helenis yang rasionalistik,namun perlu disintesakan dengan pola penafsiran hebraic yang telah dikerjakan sejak zaman rabbinik pra Mesias maupun dizaman Mesias. Pola Yahudi kuno memiliki sistem penafsiran Kitab Suci yang disebut PaRDeSh. Secara literal bermakna “taman” namun sebenarnya istilah tersebut merupakan akronim dari :(f4)

- Peshat [Menyelidiki teks yang tersurat]
- Remez [Menyelidiki makna yang tersembunyi dalam teks]
- Drash [Menyelidiki makna suatu perikop dalam kaitannya dengan khotbah, pengajaran, dll]
- Shod [Menyelidiki aspek gematria {angka-angka} yang tersembunyi dan mengandung pesan yang harus dipecahkan]

Yang tidak kalah menariknya adalah metode Hillel dalam menafsirkan yang terkenal dengan sebutan “Tujuh Aturan Hillel” yang terdiri dari :(f5)
- Qal wa Khomer [Berat dan Ringan]
- Gezerah shawah [Persamaan kalimat]
- Binyan ab mikatuv ehad [Membangun suatu pernyataan dari satu teks pendukung]
- Binyan ab mishene Kethuvim [Membangun suatu pernyataan dari satu atau lebih teks pendukung]
- Kelal u Ferat [Umum dan Khusus]
- Kayotse bo mimemom ahar [Analogi yang dibuat berdasarkan teks yang berbeda]
- Davar milmad ha anino [Penjelasan berdasarkan konteks teks]

Berbagai metode diatas dapat disintesakan sehingga menghasilkan pola penafsiran yang berakar pada keyahudian tanpa kehilangan warisan penafsiran yang telah dipelihara oleh berbagai sekolah teologi.

Mempelajari tradisi Rabbinik Yudaik,
untuk memahami latar belakang peristiwa,
ucapan, idiom Yudaik, dalam Kitab Perjanjian Baru

Dalam Kitab Perjanjian Baru, kita akan menemui sejumlah pernyataan atau kalimat yang asing ditelinga kita namun tidak asing jika didengar oleh orang Yahudi pada Abad 1 Ms, karena berbagai idiom khas tersebut menjadi bagian dari diskusi rabbinik. Sebagaimana kita dapat melihat dalam Matius 5:17-48 dimana Yahshua selalu membuat tanggapan terhadap pernyataan yang sebelumnya telah berlaku dengan berkata, “engkau telah mendengar” [shematem] namun aku berkata kepadamu [Ani omer attem,Heb. ]”.

Berbagai kalimat atau ungkapan khas Yahudi tersebut dinamakan idiom. Beberapa idiom Hebraic dalam Kitab Perjanjian Baru al, “mata baik dan mata buruk” [Mat 6:22-23], “mengikat dan melepas” [Mat 16:19], “letakkan kata-kata ini ditelingamu” [Luk 9:44], “membatalkan Torah dan menggenapi Torah” [Mat 5:17]. David Bivin & Roy Blizzard telah mengulas secara ilmiah mengenai temuan idiom-idiom hebraic yang tertulis dalam Kitab Perjanjian Baru. Kegagalan memahami makna idiom hebraic, mengakibatkan terjemahan yang keliru dan penafsiran teologi yang keliru(f6).

Memberi bobot secara proporsional
terhadap pengkajian kebahasaan,
baik bahasa Yunani maupun bahasa Ibrani


Dalam berbagai sekolah teologi, terkadang tekanan diberikan pada penguasaan bahasa Yunani daripada Ibrani. Hal ini disebabkan oleh adanya anggapan yang telah tersebar luas bahwa Kitab Perjanjian Baru mula-mula ditulis dalam bahasa Yunani. Maka diperlukan penguasaan terhadap bahasa Yunani untuk melakukan penafsiran terhadap teks. Tidak jarang terjadi, bahwa mata pelajaran bahasa Yunani dan Ibrani terkadang hanya menjadi mata pelajaran sekunder dan kurang mendapat perhatian seutuhnya, sehingga menghasilkan penguasaan materi yang sepenggal-sepenggal dan bersifat pasif. Kedua mata pelajaran bahasa Ibrani dan Yunani, mutlak dikuasai oleh mereka yang menggeluti dunia teologia. Tanpa penguasaan bahasa, kita akan gagal memahami maksud teks, idiom kalimat, sehingga mengakibatkan penafsiran yang menyimpang dari masud teks dan konteksnya.

