ARTIKEL DETIL |
28-07-2007
|
| DISKUSI TEGUH HINDARTO,MTH., DAN SDR. FRANS DONALD BAGIAN PERTAMA (2) |
| |
| |
[Email Sdr. Frans Donald, Tgl 21 Juli 2007 & Email Teguh Hindarto, Tgl 22 Juli 2007]
Dalam Yohanes 1:1 terjemahan Indonesia (LAI) kita jumpai ada dua kata "allah", di frase kedua dan ketiga. Tanpa meneliti bahasa Yunaninya, maka pembacanya sering menangkap "allah" pada frase kedua dan ketiga dianggap sama. Namun, kalau kita meneliti bahasa aslinya, tampak jelas sekali bahwa "allah" pada frase "Firman itu bersama dengan Allah" mengandung perbedaan makna dengan "allah" pada frase "Firman itu adalah Allah".
Untuk lebih jelasnya, mari kita pahami Yohanes 1:1 dalam bahasa Yunani:
a) "en arkhe en ho logos" (pada mulanya adalah sang firman)
b) "kai ho logos en pros ton theos" (sang firman itu bersama-sama dengan sang allah/the god)
c) "kai theos en ho logos" (sang firman adalah allah)
Di bahasa Yunaninya, untuk "allah" pada frase b) dan frase c) tertulis berbeda: 'ton theos' dan 'theos'. Yang pertama memakai kata sandang, sementara yang kedua tidak. Dengan kata sandang dan tanpa kata sandang tentu keduanya memiliki kandungan makna yang bisa berbeda.
Tampaknya bahasa Yunani "theos" bisa bermakna sebagai kata benda dan bisa juga sebagai kata sifat. "Ton" adalah kata sandang. Jadi "ton theos" (di Yohanes 1:1b) berarti The God atau Sang Allah, mengacu pada Allah Sejati. Akan tetapi, tanpa kata sandang "ton" maka "theos" (di Yohanes 1:1c) bisa berarti suatu allah atau keilahian atau "sifat ilahi" (a god / divine). Sebagai perbandingan kata, sama halnya seperti 'si manis' tidak sama artinya dengan 'manis'. Tambahan kata sandang "si" membuat "si manis" bermakna sebagai kata benda, tetapi tanpa "si" maka "manis" mengacu pada kata sifat.
Dengan pemahaman yang lazim, "theos" dalam penggalan Yohanes 1:1c (firman itu adalah allah; kai theos en ho logos) memiliki arti yang berbeda dengan "ton theos" dalam penggalan kedua (firman itu bersama-sama dengan allah; kai ho logos en pros ton theos). Penggalan Yohanes 1:1c terjemahan Indonesia yang saat ini terbaca "Firman itu adalah Allah", tampaknya lebih tepat dipahami sebagai: "Firman itu adalah suatu allah" atau "firman itu bersifat ilahi" atau “allah/ilahi adalah sang firman”.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Anda belum menanggapi sanggahan dan komentar para ahli lain yang saya sampaikan dalam buku MEWASPADAI NEO ARIANISME, tapi kembali mengulang argumentasi Anda yang sudah saya sanggah. Bagaimana ini? Coba perhatikan pernyataan sanggahan mengenai akurasi bunyi teks Yokhanan 1:1 sebagaimana telah saya tulis:
Sebenarnya, cara penulisan “…kai theos en ho logos”, setara dengan kalimat dalam Yokhanan 4:24, “pneuma ho theos” yang diterjemahkan “Elohim adalah Roh” dan bukan “Roh adalah Elohim”. Demikian pula dengan 1 Yokhanan 4:16 yang berbunyi dalam naskah Greek, “ho theos agape estin”, diterjemahkan, “Elohim adalah kasih” dan bukan “kasih adalah Elohim” .
