8. Saya baru akan mengubah konsep saya ini, jika dari Lembaga Alkitab
Indonesia yang menjadi tolok ukur kebenaran sudah mengubah dan
menerbitkan kebenaran ini.
Jawabannya :
Lembaga Alkitab Indonesia khan manusia juga, yang tentu saja tidak
luput dari kesalahan, karena bukan sumber asli, karena itu tidak bisa
dijadikan sebagai tolok ukur kebenaran, kalau mau dipakai sebagai tolok
ukur kebenaran seharusnya Kitab Suci yang berbahasa Ibrani, sebab kitab
suci terjemahan, terjemahan apapun termasuk terjemahan dari Lembaga
Alkitab Indonesia bisa saja salah, buktinya Lembaga Alkitab Indonesia telah
merevisi kitabnya berkali kali. Salah satu contoh kesalahan terjemahan dari
Lembaga Alkitab Indonesia adalah dalam Kitab Yehezkiel 34: 16 dimana
berbunyi : Yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang,
yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan, serta yang gemuk dan
yang kuat akan Kulindungi; Aku akan menggembalakan mereka
sebagaimana seharusnya. Sedangkan dalam bahasa Inggris versi apapun
diterjemahkan sebagai berikut: I will seek that which was lost, and bring
again that which was driven away, and will bind up that which was broken,
and will strengthen that which was sick; but I will destroy the fat and the
strong; I will feed them with judgment. Hal itu sesuai dengan bahasa Ibrani
yang ditulis sebagai berikut :
trBvNlw byva txDNh-taw vQba tdbah-ta
hnmvh-taw qzxa hlwxh-taw vbxa
jPvmb hN[ra dymva hqzxh-taw
Et-haavedet avaqesh we et-hanidakhat ashiv We lanishberet Ekhevosh we ethakhola
akhazeq we et hash mena we et-hakhazaqa Ashmid er ena
vemishpat
Ashmid = Runtuh = Destroy = Hancur
Jadi seharusnya kita lebih taat kepada firman Tuhan dari pada taat
kepada Lembaga Alkitab Indonesia, karena penerjemah Lembaga Alkitab
Indonesia juga manusia biasa yang bisa salah. Ada banyak kesalahankesalahan
terjemahan yang lain jika mau diungkapkan.
9. Apakah kami yang setia ke gereja dan masih menyebut Allah itu salah dan
masuk neraka atau sesat?
Jawabannya:
Sudah diterangkan di atas, bahwa Allah itu sesembahan dan
Tuhannya umat Islam, kita harus menghormati mereka dengan tidak
mencampur-adukan di dalam kekristenan, masalah masuk sorga atau
neraka itu hak Tuhan Yahweh. Tidak ada seorangpun yang berhak
menentukan, yang jelas jika kita melakukan firman Tuhan, tentu memiliki
kepastian masuk sorga. Yang jadi pertanyaannya adalah: Lebih takut
kepada siapakah Anda? Tuhan atau manusia? Sebenarnya yang sering
dianggap sesat, malah orang-orang yang sudah mengagungkan Nama
Yahweh, terbukti banyak pendeta-pendeta yang dipecat oleh sinodenya
gara-gara nama Yahweh.
10. Untuk masalah Nama Yahweh, apakah kelompok penyembah Nama
Yahweh sudah mengklarifikasi atau minta ijin PGI atau badan gereja yang
lain?
Jawabannya :
Masalah mengklarifikasi, sebenarnya sudah banyak surat-surat yang
dilayangkan kepada Lembaga Alkitab Indonesia oleh para penyembah
Nama Yahweh, baik surat yang ditujukan untuk memperbaiki masalah tata
bahasa Indonesia, maupun secara theologis, namun rupanya Lembaga
Alkitab tidak menjawab secara proporsional, malah berupaya untuk
mencegah agar Nama Yahweh tidak dikenal, dan berusaha untuk
menghilangkannya, dengan berbagai alasan theologis yang tidak
bersumber kepada Firman Tuhan itu sendiri, namun disisi lain, Lembaga
Alkitab Indonesia mencetak Kitab Suci Komunitas Kristiani, Edisi Pastoral
Katolik terbitan tahun 2002, dimana justru tersebar ratusan Nama Yahweh
disana. Apakah ini bukan merupakan pembodohan terhadap umat Tuhan,
kalau memang Nama Yahweh dianggap tidak layak masuk dalam Kitab
Suci terbitan Lembaga Alkitab Indonesia!.
Kalau Nama itu memang Nama Tuhan, kenapa Lembaga Alkitab
Indonesia tidak mau mencetak untuk komunitas penyembah Nama
Yahweh, padahal sebagai institusi yang memegang "Bible Society"
seharusnya memenuhi semua kebutuhan umat Tuhan!. Ada apa
sebenarnya ini?.
