Kamis, 09 September 2010  |  
Beginilah firman YAHWEH, yang telah menjadikan bumi dengan membentuknya dan menegakkannya - YAHWEH ialah nama-Nya - : Berserulah kepada-Ku, maka Aku akan menjawab engkau dan akan memberitahukan kepadamu hal-hal yang besar dan yang tidak terpahami, yakni hal-hal yang tidak kauketahui (Maz 33:2-3)
    ARTIKEL DETIL
28-07-2007
DISKUSI TEGUH HINDARTO,MTH., DAN SDR. FRANS DONALD BAGIAN PERTAMA (1)
 
 
[Email Sdr. Frans Donald, Tgl 21 Juli 2007 & Email Teguh Hindarto, Tgl 22 Juli 2007]

Judul:Tanggapan Balik thdp surat + buku anda
Dengan segala hormat, Pdt. Teguh Hindarto, MTh.
To the point saja. Di surat anda bilang: "Prihatin" terhadap buku Allah Dalam Alkitab & AlQur'an.
Tanggapan saya:
Ya. Itu hak anda sebagai pembaca untuk memberikan tanggapan apapun. Tapi suatu hal perlu anda ketahui bahwa sangat banyak komentar-komentar yang sangat positif dan setuju dari banyak orang (termasuk pendeta2) dari berbagai denominasi terhadap buku saya yang anda bilang "dusta" itu. Jadi tampaknya (maaf kalau keliru), anda hanya bagian dari segelintir orang yang "kebakaran jenggot" atas terbitnya buku yang memang Best Seller (Laris) tersebut. Beberapa orang yang tampak senada dengan anda adalah Bambang Noorsena, dan juga Pdt. Budi Asali dari GKRI. Tapi mereka berdua kelihatan sekali jauh lebih "kebakaran jenggot" daripada anda, pak pendeta. Anda -dari tulisan anda- tampak masih jauh lebih santun dari mereka berdua. Saya hargai pandangan Anda.


Tanggapan Teguh Hindarto:
Best sellernya buku Anda, bukan ukuran bahwa buku Anda mendapat respon positip. Laris manisnya buku Anda terjual, bisa jadi karena mengundang penasaran orang [termasuk saya] dan ingin melihat isinya. Nampaknya, kelarisan buku Anda lebih dipicu oleh daya tarik dalam publikasi judul yang bombastis. Penilaian positip terhadap buku Anda, bisa jadi dikarenakan kekurang pahaman terhadap sejarah Kekristenan dan pergulatan teologis mengenai perumusan doktrin-doktrin Kristen, sehingga uraian Anda yang Arianistik sangat mengesankan bagi beberapa pihak awam tertentu, namun tidak bagi mereka yang mempelajari sejarah dan doktrin Kekristenan/Kemesianikan. Anda boleh menenggarai saya ”kebakaran jenggot”, namun apa yang saya tulis tidak lebih dari aktualisasi memberikan ”apologia” [1 Ptr 3:15] dari berbagai bentuk kajian yang ”menyimpang” secara teologis.

Bambang Noorsena tidak sepaham dengan saya mengenai penyebutan ”Allah”. Dalam beberapa buku yang dia tulis al., ”The History of Allah” dan ”Menuju Dialog Teologis Islam & Kristen”, dia ada menyebut-nyebut nama saya. Terimakasih jika uraian yang saya sampaikan Anda katakan jjauh lebih santun dari Bambang Noorsena.


Dalam buku anda bilang: "Sdr, Frans Donald penguasaan Ibrani Yunani minim", "…Frans Donald memperlihatkan dustanya …", "..Frans Donald mendustai pembaca..", juga, "..Frans Donald hendak mengajari bebek berenang kepada teolog yg mengerti Ibrani Yunani.." dllnya. Sepertinya, buku anda tersebut anda sebarkan juga ke jemaat-jemaat anda. Anda ingin seolah-olah membuktikan anda benar, sementara mempermalukan saya, begitu? (maaf kalau saya keliru duga).