A.T. Robertson dalam Word Pictures In The New Testament, mengatakan:
By exact and careful language John denied Sabelianism by not saying ho theos en ho logos. That would mean that all of God was expressed in ho logos and the term would be interchangeable, each having the article” [f15]
[Dengan bahasa yang lugas dan hati-hati, Yokhanan menolak Sabelianisme dengan tidak mengatakan bahwa ‘ho theos en ho logos’. Kalimat tersebut akan bermakna bahwa keseluruhan Keelohiman {Ketuhanan] diekspresikan di dalam ‘ho logos’ dan kalimat tersebut dapat diubah sebaliknya, dengan meletakkan kata sandang]
Penerjemah Injil Yokhanan dalam bahasa Yunani, telah mengantisipasi pemahaman Sabelianisme, dengan menerjemahkan dalam bahasa Yunani, ”kai theos en ho logos” dan bukan “kai ho theos en ho logos”, karena penerjemahan ini dapat menimbulkan makna bahwa “Elohim adalah Firman”
Berkaitan dengan pemahaman Yokhanan pasal pertama, amat disayangkan bahwa Sdr. Frans Donald tidak memperhatikan keseluruhan teks Yokhanan 1:1-18. Dengan argumentasi yang berputar disekitar bunyi teks yang tepat dari Yokhanan 1:1, yang sesungguhnya hanya mengulang kembali argumentasi komunitas Saksi Yehuwa, Sdr. Frans Donald mengabaikan keseluruhan maksud perikop ini ditulis. Jika kita meneruskan pada ayat 3, kita mendapatkan keterangan akan kekekalan dan kekuasaan Sang Firman, yaitu menciptakan segala sesuatu, sebagaimana dikatakan:
WHO John 1:3 
HNT John 1:3 i
YLT John 1:3 all things through him did happen, and without him happened not even one thing that hath happened.
1:3 Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan [LAI]
Siapa yang menjadikan segala sesuatu dan hanya melaluinya tercipta segala yang ada? Oleh Firman Elohim. Frasa Yokhanan 1:1, menggemakan kembali latar belakang Ibrani mengenai Elohim [Yang Maha Kuasa] Yahweh yang memulai segala sesuatu dan menciptakan segala yang ada [Kej 1:1;2:7]. Segala yang diciptakan oleh Elohim Yahweh, melalui Firman-Nya. Ada sembilan [9] kali frasa, “wayomer Elohim” [berfirmanlah Elohim]. Dan seiring dengan itu, terjadilah benda-benda, mahluk-mahluk ciptaan Elohim Yahweh. Pertanyaannya, apakah Firman itu ciptaan? Jika Firman itu ciptaan, maka dengan apakah Firman itu diciptakan? Tentu saja Firman itu bukan ciptaan. Firman tidak diciptakan, melainkan Daya Cipta yang menjadikan segala sesuatu, sebagaimana dikatakan Sefer Tehilim [Mazmur 33:6] berikut: “bi devar Yahweh shamaym naasyu, ube ruakh piw, kal tsevaam” [Oleh Firman Yahweh langit telah di buat dan oleh nafas dari mulut-Nya, terbentuklah semua tentara-Nya]. Dan menurut Yokhanan 1:14, Firman itu telah menjadi daging atau manusia. Firman yang merupakan Daya Cipta [yang menciptakan], telah menjadi manusia. Peristiwa historis ini mengakibatkan satu kesimpulan bahwa hakikat Yahshua secara ontologis, Sang Firman Elohim Yahweh itu sendiri. Dan secara antropologis, adalah Manusia Sejati. Didalam manusia sejati Yahshua, berdiam keseluruhan kepenuhan Keelohiman secara jasmaniah [Kol 2:9].