Memperluas pengkajian sejarah Yudaik,
pada masa Intertestamental

Yang dimaksud dengan zaman atau masa Intertestamental adalah:

“zaman sepanjang empat ratus tahun antara maleakhi sampai kelahiran [Mesias]. Sumber-sumber informasi utama untuk zaman ini adalah kita-kitab Makabe yang menceritakan tentang pemberontakan yang dipimpin oleh wangsa Makabeus serta kekacauan yang terjadi di tanah Palestina waktu itu dan tulisan-tulisan Yosefus, sejarawan Yahudi abad pertama”(f7).

Mengapa penelitian dan pendalaman terhadap zaman Intertestamental ini diperlukan? Robert dan Remy Koch menjelaskan sbb:

“It is important for both Jews and Christians to understand the silent period between the last TaNaKh [Old Testament] Prophets and the writings of the Brit Chadasha [New Testament] because the five hundred year period formed the foundation of both modern Rabbinic Judaism and Messianic Judaism [the Nazarenes] of which Christianity is a branch. One truly cannotr comprehend the Brit Chadasha [New Testament] without knowing something about the time, religious customs and conroversies, social custom and attitudes of the Jewish population in general”(f8) [Adalah penting bagi kedua pihak, yakni kaum Yahudi dan Kristiani untuk memahami periode ‘kesunyian’ yang terentang dari akhir TaNaKh, nabi-nabi hingga penulisan Kitab Perjanjian Baru, sebab periode waktu lima ratus tahun ini, merupakan dsar terbentuknya baik Yudaisme Rabbinik modern maupun Mesianik Yudaisme, yang mana merupakan akar dari Kekristenan. Belumlah lengkap pemahaman seseorang mengenai Perjanjian Baru tanpa mengetahui sesuatu yang berkaitan dengan waktu, kebiasaan agama dan perdebatan-perdebatan, kebiasaan masyarakat dan berbagai sikap komunitas Yahudi secara umum pada waktu itu].

Selanjutnya Robert dan Remy Koch melanjutkan:

“By studyng this period, Jews and Christians will be able to discern the doctrine of the Messiah, Shaul [Paul] and the other writers of the Brit Chadasha [New Testament] based only on accurate understanding of history and Biblical Judaism. The Brit Chadasha will be put back into the original time and place. Context must determine content”(f9) [dengan mempelajari periode waktu ini, maka baik orang Yahudi maupun Kristiani akan mampu membedakan pengajaran Mesias, pengajaran Rasul Shaul {Paul} dan penulis Kitab Perjanjian Baru lainnya, yang didasarkan pada pemahaman yang tepat terhadap sejarah dan Yudaisme Biblikal. Kitab Perjanjian Baru akan diletakkan selayaknya pada ruang dan waktu yang mula-mula. Konteks akan menentukan isinya].

Meninjau ulang asumsi pembatalan Torah
di masa Perjanjian Baru

Meskipun Kekristenan pada umumnya tidak secara langsung menyebutkan telah membataalkan Torah, namun dari berbagai sikap yang ditunjukan, memperlihatkan sikap yang mengabaikan Torah dan mengganggapnya hanya sebagai era Musa yang telah kehilangan relevansi seutuhnya dizaman Yahshua. Kita dapat melihat berbagai kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang kristen seperti memakan hewan-hewan yang dikategorikan “tame” [kotor] sebagaimana diatur dalam Imamat 11. Demikian pula masih mengkonsumsi darah, hewan yang dimasak dari hasil mencekik dan menganiaya, sementara para rasul pun melarangnya [Kis 15:20]. Perilaku demikian disebabkan asumsi teologi yang sudah tertanam oleh berbagai pengajaran yang didasarkan pada berbagai terjemahan Kitab Suci yang buruk dan mengesankan bahwa Torah telah dibatalkan. Dalam bagian awal tulisan ini telah disinggung beberapa ayat yang diterjemahkan secara keliru sehingga mengakibatkan pemahaman teologi yang keliru.