Tanggapan Teguh Hindarto:
Perlu saya luruskan mengenai ”ungkapan Frans Donal mendusati pembacanya”. Semua lontaran yang saya ungkapkan di atas konteksnya adalah setelah saya mengeksplorasi sejumlah teks ayat yang Anda paparkan, dalam teks berbahasa Ibrani dan Yunani serta pembanding dalam bahasa Inggris, maka saya sampai pada kesimpulan bahwa Anda ”mendustai” para pembaca Anda dengan pemahaman Anda yang sangat minim terhadap bahasa Ibrani dan Yunani. Contoh, Anda mengulas mengenai terjemahan Ibrani 1:8 dan Yesaya 45:7 dan berargumentasi bahwa terjemahan yang tepat seharusnya ”Tahta-Mu kepunyaan Elohim [Anda menggunakan kata Allah]...” daripada ”Tahta-Mu ya Elohim”. Padahal dari hasil pengkajian teks Ibrani dan Yunani serta terjemahan-terjemahan berbahasa Inggris, tidak ada yang mendukung hasil terjemahan dan analisis Anda. Lalu apa yang salah dari saya jika saya mengatakan bahwa Anda telah berdusta terhadap pembaca buku yang Anda tulis? Justru kecaman ini membuat Anda introspeksi dan berhati-hati dalam membuat suatu ulasan dan pengkajian Kitab Suci. Saya sendiri sedang menyusun terjemahan Khumash Khumashy ha Torah [Pentateukh] yang berbeda dengan terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia. Saya juga telah membuktikan bahwa banyak sekali terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia yang kurang tepat. Namun keberanian kita dalam mengkaji karya terjemahan Lembaga Alkitab Indonesia, harus pula didukung dengan ”minimal” kemampuan menganilisis bahasa Ibrani maupun Yunani. Semangat saja tidak cukup!

Perlu menjadi catatan, jemaat yang saya gembalakan adalah para petani dan peladang di sebuah pedesaan. Jadi jangan kuatir jika saya –sebagaimana Anda tuduhkan- akan menyebar opini negatif terhadap tulisan Anda. Kalaupun mereka ada yang menerima tulisan tanggapan saya terhadap Anda, semata-mata untuk wawasan apologetis terhadap berbagai pandangan yang miring tentang konsep Ketuhanan dalam Kemesianikan/Kekristenan. Saya bukan orang dengan tipe membuat opini negatif terhadap orang lain melalui argumentasi atau sanggahan yang saya buat dalam tulisan saya. Semua pernyataan yang saya sampaikan dengan menggunakan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan. Maka Anda pun harus mempertanggungjawabkan apa yang telah Anda tulis, dengan data-data yang dapat dipertanggungjawabkan pula.


Tanggapan Saya: Sebagai seorang Pdt & MTh, boleh saja anda merasa seakan-akan sudah paham betul Ibrahi Yunani. Sementara anda mengklaim bahwa Frans Donald tidak mengerti Ibrani Yunani. Tapi tampaknya, (maaf) anda terlalu arrogant, pak pendeta! Tapi No matter buat saya. Ok, kalau begitu ini 'panggung anda':
  • Pdt. Teguh Hindarto MTh. Paham Ibrani Yunani.
  • Frans Donald. Tidak mengerti Ibrani Yunani.
Maka, asumsinya secara "fair" Anda dengan saya "tidak imbang" alias "tidak selevel" jika berbicara soal tafsir teologi, Ibrani Yunani.


Tanggapan Teguh Hindarto:

Jika Anda saya anggap tidak selevel dengan saya dalam penguasaan bahasa Ibrani dan Yunani, maka saya tidak akan membuang-buang waktu untuk menanggapi buku Anda. Justru karena saya penasaran dengan kajian Anda dan kecewa setelah membaca isinya, maka muncullah keprihatinan yang mendorong saya untuk mengajak Anda lebih memperdalam lagi ilmu-ilmu tafsir, penerjemahan kebahasaan dan teologia. Saya tidak mendabik dada bahwa saya adalah seorang pakar bahasa Ibrani dan Yunani, saya juga adalah pembelajar sampai hari ini. Namun ulasan Anda yang ”seolah-olah” telah menguasai bahasa Ibrani dan Yunani, sangat mengganggu pikiran saya. Kesimpulan-kesimpulan yang Anda bangun, tidak memadai dengan pemahaman Anda yang terbatas dibidang kebahasaan, yaitu Ibrani dan Yunani [lihat kembali ulasan yang saya susun untuk mengoreksi cara berfikir Anda mengenai Kolose 2:9, Wahyu 3:14, Filipi 2:16, Yokhanan 1:1]


