Jumat, 10 September 2010  |  
Nama Yahweh adalah menara yang kuat, kesanalah orang benar berlari dan menjadi selamat (Ams 18:10)
    ARTIKEL DETIL
20-07-2007
TIKKUN HA OLAM
 
 
Pemahaman Tentang Tikkun ha Olam

Kata Tikkun ha Olam, merupakan istilah dalam Yudaisme yang memiliki makna secara literal , memperbaiki, menyempurnakan, menyembuhkan dunia. Ada beberapa pemahaman tentang Tikkun ha Olam. Pemahaman pertama terekam dalam doa Yudaisme yang disebut ALEINU. Doa ini disusun oleh Rav dari Abad 3 seb.Ms paska kepulangan Bangsa Israel dari Babilonia. Semula, Aleinu diucapkan sebagai doa tambahan saat Hari Raya Tahun Baru atau Peniupan Sangkakala, namun kemudian diucapkan sebagai bagian dari doa harian shakharit, minha dan maariv[f1]. Doa dalam Aleinu memiliki dua struktur pemahaman. Struktur pertama merupakan pengakuan bahwa Israel memiliki perbedaan dengan bangsa-bangsa sebagai pengemban amanat Yahweh. Ini ditandai dengan kalimat doa sbb: “Aleinu leshaveakh la Adon ha kol, latet gedulah le yotser bereshit, shelo asyanu kegoye ha araratsot, we lo syamanu kemisyfekhot ha adamah,… [f2] yang artinya, “Adalah kewajiban kami untuk memuji Tuan Yang Mengatasi Segala Sesuatu, untuk menggembalikan kebesaran bagiNya yang telah melanjutkan ketetapan karya penciptaan pada mulanya, yang tidak menjadikan kita seperti umat Goyim dan tidak memberikan kepada kami kedudukan seperti seperti keluarga-keluarga dari bumi lainnya…”. Struktur kedua merupakan suatu tindakan dalam upaya mengemban amanat Yahweh supaya semua bangsa pada akhirnya bertekuk lutut dihadapan Yahweh. Ini ditandai dengan kalimat doa sbb: “Letaken Olam be Malkot Shadai we kal benei basyar yiqreu bishimka, lehafnot eleika kal risye arets, yaqiru we yedu kal yosyeve tevel ki leka tiqra kal berek tishava kal lason”, ,… [f3] yang artinya, “Maka dunia akan disempurnakan melalui Kerajaan Yang Menyediakan Segala Sesuatu, maka semua yang hidup akan memanggil namaMu, menggembalikan semua pelanggar hukum kepadaMu, maka semua keturunan manusia akan melihat dan mengenal bahwa hanya kepadaMu setiap lutur bertelut dan setiap lidah akan bersumpah setia,…”

Pemahaman kedua sebagai suatu proses untuk memperbaiki, menyempurnakan, menyembuhkan dunia melalui kegiatan tsedakah atau aksi sosial kemasyarakatan. Dalam salah satu organisasi Yahudi bernama Adat Shalom ditegaskan demikian, “menurut Pokok Kepercayaan Adat Shalom, hukum Tikkun Olam adalah mewajibkan kita untuk menolong mengatasi orang-orang yang lapar, tidak memiliki rumah, mengalami wabah penyakit, pelecehan, kebodohan, dan tekanan politik diantara umat manusia. Tambahan lagi kami memiliki tanggung jawab untuk memelihara kesehatan ekosistem global dimana semua mahluk hidup tinggal” [f4]

