Jumat, 10 September 2010  |  
Aku mau bersyukur kepada YAHWEH dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib; aku mau bersukaria di dalam Engkau; aku akan bermazmur bagi nama-Mu Yang Mahatinggi (Maz 9:2-3)
    ARTIKEL DETIL
20-07-2007
APAKAH KITAB PERJANJIAN BARU TIDAK MENULISKAN NAMA YAHWEH
 
 
Sebuah perntanyaan sinis dilontarkan oleh salah satu peserta seminar kepada saya demikian, “Apakah Anda dapat membuktikan bahwa dalam Kitab Perjanjian Baru ada tertulis nama Yahweh?” Sebelum masuk pada pembahasan terhadap pertanyaan tersebut, marilah kita mengetahui terlebih dahulu, dalam bahasa apakah Yahshua dan para rasul berbicara dan menyampaikan berbagai pengajarannya. Mari kita perhatikan beberapa data berikut:
“Sebab telah diketahui semua orang, bahwa Tu[h]an kita berasal dari suku Yahuda dan mengenai suku itu Moshe tidak pernah mengatakan suatu apa pun tentang imam-imam” [Ibr 7:14]

“…tiba-tiba, ya raja Agripa, pada tengah hari bolong aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang dari pada cahaya matahari, turun dari langit meliputi aku dan teman-teman seperjalananku. Kami semua rebah ke tanah dan aku mendengar suatu suara yang mengatakan kepadaku dalam bahasa Ibrani: Shaul, Shaul, mengapa engkau menganiaya Aku? Sukar bagimu menendang galah”[Kis 26:13-14]

“Sesudah Paulus diperbolehkan oleh kepala pasukan, pergilah ia berdiri di tangga dan memberi isyarat dengan tangannya kepada rakyat itu; ketika suasana sudah tenang, mulailah ia berbicara kepada mereka dalam bahasa Ibrani, katanya:…”[Kis 21:40]
Dari pemaparan tiga ayat tersebut, kita mendapatkan beberapa data dan fakta bahwa Yahshua secara antropologis [dari sisi kemanusiaan] lahir dari suku Yahuda yang berbahasa Ibrani. Dan Ketika dia berbicara pada Shaul setelah kenaikan-Nya ke Sorga, Dia berbicara padanya dalam bahasa Ibrani. Demikian pula Shaul berbicara dengan bahasa Ibrani. Frasa “bahasa Ibrani” dalam Kisah Rasul 21:40 dan 26:14 dalam naskah Kitab Perjanjian Baru, dituliskan “Ebraidi Dialekto” []dan dalam naskah Peshitta [Perjanjian Baru bahasa Aramaik] disebut “E’braita” [].

Apa yang dimaksud dengan “Ebraidi Dialekto” itu? Mengutip pandangan J.M. Grintz dalam Journal of Biblical Literatur, 1960, D. Bivin dan R. Blizzard mengatakan sbb:
“Penyelidikan atas tulisan Yosephus [ahli sejarah bangsa Yahudi Abad I Ms, red] menunjukkan tanpa keraguan bahwa kapan saja Yosephus menyebut “glota Ebraion” [lidah Ibrani] dan “Ebraion dialekton” [dialek Ibrani, dia selalu memaksudkan artinya, “bahasa Ibrani” dan bukan bahasa lain”[f1]
Dengan demikian menjadi jelas bahwa Yahshua dan para rasul pada waktu berkomunikasi dan mengajar, selalu menggunakan bahasa Ibrani dan beberapa campuran bahasa Aramaik yang serumpun. Contoh, Yahshua mengucapkan “Efata” [terbukalah, Mrk 7:34], “Talita kumi” [anak gadis, bangunlah, Mrk 5:41], “Eli-Eli lama sabakhtani” [El-ku,El-ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Mat 27:46], dll.