Tapi anda perlu tahu bahwa ada "PR Besar" buat anda, pak pendeta! yaitu: Jika Pdt. Teguh Hindarto MTh. yang mengaku paham Ibrani Yunani, berani mengklaim bahwa Yesus adalah Elohim sejati (-yang saya sebut Allah-), maka anda punya "PR Besar" untuk berdialog (+belajar) dengan para pakar dan teolog-teolog berikut:
    1. Hortensius Florimond M. SSL. Lulusan S1 di Sekolah Tinggi Filsafat "Driyarkara"-Jakarta (1989), S1 Teologi "Wedabhakti" Yogyakarta (1993) dan mendapat gelar Sacred Scripture Licenciate (SSL) dari Pontifical Biblical Institute, Roma (1999). Dia pernah mejadi Dosen Tafsir PB di STF Driyarkara Jakarta (1999-2002), Dosen Kitab Suci di Fakultas Pendidikan dan Keguruan Unika Atmajaya-Jakarta (2002-2003) dan sejak tahun 2004 menjadi Pembina Penerjemahan di Departemen Penerjemahan LAI-Bogor sampai sekarang. Dia tegas mengatakan: "Yesus tidak pernah memperkenalkan dirinya sebagai Allah; Paulus tidak pernah menyebut Yesus sebagai Allah!; Perjanjian Baru tidak pernah berbicara Yesus sebagai Allah! ". Hortensius, penerjemah L.A.I, dia sangat mahir alias AHLI IBRANI YUNANI, lho, pak! anda berani mengklaim lebih paham dari dia???
    2. Tom Jacobs, SJ. Guru besar Emeritus Tafsir kitab suci + ahli dogma, Sanata Dharma, Jogja. Dia tegas berulang-ulang mengatakan: "Saya keberatan dengan Yesus Allah. Yesus itu jalan menuju Allah. Yesus menegaskan monoteisme". Soal Yohanes 1:1 dia menegaskan: "Yohanes justru menegaskan bahwa Yesus itu bukan Allah!". Bagaimana pak Hindarto?? anda lebih hebat atau ahli tafsir dari dia?
    3. Prof. DR. J.B. Banawiratma dosen UKDW, Jogja. Tegas terang benderang mengatakan: "Yesus bukan Allah! Tapi jalan menuju Allah!". Bagaimana pak Hindarto, apa anda berani bilang Profesor Doktor lulusan Universitas Insbruck Austria itu tidak mahir Ibrani Yunani, sehingga salah tafsir dan tidak paham Alkitab?
    4. DR. Tjahjadi Nugroho. Ketua Asosiasi Pendeta Indonesia. Tegas mengatakan: "Yesus bukan Allah sejati. Yesus berasal dari Malaikat, utusan Yahweh!. Allah Islam dan Kristen sama!". Silakan anda baca buku-buku beliau: Manusia Yesus Kristus & Keluarga Besar Umat Allah. Setelah baca baru silahkan anda balas email saya ini.
    5. Prof. Thomas Mc Elwain. Profesor ahli Ibrani Yunani + 6 bahasa, Guru Besar Teologi. Tegas mengatakan: "Yesus itu utusan Allah, bukan Allah" dan juga "Allah Islam dan Kristen itu sama". Silahkan baca buku-bukunya, 'Bacalah Bibel', ada di gramedia.
    6. Prof. Richard Rubenstein. Meyakini Yesus bukan Allah sejati. Penulis buku Best Seller "Kala Yesus Jadi Tuhan", ada di gramedia.
Dan masih banyak yang lainnya. Saya yakin -setelah diskusi, mendengar seminar + membaca buku-bukunya- Profesor2 + Doktor2 tersebut jelas lebih ahli soal Ibrani Yunani daripada Pdt. Teguh Hindarto MTh. (Maaf) Saya anjurkan sebelum anda berani mengklaim "..Frans Donald tidak jujur, dusta,.." anda punya PR untuk diskusi + membaca buku-buku mereka dulu, pak pendeta! Saya kawatir jangan-jangan justru anda yang bisa jadi adalah pendusta & menyesatkan jemaat anda?