Dalam pemahaman pertama, Tikkun Olam dimengerti secara eskatologis dan dihubungkan dengan suatu kondisi penyempurnaan segala sesuatu kepada Yahweh Semesta Alam melalui kehadiran KerajaanNya. Gema Aleinu yang berisikan pengharapaan akan proses Tikkun Olam, terdengar dalam Doa Bapa Kami yang diajarkan Yahshua sbb: “Tavo Malkutekha yeashe retsoneka, kaasyer ba shamayim gam ba arets” [Datanglah KerajaanMu, jadilah kehendakMu di bumi seperti si sorga, Mat 6:10]. Demikian pula dengan surat Rasul Paul kepada jemaat di Filipi, menggemakan kembali Aleinu dan Firman Yahweh dalam Yesaya 45:23 yang berbunyi: “..Dan semua orang akan akan bertekuk lutut dihadapanKu dan akan bersumpah setia dalam segala bahasa…”. Dalam Filipi 2:10-11, Rasul Paul mengarahkan pernyataan propetik tersebut kepada Yahshua Sang Mesias Putra Yahweh sbb: “Supaya dalam nama Yahshua bertekuk lutut segala yang ada dibumi dan yang ada diatas bumi dan segala lidah mengaku: Yahshua ha Mashiah adalah Tu[h]an, bagi kemuliaan Elohim, Bapa!”

Istilah Tikun ha Olam sendiri berasal dari kata “Taqan” yang dalam Kitab TaNaKh memiliki beragam pengertian al:
    1. Lurus, “Yang bongkok tidak dapat diluruskan [litqon] dan yang tidak ada tak dapat dihitung”, Pengk 1:15; 7:13
    2. Menyusun, “Selain Pengkhotbah berhikmat, dia mengajarkan juga kepada umat itu pengetahuan. Dia menimbang, menguji dan menyusun [tiqen] banyak amsal”, Pengk 12:9
    3. Menguji, “…Karena Yahweh itu Elohim Yang Maha Tahu dan oleh Dia perbuatan-perbuatan diuji [nitqenu] ”, 1 Sam 2:3
    4. Tepat, Layak, “Tetapi teman-tamanmu sebangsa berkata: Tindakan Elohim tidak tepat [yitaqen]! Padahal tindakan mereka yang tidak tepat [yitaqen]!”, Yehz 33:17
    5. Mengatur, “Ketika Dia menetapkan kekuatan angin dan mengatur [tiqen] banyaknya air”, Ayub 28:25
    6. Mengokohkan, “Bumi hancur dan semua penduduknya, tetapi Akulah yang mengokohkan [tiqaneti] tiang-tiangnya, Mzm 75:4
    7. Mengatur, “Siapakah yang dapat mengatur [tiqen] Roh Yahweh atau memberi petunjuk kepadaNya sebagai penasihat?”, Yes 40:13
Dalam perkembangan kontemporer/modern, istilah Tikkun Olam dimaknai dalam pengertian berbagai tindakan positip untuk memperbaiki berbagai bidang kehidupan, baik sektor Teologi, Ekologi, Ekonomi, Demografi, Sosiologi, dll. Dalam khotbah ini, kita akan batasi makna Tikun Olam sebagai suatu bentuk pembaruan atau penataan dunia dari sudut pandang TaNaKh dan Besorah. Dalam kosmologi Jawa dikenal istilah yang setara dan dapat mewadahi secara kontekstual istilah “Tiqun ha Olam”, yaitu istilah “Memayu hayuning bawono”. Kata ini terdiri dari kata “hayu” yang bermakna “cantik” atau “indah”. “Memayu” bermakna “membuat indah”. Sementara kalimat “hayuning bawana” bermakna “keindahan dunia”. Widodo D.S. memberikan penjelasan mengenai konsep “Memayu Hayuning Bawono” sbb:”Ungkapan memayu hayuning bawana bisa diartikan manusia hidup di dunia harus mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Sekaligus harus ambrasta dur hangkara, memberantas sifat angkara murka, serakah, tamak alias rakus. Sifat tamak adalah sifat bawaan manusia yang buruk yang harus diberantas. Dunia tidak akan aman-damai-sejahtera, selama sifat tamak terus marak dan merajalela tanpa kendali” [f5]. Sementara itu Sujamto memberikan penjelasan dari sisi lain sbb: “Moralitas jawa menghendaki agar setiap orang senantiasa melaksanakan kewajiban yang diberikan kepadanya oleh Sang Pencipta. Kewajiban itu adalah sederhana saja, yaitu hidup yang baik dan benar. Dalam pandangan Jawa, kewajiban itu dirumuskan dalam ungkapan mamayu hayuning bawana [memelihara kebaikan dunia]. Kewajiban ini hanya akan terlaksana bila dilandasi rasa asih ing sesami [cinta kasih kepada sesama] serta dengan semangat sepi ing pamrih rame ing gawe [giat bekerja tanpa mementingkan diri sendiri]. Ini adalah batu ujian bagi manusia dalam menentukan hari depannya” [f6].