Namun mengapa kita hanya mengenal Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Greek atau Yunani? Menurut para ahli, jumlah naskah dan manuskrip kuno Kitab Yunani, ada sekitar 5000-an yang terdiri dari berbagai abad yang berbeda[f2]. Jika memang benar Yahshua dan para rasul berbahasa Ibrani, mengapa Kitab Perjanjian Baru menuliskan ajaran Yahshua dan para rasul dalam bahasa Greek/Yunani? Pada mulanya, naskah-naskah ajaran Yahshua dituliskan dalam bahasa Ibrani, kemudian berkembang dan diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Menurut kesaksian Epiphanius [350 Ms] yang mengutip perkataan Papias [150-170] yang hidup tidak lama setelah zaman para rasul, mengatakan:
“Matius menyusun perkataan-perkataan tersebut dalam dialek Ibrani dan orang lain menerjemahkannya semampu mereka” [f3]

Apa arti pernyataan di atas? Bahwa para rasul pada mulanya menuliskan perkataan dan ajaran Yahshua dalam bahasa Ibrani, kemudian untuk kepentingan pemberitaan “Besorah” [Kabar Baik], maka kitab itu diterjemahkan dalam bahasa Yunani. Mengapa dalam bahasa Yunani? Karena bangsa Yahudi pada waktu itu menjadi wilayah yang di bawah kepenguasaan Romawi dengan bahasa nasional Yunani Koine. Penulisan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani, mengacu kepada naskah TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] yang diterjemahkan dalam bahasa Yunani, yang dinamakan Septuaginta.

Septuaginta, selalu menuliskan nama Yahweh yang berjumlah 6007 kali dalam TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] menjadi ‘KURIOS’. Kebiasaan ini diteruskan oleh Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, saat mereka mengutip ucapan atau nubuat para nabi dalam TaNaKh, mereka selalu mengganti nama Yahweh, menjadi Kurios. Kurios sendiri dalam bahasa Yunani bermakna “TUAN/MAJIKAN” yang setara dengan sebutan “ADONAI” dalam bahasa Ibrani. Maka tidak heran jika sampai sekarang, kita tidak menemukan nama Yahweh dalam Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani.

Adakah kitab-kitab Perjanjian Baru yang mula-mula ditulis dengan bahasa Ibrani tersebut? Jika yang dimaksud dengan tulisan berbahasa Ibrani awal, memang BELUM ditemukan. Namun jika copy atau salinannya ada. Meskipun salinannya ditemukan dengan angka tahun Abad XVI Ms. Beberapa kitab Perjanjian Baru yang bercorak semitik atau Ibrani al., versi Du Tillet, versi Shem Tov, versi Munster, versi Crawford dan naskah Peshitta Aramaik.

Versi Du Tillet, ditemukan pada Tgl 12 Agustus, 1553 pada saat pembacaan Petisi Pietro oleh Kardinal Caraffa, Jendral Inkuisisi Roma Katholik, anak buah Paus Pope III, yang memerintahkan agar berbagai Talmud Yahudi dan apapun yang berbau tulisan Yahudi, agar dimusnahkan. Namun Bishop dari Brieau, Prancis bernama Jean Du Tillet menemukan naskah Besorah Mattai [Injil Matius] dalam bahasa Ibrani. Dia menyelamatkan naskah tersebut dan menyerahkannya pada The Bibliotheque Nationale, Paris dengan nama Manuskrip Ibrani no 132[f4].

Versi Shem Tov merupakan sebuah tulisan pembelaan terhadap para rabbi Yahudi, yang berjudul “Even Bohan” [batu penjuru] yang ditulis sekitar tahun 1380 Ms. dengan disertai naskah Injil Matius dalam bahasa Ibrani[f5].

Versi Crawford merupakan naskah Kitab Wahyu dalam bahasa Aram. Naskah ini dibeli oleh Earl of Crawford sekitar tahun 1860[f6].

Versi Old Syriac atau bahasa Aram kuno, merupakan terjemahan Injil Sinoptik [MatitYahu, Markos, Luka, Yokhanan] dalam bahasa Aramaik yang serumpun dengan Ibrani. Menurut para ahli, usia terjemahan Aramaik berkisar Abad V dan Abad VI Ms. Naskah Aramaik pertama di temukan pada tahun 1842 di Biara Santa Mary Deipara di lembah Natron Lakes, Mesir. Naskah ini dipublikasikan oleh DR. William Cureton pada tahun 1858 dan dinamakan Curetonian atau Codex Syrus Curetonianus. Naskah ini didaftarkan pada British Museum dengan no 14451. Naskah Aramaik kedua ditemukan oleh Agnes Smith Lewis di Biara Santa Cathrine, di Sinai pada tahun 1892. Naskah ini dipublikasikan dengan nama Syriac Siniatic atau Codex Syrus Sinaiticus dengan no 30.