Sdr. Frans Donald, bukti bahwa Anda tidak menguasai dan tidak membaca naskah Yunani Yokhanan 1:1 terlihat dari kutipan Anda di atas sbb:
Untuk lebih jelasnya, mari kita pahami Yohanes 1:1 dalam bahasa Yunani:
a) "en arkhe en ho logos" (pada mulanya adalah sang firman)
b) "kai ho logos en pros ton theos" (sang firman itu bersama-sama dengan sang allah/the god)
c) "kai theos en ho logos" (sang firman adalah allah)
Perhatikan kata yang saya beri warna merah. Bandingkan dengan kutipan yang saya ambil dari teks Yunaninya serta pelafalan latinnya sbb:
WHO John 1:1
Selengkapnya kalimat di atas jika dilatinkan sbb: “en arkhe en ho logos kai ho logos en pros ton theon kai theos en ho logos”. Kata “theos”, jika hendak menggunakan kata sandang menggunakan bentuk “ho” menjadi “ho theos”. Jika kata “theon” maka bentuk kata sandangnya menjadi “ton”. Mengapa ada perbedaan antara “theos” dengan “theon?” Kata “theon” dalam frasa “en pros ton theon”, berfungsi sebagai “noun accusative maskulin singular” atau menjadi obyek penderita atau dikenai perbuatan dari kata “logos”. Dengan kata lain, kata “theon” di sini berfungsi sebagai obyek.
Nah, mengenai frasa “kai theos en ho logos”, jangan Anda terpaku dengan tidak adanya kata sandang pada kata “theos”, sehingga menyimpulkan bahwa kata “theos” di sini harus diterjemahkan “suatu elohim”. Anda harus melihat, justru kata “theos” disejajarkan dengan kata “logos”, dalam bentuk “noun nominatif masculine singular”. Maka terjemahan yang akurat adalah “Firman itu Elohim” BUKAN “Firman itu suatu elohim”. Ini dikuatkan dengan teks Yokhanan 4:24, “pneuma ho theos” yang diterjemahkan “Elohim adalah Roh” dan bukan “Roh adalah Elohim”. Demikian pula dengan 1 Yokhanan 4:16 yang berbunyi dalam naskah Greek, “ho theos agape estin”, diterjemahkan, “Elohim adalah kasih” dan bukan “kasih adalah Elohim”.
Dalam berbagai terjemahan bahasa Inggris, Yohanes 1:1c menjadi sangat jelas bahwa Firman itu adalah suatu allah (a god, bersifat ilahi) - The word was a god. Namun, sayangnya sering kaum Trinitarian mengklaim bahwa yang menterjemahkan frase terakhir Yohanes 1:1 "The Word was a god" itu hanyalah Alkitab New World Translation milik sekte Saksi Yehuwa [yang dianggap sesat], sementara Alkitab lainnya menerjemahkan sebagai The word was God (sang firman adalah Allah[sejati]). Tetapi argumentasi serta penyangkalan tersebut ternyata tidaklah benar, karena ternyata Yohanes 1:1c di dalam banyak versi Alkitab justru semakin jelas mencatat bahwa "sang firman itu adalah suatu allah/bersifat ilahi [a god/divine]", sama sekali bukan "sang firman itu adalah Allah sejati [the god]". Bukti-bukti akurat tersebut di antaranya tercatat dalam banyak sekali terjemahan berbagai versi Alkitab berikut ini:
- “and the word was a god” (Newcome, 1808)
- “the Word was God’s” (Crellius,as quoted in The New Testament in an Improved Version)
- “and the Word was a divine being.” (La Bible du Centenaire, L’Evangile selon Jean, by Maurice Goguel,1928)
- “the Logos was a god (John Samuel Thompson, The Montessoran; or The Gospel History According to the Four Evangelists, Baltimore; published by the translator, 1829)
- “the Word was divine” (Goodspeed’s An American Translation, 1939)
- “the word was a god.” (Revised Version-Improved and Corrected)
- “and god[-ly/-like] was the Word.” (Prof. Felix Just, S.J. - Loyola Marymount University)
- “the Logos was divine” (Moffatt’s The Bible, 1972)
- “the Word was God*[ftn. or Deity, Divine, which is a better translation, because the Greek definite article is not present before this Greek word] (International English Bible-Extreme New Testament, 2001)
- “and the Word was a god” (Reijnier Rooleeuw, M.D. -The New Testament of Our Lord Jesus Christ, translated from the Greek, 1694)
- “[A]s a god the Command was” (Hermann Heinfetter, A Literal Translation of the New Testament,1863)
- “The Word was a God” (Abner Kneeland-The New Testament in Greek and English, 1822)
- “ [A]nd a God (i.e. a Divine Being) was the Word” (Robert Young, LL.D. (Concise Commentary on the Holy Bible [Grand Rapids: Baker, n.d.], 54). 1885)
- “the Word was a god” (Belsham N.T. 1809)
- “And the logos was a god” (Leicester Ambrose, The Final Theology, Volume 1, New York, New York; M.B. Sawyer and Company, 1879)
- “the Word was Deistic [=The Word was Godly] (Charles A.L. Totten, The Gospel of History, 1900)
- ”[A]nd was a god” (J.N. Jannaris, Zeitschrift fur die Newtestameutlich Wissencraft, (German periodical) 1901, International Bible Translators N.T. 1981)
- “[A] Divine Person.” (Samuel Clarke, M.A., D.D., rector of St. James, Westminster, A Paraphrase on the Gospel of John, London)
- “a God” (Joseph Priestley, LL.D., F.R.S. [Philadelphia: Thomas Dobson, 1794], 37).)