Bagi saya secara pribadi, saya tidak perlu minta ijin kepada LAI
maupun PGI, sebab ijin itu datang dari Tuhan sendiri yang memang
bernama Yahweh dan menghendaki namaNya disebut. LAI maupun PGI
bukan Tuhan yang harus dimintai ijinnya mengenai masalah Nama Tuhan.
Apa artinya kita mendapat ijin dari LAI maupun PGI ... jika apa yang
dimintakan ijinnya itu, justru melanggar Firman Tuhan dan sebenarnya
tidak benar dan tidak sesuai dihadapan Tuhan?
11. Bukankah orang Kristen Arab juga memanggil Nama Tuhan dengan Allah
dimana salahnya?
Jawabannya :
Dalam Kitab Suci berbahasa Arab Alkitabul Moquddasu Wa huwa
asfaarul Ahdainil qodiimi wal jadiid (Perjanjian Lama dan Baru) yang
Mutarjamah minallughootil Ashliiyah (diterjemahkan dari bahasa asli) oleh
Nidaur Rojaa Stuttgart Almaaniyaa (Yayasan Nidaur Roja Sturrgart
Jerman) Nama Yahweh ditulis Yahwah, karena dalam bahasa Arab tidak
ada vocal . Jadi orang Kristen Arab mengenal Nama Yahweh Dan jika
dengan kasus ini, tiba-tiba orang Kristen di Indonesia berkiblat kepada
orang Kristen Arab ini aneh, seharusnya yang dijadikan tolok ukur
kebenaran itu bukan orang Kristen Arab, melainkan Firman Tuhan itu
sendiri berkata bagaimana, itu yang seharusnya diikuti.
Kembali kepada Orang Kristen Arab yang dijadikan acuan, saya ingin
memberitahu bahwa Orang Kristen Arabpun mengalami kebingungan
dalam menerjemahkan Kitab Sucinya.
Memang Nama Yahweh tetap dikenal oleh mereka, beda dengan
orang Kristen di Indonesia yang malah menentang mati-matian Nama
Yahweh tetapi membela mati-matian Nama "Allah". Namun Orang Kristen
Arab terkadang menerjemahkan juga Nama Yahweh, menjadi Antar robbu
ilah / arrobbu, terkadang diganti dengan Allah, terkadang tidak
diterjemahkan.
Kebingungan ini disebabkan karena sebelum ada Kristen di Arab,
Nama atau Kata "Allah" sudah dikenal sebelumnya akibat agama suku,
seperti di Indonesia. Di Arab, Nama atau kata Allah sudah dikenal jauh
sebelum agama Islam ada, yaitu sebagai Nama Dewa yang mengairi bumi,
yaitu satu diantara 360 dewa lainnya seperti Allata, Aluza, Almanat,
Alhubal dsb. Sedangkan Di Indonesia nama atau kata Allah sudah dikenal
karena agama Islam sudah masuk terlebih dahulu ke Indonesia, dan oleh
umat Islam, Nama atau kata Allah dikenal sebagai Tuhan sang pencipta.
Saya melihat bahwa Kitab Suci Alkitabul Muqoddassu yang
beredar ditanah Arab dan dipakai oleh orang Kristen Arab yaitu Wa huwa
Asfaarul Ahdainil Qodiimi wal jadiid / perjanjian lama dan baru Mutarjamah
minallughoofil Ashliiyah / yang diterjemahkan dari bahasa Asli oleh
Nidaaur Rojaa Stutgart Almaaniyaa / Yayasan Nidaur Roja Stuutgart
Jerman tersebut diatas, Nama Yahweh tidak diterjemahkan, namun dalam
Kitab Suci berbahasa Arab "Arabic Bible" dari International Bible Society ,
yang dapat di akses di internet di :
http://www.ibs.org/bibles/arabic/index.php justru menerjemahkan Nama
Yahweh menjadi Arrobbu. Ini membuktikan bahwa penerjemah Kitab Suci
berbahasa Arab juga kebingungan. Bagaimana mungkin kondisi
kebingungan seperti ini dipakai sebagai acuannya? Apakah karena sudah
terjadi dan seolah-olah tidak terjadi apa-apa berarti Tuhan
mengijinkannya? Padahal sudah ada ayat yang melarang untuk menyebut
dengan sembarangan? Coba baca ulang pertanyaan 1 alinea terakhir.
Setelah mengetahui dan membuktikan kebingungan tersebut, janganlah
kita mengikuti orang yang bingung, sebab terbukti bahwa Kristen Arabpun
tergantung dari penerjemahnya, dan janganlah berkiblat kepada
kesalahan orang, sebab bahasa Asli Kitab Suci kita bukan bahasa Arab
melainkan bahasa Ibrani.
Rev. Yakub Sulistyo, STh, MA
Gereja Pimpinan Rohul Kudus “Surya Kebenaran”
AMBARAWA
JAWA TENGAH – INDONESIA