Tanggapan Teguh Hindarto:
Anda rupa-rupanya hendak mencari dukungan dari sejumlah pakar yang telah menyatakan bahwa ”Yahshua bukan Elohim” [dalam bahasa Anda, ”Yesus bukan Allah”]. Perlu Anda ketahui, pada halaman berapa saya menyatakan bahwa ”Yahshua adalah Elohim?” Saya hanya menegaskan kedudukan Yahshua dari sisi ONTOLOGIS dan dari sisi ANTROPOLOGIS. Dari sisi Ontologis, Dia adalah Sang Firman. Apa itu Firman? Yang Menciptakan alam semesta [Kej 1:3, Mzm 33:6, Yokh 1:3]. Apakah Firman itu diciptakan? Tentu tidak, karena jika Firman diciptakan, maka dengan apakah Firman diciptakan?? Jika Firman tidak diciptakan, maka Firman itu Kekal. Karena hakikat Yahshua adalah Sang Firman, maka Dia Kekal. Dia adalah Firman Elohim. Dari sisi Antropologis, Dia adalah manusia perwujudan Sang Firman. Karena Dia manusia, maka kesejatian manusia ada pada dirinya. Yang saya tegaskan dalam sanggahan saya adalah KESALAHAN BERFIKIR yang Anda lakukan dengan hanya melihat sisi Antropologis Yahshua, sehingga Anda berkesimpulan bahwa Dia ”only human” [manusia biasa]. Jika Dia hanya manusia biasa? Bagaimana mungkin dalam nama-Nya ada kesembuhan, setan-setan gemetar, orang kerasukan disembuhkan, orang lumpuh berjalan?? Adakah nama nabi-nabi dari agama-agama di dunia dapat dipergunakan untuk hal-hal demikian??

Anda kembali hendak mendustai saya dan pembaca awam dengan mengumpulkan sejumlah pernyataan para teolog katolik demi kepentingan Anda, tanpa melihat secara lebih luas konteks yang mereka ucapkan. Pernyataan ”Yesus bukan Allah” atau dalam terminologi yang tepat ”Yahshua bukan Elohim”, harus dimengerti sbb:
    1. Yahshua dalam wujud jasmani sebagai manusia, Dia tidak pernah menyebutkan diri-Nya adalah Elohim
    2. Yahshua dalam wujud jasmani sebagai manusia, menyebut diri-Nya Tuan [Adon, Ibr/Kurios, Yun, Yokh 13:13]
    3. Para Rasul Perjanjian Baru, menyebut Yahshua adalah Mesias, Putra Elohim Yang Hidup [Mat 16:16], Sang Tuan [Rm 10:9-10]
Para teolog Katolik di atas, berbicara dalam perspektif ini. Namun mereka tidak menolak HAKIKAT KEELOHIMAN Yahshua sebagai Sang Firman. Berbeda dengan Anda dan juga DR. Tjahjadi Nugroho yang menolak secara keseluruhan Keelohiman Yahshua sebagai Sang Firman.

Saya sangat setuju bahwa sebutan ”Tuhan” bagi Yahshua harus ditinjau ulang. Sebutan yang benar untuk Yahshua bukan ”Tuhan” tetapi ”Tuan”, karena kata Ibrani ”Adon” atau Yunani, ”Kurios” bermakna ”yang dihormati”, yang setara dengan sebutan bahasa Jawa ”Gusti”, di mana sebutan-sebutan di atas dapat diterapkan bagi Tuhan maupun manusia. Namun bukan berarti saya menolak sisi ONTOLOGIS dari Yahshua sebagai Sang Firman Yang Kekal. Meskipun Yahshua disebut ”Tuan” namun bukan tuan dalam pengertian biasa. Dia adalah Tuan di atas segala tuan.

Letak kekeliruan Anda yang fatal adalah MELUPAKAN/MENGABAIKAN SISI ONTOLOGIS Yahshua dan hanya MENEKANKAN SISI ANTROPOLOGIS Yahshua. Seharusnya Anda mengkaji lebih mendalam pernyataan Yokhanan 1-14 dari sisi hebraik sebagai akar Kekristenan, sehingga maksud teks tersebut dapat ditangkap dengan lebih akurat.