- “a God” (Lant Carpenter, LL.D (in Unitarianism in the Gospels [London: C. Stower, 1809], 156).)
- “a god” (Andrews Norton, D.D. [Cambridge: Brown, Shattuck, and Company, 1833], 74).)
- “a God” (Paul Wernle,(in The Beginnings of Christianity, vol. 1, The Rise of Religion [1903], 16).)
- “and the [Marshal] [Word] was a god.” (21st Century Literal)
- [A]nd (a) God was the word” (George William Horner, The Coptic Version of the New Testament, 1911)
- “[A]nd the Word was of divine nature” (Ernest Findlay Scott, The Literature of the New Testament, New York, Columbia University Press, 1932)
- [T]he Word was a God” (James L. Tomanec, The New Testament of our Lord and Savior Jesus Anointed, 1958)
- “The Word had the same nature as God” (Philip Harner, JBL, Vol. 92, 1974)
- “And a god (or, of a divine kind) was the Word” (Siegfried Schulz, Das Evangelium nach Johannes, 1975)
- “and godlike sort was the Logos” (Johannes Schneider, Das Evangelium nach Johannes, 1978)
- “the Word was a divine Being” (Scholar’s Version-The Five Gospels, 1993)
- “The Divine word and wisdom was there with God, and it was what God was” (J. Madsen, New Testament A Rendering , 1994)
- “a God/god was the Logos/logos” (Jurgen Becker, Das Evangelium nach Johannes, 1979)
- “The Word/word was itself a divine Being/being.” (Curt Stage, The New Testament, 1907)
- “the Word was of divine kind” (Lyder Brun (Norw. professor of NT theology), 1945)
- “was of divine Kind/kind” (Fredrich Pfaefflin, The New Testament, 1949)
- “godlike Being/being had the Word/word” (Albrecht, 1957)
- “the word of the world was a divine being” (Smit, 1960)
- “God(=godlike Being/being) was the Word/word” (Menge, 1961)
- “divine (of the category divinity)was the Logos” (Haenchen (tr. By R. Funk), 1984)
- “And the Word was divine.” (William Temple, Archbishop of York, Readings in St. John’s Gospel, London, Macmillan & Co.,1933)
- The Word of Speech was a God” (John Crellius, Latin form of German, The 2 Books of John Crellius Fancus, Touching One God the Father, 1631)
- “the word was with Allah[God] and the word was a god” (Greek Orthodox /Arabic Calendar, incorporating portions of the 4 Gospels, Greek Orthodox Patriarchy or Beirut, May, 1983)
- “And the Word was Divine” (Ervin Edward Stringfellow (Prof. of NT Language and Literature/Drake University, 1943)
- “and the Logos was divine (a divine being)” (Robert Harvey, D.D., Professor of New Testament Language and Literature, Westminster College, Cambridge, in The Historic Jesus in the New Testament, London, Student Movement Christian Press1931)
- ‘the word was a divine being.’ (Jesuit John L. McKenzie, 1965, wrote in his Dictionary of the Bible: “Jn 1:1 should rigorously be translated . . . ‘the word was a divine being.’)