Dari pemaparan kosmologi Jawa, kita mendapatkan kesejajaran yang mendefinisikan bahwa “Memayu Hayuning Bawana” adalah suatu usaha atau suatu kewajiban manusia untuk menata, memelihara, memperbaiki dunia tempat dimana mereka hidup, dengan prinsip meminimalisir terjadinya kejahatan dan menegakkan prinsip keadilan dan kejujuran. Konsep ini setara dengan konsep Yudaisme mengenai “Tiqun ha Olam”. Kesejajaran prinsip ini menolong untuk menjembatani suatu upaya menata dunia atau memperbarui dunia, sebagai suatu prinsip universal manusia.

Yahshua dan Tugas Tikkun ha Olam

Kehadiran Yahshua yang meliputi ajaran dan tindakanNya yang memuncak pada kematianNya dikayu salib dan kebangkitanNya pada hari yang ketiga serta kenaikkanNya ke Sorga, MEREPRESENTASIKAN [menghadirkan] Kerajaan Elohim dengan tujuan Tikkun ha Olam. Kitab Besorah yang merekam ajaran Mesias Yahshua, memberikan penegasan bahwa Kerajaan Elohim atau Kerajaan Sorga memiliki dua pengertian. Pengertian pertama, Kerajaan Masa Kini sebagai simbolisasi dari ajaran dan prinsip hidup Yahshua ha Mashiah. Hal ini dapat kita simak dari perkataan Yahshua dan para rasulnya sbb:
  • “Sebab Kerajaan Elohim bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Mesias dengan cara ini, dia berkenan pada Elohim dan dihormati oleh manusia” [Rm 14:17-18]
  • “Sebab Kerajaan Elohim bukan terdiri dari perkataan, tetapi dari kuasa” [1 Kor 4:20]
  • “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Elohim dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” [Mat 6:33]
  • “Selama tiga bulan Paulus mengunjungi rumah ibadat disitu dan mengajar dengan berani. Oleh pemberitaannya dia berusaha meyakinkan mereka tentang Kerajaan Elohim” [Kis 19:8]
Pengertian Kedua, Kerajaan Yang Akan Datang sebagai simbolisasi dari Kerajaan 1000 Tahun di Bumi dan Langit Baru serta Bumi Baru dimana semua orang yang beriman pada Yahshua akan berdiam selamaNya dalam sukacita abadi. Hal ini dapat kita simak dari perkataan Yahshua dan para rasulnya sbb:
  • “Dan Raja itu akan berkata kepada mereka yang disebelah kananNya: Mari hai kamu yang diberkati oleh BapaKu, terimalah Kerajaan yang telah disediakan bagimu sejak dunia dijadikan” [Mat 25:34]
  • “Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagiaan dalam Kerajaan Elohim dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa” [1 Kor 15:50]
Kerajaan Elohim dalam pengertian pertama, yaitu sebagai ajaran, prinsip, dari Yahshua ha Mashiah bertujuan untuk TERJADINYA Tikkun ha Olam. Dalam Lukas 4:16-20, Yahshua mendeskripsikan tugasnya dengan membaca Kitab Yesaya 61:1-2 di Sinagog, pada hari Sabat, yaitu:
“Ruakh Adonai Yahweh alai, yaan mashakh Yahweh oti: Lebasher anawim; Shelakhni lakhavosh: Lenis berei lev liqro lishvuyim derot; We laasurim peqakh qoakh; Liqro shenat ratshon la Yahweh We Yom naqam le Eloheinu lenaqem kal avelim”

“Roh Yahweh ada padaKu, Oleh sebab Dia telah mengurapi Aku untuk: Menyampaikan Kabar Baik kepada orang-orang miskin;