Nah, terus soal pembahasan Yoh 1:1, anda bilang Sdr. Frans Donald hendak mengajari bebek berenang.
Tanggapan saya:
Pak Pendeta, sangat banyak "bebek yang mahir berenang" bilang bahwa Yoh 1:1 tidak membuktikan Yesus sebagai Allah(Elohim) sejati. Jadi sepertinya anda salah tuduh, pak! Sementara anda seolah mengaku sebagai ’bebek’mahir Ibrani Yunani. Di buku anda banyak kutipan Ibrani Yunani memang, mungkin orang awam akan terpedaya seolah anda pasti benar, tapi orang yang tahu betul tidak akan terpedaya pak. Atau jangan-jangan itu Ibrani Yunani yang anda 'paksa' tafsirkan versi dogma ajaran anda sendiri.


Tanggapan Teguh Hindarto:
Anda memang tidak sendirian. Anda hanya salah satu dari sekian ratus bahkan ribu bahkan juga jutaan orang yang memiliki pemahaman bahwa ”Yahshua adalah suatu firman”. Persoalannya bukanlah seberapa banyak orang yang mendukung gagasan Anda. Bukan pula menjadi bukti bahwa orang-orang yang berpikiran sama dengan Anda, sebelum Anda menuliskan buku Anda, adalah bukti kebenaran dari apa yang Anda tuliskan. Persoalan pentingnya adalah, sejauh manakah pendapat/pandangan tersebut dapat dipertanggungjawabkan berdasarkan teks Ibrani dan Yunani yang ada, dengan didukung oleh studi teologi yang lain. Maka dari itu, silahkan Anda mengajukan sanggahan yang bukan hanya ucapan para teolog tapi pengkajian teks, tafsir dan literatur. Mari kita menguji analisis dengan analisis. Ini yang belum Anda dalam tanggapan Anda terhadap sanggahan saya. Silahkan memberikan analisis teks dan tafsir terhadap Yokhanan 1:1-18, Kolose 2:16, Filipi 2:6, Wahyu 3:14 dan jangan berputar-putar memberikan tanggapan yang di luar konteks pembahasan.


Ini pembahasan saya soal Yoh 1:1 untuk anda,pak pendeta!

Yohanes 1:1
“Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”

Klaim Penganut dogma Yesus Allah:
Pada Frase terakhir ayat ini menyatakan bahwa Firman [yang mengacu pada Yesus] itu adalah Allah. Bukankah itu berarti Yesus sama dengan Allah?

Jawab:
Istilah kata "Allah/allah" dalam Alkitab merupakan padanan kata elohiym (Ibrani), theos (Yunani), God (Inggris). Sebagai catatan: dalam bahasa Ibrani [teks asli Alkitab, Perjanjian Lama] tidak ada pembedaan huruf besar-kecil. Jadi Allah dan allah sama saja, tidak ada bedanya. Istilah "allah" [elohiym / theos] dalam Alkitab bisa berarti dua macam makna:


Tanggapan Teguh Hindarto:
Nah, Anda rupanya tidak membaca dengan baik buku saya berjudul MEWASPADAI NEO ARIANISME halaman 5-8 di mana saya telah membantah akurasi penggunaan nama Allah dalam terjemahan Kitab Suci berbahasa Indonesia. Bahkan secara mendalam kajian itu telah saya ulas dalam Bab VII buku saya berjudul KEMBALI KE YERUSALEM. Seharusnya Anda menanggapi terlebih dahulu argumentasi saya yang mengulas bahwa penyebutan nama Allah yang disejajarkan dengan Elohim adalah tidak tepat. Sekali lagi saya kurip pernyataan saya dalam buku MEWASPADAI NEO ARIANISME hal 5-8 sbb:


Allah bukan bahasa tapi nama. Nama siapa? Nama sesembahan [ilah, Arb/eloah,Ibr] bangsa Arab pra Islam dan saat Islam disiarkan oleh Muhamad. Tidak ada informasi dalam TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] dan Brit Khadasha [Perjanjian Baru] yang menginformasikan bahwa Allah, adalah sesembahan Yudaisme maupun Kekristenan.