- “In a beginning was the Word, and the Word was with the God, and a god was the Word.” (Interlineary Word for Word English Translation-Emphatic Diaglott)
Kesimpulan:
Frase "Firman itu adalah Allah" di Yohanes 1:1c tidak bermakna bahwa Yesus itu adalah Allah Sejati. Yohanes 1:1 tidaklah tepat untuk dijadikan dasar ayat guna membuktikan seolah-olah Yesus itu adalah AllahSejati (The true God) seperti klaim kaum Trinitarian. Yohanes 1:1 samasekali tidak menerangkan bahwa Yesus itu adalah Allah sejati/The true God. "Firman itu adalah Allah" (kai theos en ho logos) hanya akan tepat dipahami sebagai "sang firman itu adalah suatu allah/mahluk yang bersifat ilahi".
Tanggapan Teguh Hindarto:
Kutipan terjemahan Yokanan 1:1 dari 49 sumber terjemahan di atas, hanyalah salah satu dari sekian banyak pola terjemahan yang meyakini bahwa frasa ”kai theos en ho logos” harus diterjemahkan dengan ”dan firman itu suatu elohim/ilahi”. Persoalan pentingnya bukanlah terletak pada berapa banyak penerjemah yang mendukung gagasan Anda, melainkan seberapa akuratkah terjemahan yang sudah mereka lakukan terhadap frasa ”kai theos en ho logos” dalam Yokanan 1:1 tersebut. Daripada Anda bersusah payah mengajukan terjemahan sebanyak itu, berikanlah analisis argumentatif mengenai akurasi terjemahan Yokanan 1:1 setelah pernyataan Anda saya gugurkan.
Anda harus membedakan kedudukan Pra Ada Yahshua sebagai Sang Firman yang Kekal, dengan keberadaan Sang Firman yang telah menjadi manusia Yahshua. Yokanan 1:1 berbicara mengenai Pra Ada Yahshua sebagai Sang Firman yang sehakikat dengan Elohim Yahweh, sementara Yokanan 1:14 berbicara mengenai Sang Firman yang menjadi manusia. Jika Anda mengatakan Yahshua bukanlah Elohim berdasarkan Yokanan 1:14, jelas sangat keliru karena ayat ini berbicara mengenai ”menjadinya” Firman dalam wujud manusia Yahshua. Namun jika membahas sisi Ontologisnya dari Yokanan 1:1, maka menjadi jelas bahwa hakikat Yahshua adalah Sang Firman. Dan Firman itu adalah Elohim.
Jika Anda bersikukuh menerjemahkan ”Firman itu suatu elohim”, ini mengandung konsekwensi bahwa Sang Firman adalah mahluk ciptaan. Jika Firman adalah mahluk ciptaan, mengapa pada Yokanan 1:3 dikatakan: ”panta di autou egeneto...” yang artinya ”segala sesuatu menjadi ada melalui-Nya...??”
Siapa yang menjadikan segala sesuatu dan hanya melaluinya tercipta segala yang ada? Oleh Firman Elohim. Frasa Yokhanan 1:1, menggemakan kembali latar belakang Ibrani mengenai Elohim [Yang Maha Kuasa] Yahweh yang memulai segala sesuatu dan menciptakan segala yang ada [Kej 1:1;2:7]. Segala yang diciptakan oleh Elohim Yahweh, melalui Firman-Nya. Ada sembilan [9] kali frasa, “wayomer Elohim” [berfirmanlah Elohim]. Dan seiring dengan itu, terjadilah benda-benda, mahluk-mahluk ciptaan Elohim Yahweh. Pertanyaannya, apakah Firman itu ciptaan? Jika Firman itu ciptaan, maka dengan apakah Firman itu diciptakan? Tentu saja Firman itu bukan ciptaan. Firman tidak diciptakan, melainkan Daya Cipta yang menjadikan segala sesuatu, sebagaimana dikatakan Sefer Tehilim [Mazmur 33:6] berikut: “bi devar Yahweh shamaym naasyu, ube ruakh piw, kal tsevaam” [Oleh Firman Yahweh langit telah di buat dan oleh nafas dari mulut-Nya, terbentuklah semua tentara-Nya]. Dan menurut Yokhanan 1:14, Firman itu telah menjadi daging atau manusia. Firman yang merupakan Daya Cipta [yang menciptakan], telah menjadi manusia. Peristiwa historis ini mengakibatkan satu kesimpulan bahwa hakikat Yahshua secara ontologis, Sang Firman Elohim Yahweh itu sendiri. Dan secara antropologis, adalah Manusia Sejati. Didalam manusia sejati Yahshua, berdiam keseluruhan kepenuhan Keelohiman secara jasmaniah [Kol 2:9].