Dia telah mengutus Aku, untuk: Memberitakan Pembebasan kepada orang-orang tawanan; Dan penglihatan bagi orang-orang buta; Untuk membebaskan orang-oraang yang tertindas; Untuk memberitakan tahun rahmat Yahweh telah datang”
Kematian dan kebangkitan Yahshua merupakan suatu tindakan puncak untuk terjadinya Tikkun Olam yaitu penebusan manusia dari kutuk dosa yaitu maut dan perdamaian antara Yahweh dan manusia yang terpisah karena dosa. Dalam hal ini, telah terjadi pemulihan ciptaan dengan kematian dan kebangkitan Yahshua dari maut, sebagai mana disebutkan: “Dan oleh Dialah telah diperdamaikan segala sesuatu dengan diriNya, baik yang ada di bumi maupun yang ada di surga, sesudah Dia mengadakan pendamaian oleh darah salib Mesias. Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Elohim dan yang memusuhiNya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikanNya didalam tubuh jasmani Mesias oleh kematianNya, untuk menempatkan kamu kudus dan tidak bercela dan tidak bercacat dihadapanNya” [Kol 1:20-21]. Kerajaan Elohim dalam pengertian kedua, yaitu datangNya Kerajaan 1000 Tahun dan Langit Baru serta Bumi Baru, merupakan WUJUD SEMPURNA dari Tikkun Olam. Telah genap pemulihan segala sesuatu. Telah sempurna dan berakhir pemulihan segala sesuatu oleh Yahweh Bapa Surgawi. Tikkun Olam bukan lagi suatu upaya dan pengharapan melainkan KENYATAAN YANG DIALAMI BERSAMA oleh umat beriman, sebagaimana dijelaskan :

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan lautpun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari langit, dari Elohim, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya. Lalu aku mendengar suara yang nyaring dari tahta itu berkata: ‘Lihatlah, kemah Elohim ada ditengah-tengah manusia dan Dia akan diam bersama-sama dengan mereka. Mereka akan menjadi umatNya dan Dia akan menjadi Elohim mereka. Dan Dia akan menghapus segala air mata dari mata mereka, dan maut tidak akan ada lagi; tidak akan ada dukacita, sebab segala sesuatu yang lama itu telah berlalu. Dia yang duduk diatas Tahta itu berkata: ‘Lihatlah, Aku menjadikan segala sesuatu baru!” [Why 21:1-5]

Qahal Yahweh dan Tugas Tikkun ha Olam

Qahal Yahweh/Qahal Mesias - atau yang lazim disebut dalam bahasa Greek sebagai Eklesia yang kelak menjadi sumber istilah Gereja – sebagai kumpulan orang yang beriman yang telah menerima panggilan dan karya penebusan didalam Yahshua ha Mashiah, memiliki tugas untuk melaksanakan Tikkun ha Olam, sebagaimana telah diteladankan oleh Mesias dan Putra Yahweh, yaitu Yahshua. Di Abad XXI ini, Qahal Mesias di seluruh Nusantara harus memusatkan perhatian pada visi Back to Hebraic Root Theology [Teologi Kembali ke Akar Ibrani] [f7], sebagai salah satu bagian dari proses Tikkun Olam dibidang spiritual dan teologi. Namun ada beberapa tahapan yang harus dilewati orang Qahal Mesias di Nusantara untuk terlibat dalam proses Tikkun Olam. Langkah-langkah untuk keterlibatan orang beriman [maamanim] dalam proses Tikkun Olam, dimulai dengan fase sbb: Mengalami Penebusan

Sebab kamu tahu bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu, bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Mesias yang sama seperti darah anak domba yang tidak bernoda dan tidak bercacat” [1 Pet 1:18-19]

Tanpa mengalami penebusan, seseorang berada dalam penjara dosa yang terefleksi dari cara hidup yang sia-sia. Orang yang masih terikat dalam penjara dosa, tidak dapat mengemban tugas Tikkun Olam. Penebusan yang dilakukan Yahweh melalui Putra-Nya, Yahshua Sang Mesias, menempatkan orang beriman pada kedudukan baru, yaitu orang yang berada dalam penjara dosa dan dibawah bayang-bayang maut, menjadi orang yang berada dalam kedudukan dibawah anugrah dan jaminan hidup kekal. Posisi ini akan mempengaruhi cara hidup seseorang.