Versi Peshita, merupalkan naskah dalam bahasa Aramaik, yang oleh beberapa ahli diasumsikan sebagai revisi terhadap naskah Old Syriac. Naskah Peshitta muncul sebelum Abad V Ms, yaitu sebelum terjadi perdebatan Kristologis mengenai hakikat Yahshua yang memecah belah Qahal Mesianik non Yahudi menjadi berbagai sekte. Ada sekitar 350 manuskrip Peshitta yang ditemukan[f7].

Yang menarik, dalam banyak hal tertentu, ada ketidakcocokkan antara Kitab Perjanjian Baru versi Yunani dengan Kitab Perjanjian Baru versi Semitik yang berbahasa Ibrani atau Aramaik. Perbedaan versi ini harus dipandang bukan sebagai pemalsuan atau manipulasi, melainkan memberiakan bukti kuat bahwa Kitab Perjanjian Baru Semitik seperti Shem Tov, Du Tillet, Crawford, Munster, Peshitta dan Old Syriac BUKAN TERJEMAHAN dari naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani. Sebaliknya, Kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani, sering menyalah artikan kosa kata Ibrani tertentu dalam naskah semitik, sehingga menimbulkan terjemahan yang kurang tepat. Akibatnya, timbullah berbagai perbedaan versi. Namun ini bukan kesegajaan.

Dalam Kitab Perjanjian Baru Semitik yaitu Shem Tov, Du Tillet, dll. Nama Yahweh dituliskan dengan secara langsung maupun tidak langsung. Versi Munster menggunakan “YHWH” [], versi Shem Tov menggunakan “H” [], versi Du Tillet menggunakan “YYY” [] sementara Peshitta menggunakan “MAR-YA” []. Contoh: Dalam Matius 1:24 pada frasa “Malaikat TUHAN”. Dalam naskah Yunani tertulis, “aggelos kuriou [ ], sementara dalam naskah Munster, dipergunakan frasa utuh, “Malak YHWH” [], sementara versi Peshitta menggunakan frasa, “Malakah Mar-Ya” [].

Pada Abad ke-20 ini, telah banyak bermunculan Kitab Suci yang memulihkan eksistensi nama Yahweh dalam Kitab Perjanjian Baru dan memunculkan corak semitiknya. Al., Hebraic Root Version Scriptures, oleh DR. James Trimm. Lalu Restoration Scriptures, oleh Rabbi Moshe Yoseph Koniuchowsky. Kemudian The Scriptures, oleh Institute Research Scriptures, dll. Merujuk pada terjemahan Kitab Suci oleh DR. James Trimm, yaitu Hebraic Root Version Scriptures, maka nama Yahweh tertulis sebanyak 210 kali dalam keseluruhan Kitab Perjanjian Baru[f8]

Berdasarkan penjelasan dan pembeberan fakta-fakta di atas, maka penggunaan nama Yahweh dalam kotbah, pengajaran dan terjemahan Kitab Perjanjian Baru, memiliki landasan teologis dan historis dan bukan berdasarkan praduga dan prasangka buta [Teguh Hindarto, MTh.]

Footnote:
  • [f1] : Understanding the Difficult Word of Jesus, 2001, p.42
  • [f2] : F.F. Bruce, Dokumen-Dokumen Perjanjian Baru, BPK, 1993, hal 11
  • [f3] : Panarion 29:9:4
  • [f4] : DR. James Trimm, Textual Criticsm of The Semitic New Testament, www.nazarene.net/hantri/FreeBook/textcom.pdf
  • [f5] : Ibid.
  • [f6] : Ibid.
  • [f7] : Ibid.
  • [f8] : Teguh Hindarto, Bahasa Tuhan, Yogyakarta: ANDI Offset, 2001, hal 47


Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
Buletin NAFIRI YAHSHUA Vol 31 2006
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- tguh ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com