Jika Yoh 1:1 (sebagai awal Injil Yohanes) ‘dipaksakan’ digunakan untuk seolah-olah membuktikan Yesus sebagai Allah Sejati, maka hal itu akan bertentangan dengan isi dan akhir dari Injil Yohanes itu sendiri, karena:
Pertama, tulisan Injil Yohanes mengenai kesaksian Yesus tentang dirinya sendiri sangatlah terang benderang berkali-kali mengatakan bahwa Yesus adalah UTUSAN ALLAH (bukan Allah itu sendiri). Hal itu tertulis di antaranya:
Yoh 5:23 “…Bapa yang mengutus dia(Yesus)”
Yoh 5:24 “ …Dia(Bapa) yang mengutus aku”
Yoh 5:30 “..Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus aku”
Yoh 5:36 “…Bapa yang mengutus aku”
Yoh 5:37 “Bapa yang mengutus aku ..”
Yoh 5:38 “Dia(Yesus) yang diutus-Nya”
Yoh 6:29 “hendaklah kamu percaya kepada Dia yang diutus Allah”
Yoh 6:38 “Aku telah turun dari sorga bukan untuk melakukan kehendakku, tetapi untuk melakukan kehendak Dia yang telah mengutus aku”
Yoh 6:44 “..Bapa yang mengutus aku”
Yoh 6:57 “Bapa yang hidup mengutus aku ..”
Yoh 7:16 “Ajaranku tidak dari diriku sendiri, tetapi dari Dia yang mengutus aku”
Yoh 7:28 “..Aku datang bukan atas kehendakku sendiri, tetapi aku diutus oleh Dia yang benar yang tidak kamu kenal”
Yoh 7:29 “Aku kenal Dia sebab aku datang dari Dia dan Dialah yang mengutus aku”
Yoh 7:33 “..aku akan pergi kepada Dia yang mengutus aku”
Yoh 17:3 kunci hidup kekal: “Mengenal satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus utusan Allah”
Dllnya.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Sdr. Frans, rupanya Anda bingung dan belum bisa membedakan sisi Ontologis dan sisi Antropologis Yahshua. Anda terus menerus memfokuskan diri pada teks-teks dalam Kitab Brit Khadasha [Perjanjian Baru] yang menuliskan sisi Antropologis Yahshua, namun tidak secara serius memperhatikan ayat-ayat yang memperlihatkan sisi Ontologis Yahshua sebagai Sang Firman Yang Kekal. Padahal diayat-ayat lainnya Yahshua berkata: ”Aku datang dan keluar dari Bapa” [Yoh 8:42], ”Barangsiapa telah melihat Aku, dia telah melihat Bapa” [Yoh 10:49]. Rasul Paul pun memberiakan kesaksian bahwa ” “Di dalam Dia berdiam keseluruhan sifat Ketuhanan, dalam wujud badani”. Ayat ini menegaskan sifat unitas yang terjaga seimbang dan sempurna, tidak bercampur tidak terpisah antara Ketuhanan dn kemanusiaan.