Berbicara mengenai asal-usul dan filologi nama Allah, memang masih banyak kontroversi. Pendapat Anda yang mengatakan bahwa nama Allah adalah bentukan dari Al dan Ilah, hanyalah salah satu dari sekian banyak pendapat. Dalam makalah yang saya presentasikan di Auditorium Duta Wacana, Yogyakarta, saya mengulas mengenai dua kelompok teori asal-usul nama Allahm sbb:

Pandangan Islam: Allah, berasal dari kata Al [definite article, The] dan Ilah [generic name, God]. Penyingkatan dari kata Al dan Ilah menjadi Allah, untuk menandai sesuatu yang telah dikenal. Dalam perkembangannya, untuk mempermudah hamzat yang berada diantara dua lam [huruf ‘LL’], huruf ‘I’ tidak diucapkan sehingga berbunyi Allah dan menjadi suatu nama yang khusus dan tidak berakar[f1]. Ada pula yang berpendapat bahwa Allah berasal dari Al Ilahah, Al Uluhah dan Al Uluhiyah yang bermakna ibadah atau penyembahan[f2]. Yang lain mengajukan bahwa Allah berasal dari kata Alaha yang berarti menakjubkan atau mengherankan karena segala perbuatannya[f3]. Sementara ada yang berargumentasi bahwa Allah berasal dari kata, Aliha ya’lahu yang bermakna tenang[f4]. Kelompok pemikir dari Kufah mengatakan bahwa Allah, berasal dari Al-Lah, yang diambil dari verba noun lah yang berasal dari kata lahaya yang bermakna menjadi tinggi[f5]. Sedangkan Ibn Al Arabi menyatakan bahwa Tuhan itu tidak bernama, tetapi Dzat yang dinamakan oleh umatNya. Penamaan terhadap Tuhan, berarti melimitasi eksistensi Tuhan[f6].

Pandangan Kristen : Ada yang beranggapan bahwa Allah adalah berasal dari sumber Syriac, Alaha[f7]. Sementara yang lain berpendapat bahwa Allah berasal dari akar kata rumpun semitis El, Eloah dan Elohim serta Alaha. Bentuk Arabnya Ilah, lalu mendapat imbuhan Al yang berfungsi sebagai definite article [The God- Al Ilah-Allah] [f8]. Kata Allah berasal dari Al dan Ilah. Akar kata ini terdapat dalam semua bahasa semitis, yaitu dua konsonan alif dan lam serta ucapan yang lengkap dengan huruf hidup adalah sesuai dengan phonetik masing-masing[f9]. George Fry dan James R. King menyampaikan, “the name by which God is known to muslim, Allah is generally thought to be the proper noun form of the Arabic word for God, Ilah. Al, meaning The ini Arabic word. This word is related to the Hebrew from El and Elohim[f10]. J. Blau menjelaskan bahwa kata Allah adalah murni dari konteks Arab dan bukan dari sumber Syriac[f11].

Saya keberatan jika nama Allah merupakan bentukan dari Al dan Ilah dikarenakan:

Allah, bukan bentukan atau kontraksi dari Al dan Ilah. Jika benar Allah adalah kontraksi dari Al dan Ilah, mengapa logika ini tidak berlaku untuk kata Arab lainnya seperti, Al dan Iman, mengapa tidak menjadi Alman? Al dan Ilmu mengapa tidak menjadi Almu? Bambang Noorsena pernah membantah dengan menyatakan bahwa kasus penyingkatan Al dan Ilah, hanya terjadi dalam bahasa Arab[f12]. Renungkan: mengapa penyingkatan ini menjadi sangat istimewa pada kata Al dan Ilah?

Allah, bukan berasal dari rumpun kata semitis El, Eloah dan Elohim. Jika Allah adalah rumpun semitis dengan istilah Ibrani, El, Eloah dan Elohim, maka bentuk gramatika jamak untuk Allah itu apa? Dalam terminologi Hebraik, penjamakan kata benda, selalu digunakan akhiran “im” [jika gendernya maskulin] atau “ot” dan “ah”, [jika gendernya feminin] [f13]. Kata “khay” [hidup] bentuk jamaknya adalah “khayim” [kehidupan]. Kata “Eloah”, bentuk jamaknya “Elohim”. Demikian pula dalam bahasa Arab, istilah Ilah [yang sepadan dengan Eloah], bentuk jamaknya adalah Alihah [Ilah-ilah]. Adakah bentuk jamak dari Allah? [f14] Renungkan: Adakah tata bahasa yang membenarkan bahwa nama diri ditulis dalam bentuk jamak?