Membuang Pola Hidup Lama

“Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah. Dan jadilah sama seperti bayi yang baru lahir, yang selalu ingin akan air susu yang murni dan yang rohani, supaya olehnya kamu bertumbuh dan beroleh keselamatan” [1 Pet 2:1-2]

Tanda bahwa seseorang telah mengalami penebusan dari kuasa dan penjara dosa, adalah membuang segala sifat jahat dan berbagai perilaku yang tidak memperkenan Elohim. Mengalami penebusan adalah mengalami kemerdekaan. Kemerdekaan dari penjara dan kuasa dosa menuntut seseorang membuang dan melepaskan berbagai ikatan hidup lama yang dikuasai dosa.

Menjadi Pembangun Rumah Rohani

“Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu iamamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yahshua ha mashiah berkenan kepada Elohim” [1 Ptr 2:5].

Point ketiga ini dapat dimaknai sebagai keterlibatan kita dalam pekerjaan Tuhan yaitu melayani jemaat dan melakukan berbagai pembaruan dalam tubuh Kekristenan. Visi Pemulihan Akar Ibrani Iman Kristen yang didalamnya terkandung pemulihan nama Yahweh, dan juga pemulihan ibadah dan tata ibadah pengikut Mesias, merupakan contoh bagaimana proses pembangunan rumah rohani untuk terjadinya Tikkun Olam.

Memberitakan Perbuatan Ajaib Yahweh

“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Elohim sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terangNya yang ajaib [1 Ptr 2:9].

Point keempat dapat dimaknai dengan melakukan berbagai kegiatan yang positip sebagai wujud memberitakan perbuatan ajaib Yahweh, yang dapat dimanifestasikan/diejawantahkan dalam berbagai bentuk tsedaqah, aksi sosial, keterlibatan dalam aksi HAM, keterlibatan dengan proses perbaikan sistem politik dan demokrasi.
Penutup

Demikianlah pemaparan singkat mengenai dasar epistemologis dan teologis makna dan aplikasi pemahaman Tikkun Olam. Kiranya kajian ini mendorong Qahal Mesias di Nusantara untuk memahami betul hakikat keberadaannya dalam arus besar pembaruan Kembali Ke Akar Ibrani Iman Kristen, sebagai salah satu bagian dari proses Tikkun ha Olam. Tanpa sebuah pemahaman yang benar, maka pembaruan apapun yang dikerjakan Qahal Mesias di Nusantara, tidak memiliki konsep dan struktur, sehingga tidak menghasilkan perubahan yang berdampak luas. Tindakan pembaruan yang hanya mengedepankan emosi, spontanitas dengan bungkus istilah “digerakkan oleh Roh Kudus”, namun tanpa pemahaman yang utuh tentang apa yang dibarui, mengapa ada pembaruan ,siapa yang bertugas melakukan pembaruan, wilayah mana yang mengalami pembaruan, hanya akan menghasilkan suatu bentuk kekacauan dan kedangkalan spiritual. Bersiaplah untuk melaksanakan Tikkun ha Olam…

Footnote:
  • [f1] : Rabbi Hayim Levy ha Donin, To Pray As A Jew, Basic Books
  • [f2] : Samson Raphael Hirsch, The Hirsch Siddur, Jerusalem-New York: Feldheim Publishers, 1978, p. 208
  • [f3] : Ibid., p. 210
  • [f4] : Tikkun Olam Guidelenes, www.jrf.org/adatsmd/tikunola.html
  • [f5] : Laku Hidup Sejati Dalam Pandangan Jawa, Vision 03, Jakarta, 2005, hal 48
  • [f6] : Sekitar Pandangan Hidup Jawa, Dahara Prize, 1993, hal 18
  • [f7] : Mengenai definisi dan aplikasi Teologi Kembali ke Akar Ibrani, dapat membaca buku saya berjudul KEMBALI KE YERUSALEM: PEMAHAMAN TENTANG BACK TO HEBRAIC ROOT THEOLOGY, Nafiri Yahshua Ministries, 2006



PDT. TEGUH HINDARTO, MTH
Buletin NAFIRI YAHSHUA Vol 32 2007
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- tguh ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com