Meninjau ulang asumsi peniadaan nama Yahweh,
dalam Kitab Perjanjian Lama dan Kitab Perjanjian Baru


Jika hanya mengacu pada naskah Kitab Perjanjian Baru versi Yunani yang tersedia, kita tidak mendapatkan nama Yahweh secara literal tertulis. Semua nama Yahweh yang dikutip dari Kitab Perjanjian Lama, oleh naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani didasarkan pada naskah Septuaginta yang telah mengganti nama Yahweh dengan sebutan Kurios dan bukan dari TaNaKh versi Masoretik maupun Dead Sea Scroll [Naskah Laut Mati] yang usianya lebih tua dari naskah Masoretik. Maka ketika Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani mengutip Kitab Perjanjian Lama akan menuliskannya dengan Kurios. Namun jika membaca naskah Perjanjian Baru versi Shem Tob, Du Tillet, Crawford, Munster, Old Syriac, Peshitta, nama Yahweh muncul dalam bentuk “MarYah” [ayrmd “Mar”=Tuan + “Yah”=Yahweh] dan hvhy serta yy. Dalam Hebraic New Testament Version, terjemahan DR. James Trimm, nama Yahweh muncul sebanyak 210 kali dalam naskah Kitab Perjanjian Baru. Berbagai terjemahan Kitab Suci yang telah memulihkan kembali penggunaan nama Yahweh dalam Kitab Perjanjian Baru al, The Scriptures, The Word of Yahweh, The Restoration Scriptures, The Sacred Bible, ha Brit ha Khadasha, dll. Terjemahan-terjemahan tersebut dapat menjadi rujukan dalam melakukan terjemahan alternatif non Lembaga Alkitab Indonesia.

KESIMPULAN

Eksposisi historis membuktikan bahwa gereja berakar pada Yudaisme dan melakukan praktek ibadah dengan latar belakang Yudaisme [sabat, moedim, tefilah,tsedaqah,dll]. Gereja tercabut dari akarnya sejak Abad 2 Ms dan mulai melepaskan diri dari Yudaisme. Tercabutnya gereja dari akar Yudaisme dipicu oleh sikap anti semit/anti Yahudi dikalangan bangsa Romawi kuno dan berimbas pada sikap penganut Kristen di Roma. Mulailah kita menemui berbagai ekspresi doktrin dan tata ibadah yang menjauh dari Yudaisme seperti ,kepercayaan terhadap Elohim yang disifatkan dengan sebutan Tritunggal, Ekaristi, Christmass, Easter, Sunday Worship,dll. Mengingat telah begitu jauh gereja meninggalkan akar keyahudiannya, maka diperlukan suatu upaya melakukan redefinisi dalam berbagai bidang, baik teologia, etika dan tata ibadah serta pokok-pokok iman. Redefinisi ini diistilahkan dengan “Back to the Hebraic root” . Untuk melakukan aplikasi perubahan, diperlukan pemahaman yang benar terhadap “kembali ke akar ibrani”. Tulisan ini telah menyediakan beberapa landasan epistemologis dan teologis sebagai bahan melakukan berbagai redefinisi dan rekonstruksi. Kiranya tulisan ini memberikan pencerahan dan mendorong untuk melakukan berbagai perubahan yang mendasar.

Footnote
(f) :
(f1) : Ibadah Harian Zaman Patristik, Tanggerang : Bintang Fajar, 2000, hal 30 (f2) : Hermeneutik : Prinsip & Metode Penafsiran Alkitab, Malang : SAAT, 1991, hal 29-110 (f3) : John H. Hayes & Carl R. Holladay, Biblical Exegesis: A Beginner’s Handbook, Atlanta: John Knox Press, 1982 (f4) : DR. James Trimm, PaRDeS: The Four Levels of Understanding the Scriptures, www.nazarene.net (f5) : The Seven Rules of Hillel, www.nazarene.net (f6) : Understanding the Difficult Words of Jesus, New Insight From a Hebraic Perspective, Destiny Image Publishers & Center for Judais-Christian Studies, 1994, p.81-128 (f7) : J.I. Packer dkk., Dunia Perjanjian Baru, Gandum Mas, 1993, hal 3 (f8) : Christianity: New Religion or Sect of Biblical Judaism?, Palm Beach Gardens, Florida: A Messenger Media Publication, p.89 (f9) : Ibid., p. 90-91



PDT. TEGUH HINDARTO, MTH.
NAFIRI YAHSHUA MINISTRY
PO. BOX 122
KEBUMEN 54300
JAWA TENGAH – INDONESIA
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- tguh ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com