Dalam Kitab Suci TaNaKh, tidak ada ditemui kata Allah dalam konotasi nama diri. Dalam naskah TaNaKh berbahasa Ibrani, ada sejumlah kata yang berkonotasi dengan Allah, namun sesungguhnya bukan. Contoh:
  • Alla [], huruf ‘h’ diakhir kata tidak diucapkan karena tidak ada titik pengeras atau dagesh forte. Artinya, “sumpah” [1 Raj 8:31]
  • Alla [], huruf ‘h’ akhir tidak diucapkan. Artinya, “pohon besar” [Yos 24:26]
  • Ela [], huruf ‘h’ diakhir kalimat tidak diucapkan. Artinya, “nama suatu kaum” [Kej 34:41] dan “nama raja di Israel” [1 Raj 16:6-8]
  • Elaha [, Dan 5:21], Elah [, Dan 2;47a], Elahakhon [ Dan 2:47b], adalah varian bahasa Aram yang artinya sama dengan Eloah dalam bahasa Ibrani. Baik Elah, Elaha atau Elahakhon dapat menunjuk pada terminologi Sesembahan Israel Yang Sejati atau terminologi umum untuk sesembahan diluar Israel
  • Eloah [, Hab 3:3], Elohei [, 1 Taw 16:26], Elohim [, Kej 1:1], artinya Yang Maha Kuasa atau Sesembahan. Dalam bahasa Inggris diterjemahkan God dan dalam bahasa Yunani diterjemahkan Theos.
  • El [, Kej 33:20] artinya Yang Maha Kuat
Dalam Kitab Perjanjian Baru [Beshorah-Injil], tidak ditemui kata-kata yang menunjuk pada nama diri Allah. Ketika Yahshua [Yesus] berteriak di kayu salib saat kematianNya, Dia berseru: “Eli-Eli Lama Shabakhtani?” [Mat 27:46]. Kata “Eli’, merupakan bentuk singkat dari “Elohim” dan “Anokhi” atau “Ani” [saya]. Kebiasaan menyingkat kalimat seperti ini biasa terjadi dalam tradisi Israel. Perhatikan dalam Keluaran 15:2 yang selengkapnya dalam naskah Hebraik: “ze Eli, weanwehu Elohei abi waaromenhu” . Kata “Eli” dalam ayat tersebut diartikan “Sesembahanku” atau “Tuhanku”. Seruan Eli-Eli lama sabakhtani dalam Matius 27:46 dalam Kitab Suci berbahasa Arab dituliskan, “Ilahi-Ilahi limadza taroktani?” dan bukan “Allahi-Allahi limadza taroktani?”.

Dengan demikian, padanan untuk istilah Arab Ilah adalah Eloah atau Elohim dalam bahasa Ibrani. Dan jika di Indonesiakan seharusnya diterjemahkan Tuhan atau sesembahan dan bukan Allah, karena Allah adalah nama Ilah atau nama Eloah atau nama Tuhan Bangsa Arab pra Islam dan yang dianut Bangsa Islam.


Nah, silahkan Anda memberikan sanggahan atau tanggapan yang bersifat analitis berdasarkan kebahasaan, mengenai relavansi penggunaan nama Allah dalam terjemahan Kitab Suci Kekristenan di Indonesia. Saya menunggu sanggahan Anda…

Pertama, "allah" menunjuk pada 'allah sejati' [The True God] yaitu Bapa / Yahweh, satu-satunya Allah yang benar (Yohanes 17:3).

Kedua, "allah" yang tertulis dalam Alkitab juga bisa berarti 'mahluk-mahluk ilahi/sorgawi' atau divinity (bukan menunjuk pada Allah Sejati). Seperti halnya kata theos di Yoh 1:1 yang oleh LAI diterjemahkan sebagai "allah" (Firman itu adalah Allah) tidak dengan sendirinya menunjuk kepada Allah Sejati, karena kata "allah" [elohiym/theos] di Alkitab digunakan secara umum dalam pengertian mahluk ilahi/sorgawi, atau bahkan nabi dan raja yang secara fungsional menjadi utusan AllahSejati juga bisa disebut sebagai "allah", sebagaimana tertulis dalam:
  • Keluaran 7:1. Musa, sebagai nabi/juru bicara/utusan dari Allah Sejati, dia juga disebut "allah"[elohiym].
  • Mazmur 82:6. Mahluk-mahluk sorgawi juga disebut sebagai "allah"[elohiym].
  • Ibrani 1:8 yang MENGUTIP Mazmur 45:7-8 yang berbicara tentang pernikahan raja ("…Tahtamu ya Allah…") dalam PerjanjianLama, raja juga disebut "allah/elohiym" (dalam arti 'hakim' atau orang yang diagungkan/sangat dihormati).
  • Yesaya 9:5, "Seorang anak telah lahir …namanya disebutkan orang Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, …". Ayat ini berbicara mengenai anak raja Ahaz dan juga bisa ditafsirkan sebagai nubuatan yang mengacu kepada Yesus. Anak Ahaz disebut orang sebagai Allah yang Perkasa (karena di dalam anak itu Allah-Yahweh menyatakan kehadiran dan pertolongan-Nya).
  • Yohanes 10:35 menegaskan bahwa 'penerima dan pembawa' Firman [kepada siapa Firman itu disampaikan] bisa disebut sebagai "allah" juga.

Tanggapan Teguh Hindarto:
Teks Keluaran 7:1 dalam bahasa Ibrani berbunyi: “Wayomer Yahweh el Moshe, reeh netatika elohim le Par’oh…” yang artinya “Dan berfirmanlah Yahweh kepada Moshe, lihatlah bahwa Aku memberikan dirimu seperti elohim bagi Par’oh…”. Terjemahan New Revised Standars Version dan Revised Standard Version menerjemahkan sbb:


NRS Exodus 7:1 The LORD said to Moses, "See, I have made you like God to Pharaoh, and your brother Aaron shall be your prophet.

RSV Exodus 7:1 And the LORD said to Moses, "See, I make you as God to Pharaoh; and Aaron your brother shall be your prophet.


Apakah Moshe benar-benar elohim? Bukan! Dia seperti Elohim yang menyampaikan pesannya kepada Par’oh melalui Harun sebagai nabinya.

Mengenai pengutipan Mazmur 82:6, Yesaya 9:5, harus dilihat dalam konteks profetik yang menunjuk pada status Keelohiman Putra Yahweh, yaitu Sang Firman yang lebih unggul dari semua malaikat, karena Dia bukan malaikat [Band Ibr 1:14]. Nubuat-nubuat tadi menunjukan sifat PRA ADA MESIAS yang kekal bersama Elohim Yahweh.


Nah, dengan demikian kita bisa memahami bahwa DI DALAM ALKITAB: Musa disebut allah, para malaikat disebut para allah, raja juga disebut allah, anak raja Ahaz juga disebut allah, Penerima & Pembawa Firman juga disebut allah. Maka tidak masalah jika Yesus [sebagai Penerima & Pembawa Firman, yang bergelar ho logos, Sang Firman] kemudian di Yoh 1:1 bisa juga disebut sebagai "allah" (kai theos en ho logos, sang firman adalah allah). Dan bisa dipahami, bahwa sekalipun Musa, mahluk-mahluk sorgawi, raja, anak raja, dan penerima-pembawa Firman [termasuk Yesus], mereka semua bisa disebut sebagai "allah", tetapi mereka semua tentu bukanlah AllahSejati.

Tanggapan Teguh Hindarto:
Apa yang salah dalam penyimpulan ini? Hanya dikarena sebutan “elohim” dapat dikenakan kepada selain Elohim Yang Sejati, yaitu Yahweh, namun bukan berarti sebutan “elohim” atau “theos” dalam Yokhanan 1:1 tidak dapat dimaknai sebagai “elohim yang tidak sejati”. Sebagaimana saya telah ulas, bahwa Yokhanan 1:1 berbicara mengenai PRA ADA YAHSHUA sebagai Sang Firman yang BERDIAM DAN BERSAMA [sehakikat] dengan Elohim. Firman itu tidak diciptakan melainkan menciptakan. Karena Firman itu tidak diciptakan, berarti Firman itu Kekal. Adakah yang kekal selain Elohim Yahweh bersama Firman-Nya dan Roh-Nya [Kej 1:1]? Bagaimana mungkin Anda mengatakan bahwa Sang Firman bukan Elohim sejati, jika Dia tidak diciptakan dan kekal adanya??


 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- tguh ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com