Kedua, berdasar bagian akhir Injil Yohanes, menurut kesaksian Penulisnya (di Yohanes 20:31), secara terus terang menegaskan bahwa: SEMUA hal yang dicatat dalam Injil Yohanes adalah bukan supaya orang percaya bahwa Yesus itu AllahSejati atau Allah itu Bapa-Putera(Yesus)-Roh, tidak!, melainkan supaya orang percaya bahwa Yesus adalah MESIAS, Anak Allah! Injil Yohanes tegas tidak mengatakan: Yesus sebagai Allah Anak/AllahSejati – sebagaimana klaim Penganut dogma Yesus Allah/Trinitarian - , melainkan Yesus adalah Mesias [yang diurapi oleh Allah/utusan Allah] . Satu-satunya Allah yang benar hanya Bapa saja (Yohanes 17:3). Maka secara keseluruhan dari sejak awal – isi – sampai akhir injil Yohanes secara utuh menjelaskan bahwa Yesus adalah MESIAS/UTUSAN YANG DIURAPI OLEH ALLAH.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Sdr. Frans Donald, saya mau bertanya pada Anda: apakah anak kambing bukan kambing? Apakah anak manusia bukan manusia? Apakah anak kunci bukan kunci? Apakah Putra Elohim bukan Elohim? Apakah Mesias yang dijanjikan dalam TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim] hanya bersifat manusiawi belaka atau justru bersifat Ketuhanan dan Kemanusiaan? Perhatikan nubuatan mengeai Mesias dalam Mikha 5:1 ”Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” [LAI, Alkitab Elektronik seri 2.00]. Frasa, ” yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala” dalam bahasa Ibrani berbunyi, ”umotsaotaiw miqedem mimey olam”. Kebanyakan penerjemah mengartikan ”olam” dengan ”zaman purbakala”, namun New King James Version 1982 menerjemahkan: Whose goings forth are from of old, From everlasting." Yang artinya “kemunculannya sejak lampau dan dari kekekalan”. Inilah terjemahan yang akurat. Dengan demikian, Mesias, Putra Elohim Yang Hidup datang dari kekekalan. Diperanakkan namun tidak diciptakan. Anda nyaris tidak memberikan sanggahan terhadap kajian saya. Anda hanya berputar-putar dan mengulang-ulang argumentasi yang telah saya sanggah.
Yesus ilahi, pasti dia Allah?
Pertanyaan Trinitarian/Penganut dogma Yesus Allah:
Kalau Yohanes 1:1c ditafsirkan bahwa Firman itu suatu ilah (atau ilahi), tetapi bukan Allah itu sendiri, pertanyaannya apa ada sesuatu yang ilahi di luar Allah? Bukankah hanya Allah saja sebagai satu-satunya yang ilahi?
Jawab:
O ya? Siapa bilang tidak ada yang ilahi selain Allah. Kita bisa bandingkan dengan surat 2Petrus 1:3-4: "Karena kuasa ilahi-Nya telah menganugerahkan kepada kita segala sesuatu yang berguna untuk hidup yang saleh oleh pengenalan kita akan Dia,yang telah memanggil kita oleh kuasa-Nya yang mulia dan ajaib. Dengan jalan itu Ia telah menganugerahkan kepada kita janji-janji yang berharga dan yang sangat besar, supaya olehnya kamu boleh mengambil bagian dalam kodrat ilahi, dan luput dari hawa nafsu duniawi yang membinasakan dunia."
Manusia ciptaan Allah bisa memiliki kodrat ilahi! (termasuk Yesus). Tetapi manusia yang ilahi tidak serta merta hal itu menjadikannya sebagai Allah Sejati atau setara dengan Allah. Manusia-manusia ilahi (manusia Allah, 1Timotius 6:11), sekalipun memiliki sifat-sifat Allah yang ilahi (kasih, setia, adil, jujur, benar), tetapi tetaplah manusia, mahluk ciptaan Allah.
Sebagai contoh: ada seekor anjing (binatang) yang sangat pintar, namanya Rin Tin Tin. Dia bisa menyelamatkan orang yang tenggelam di sungai Rhein. Dia bisa menyelamatkan orang-orang yang menyeberang, sampai dia diberi pangkat Mayor di kepolisian. Mayor Rin Tin Tin. Dia manusiawi, bukan? Seekor anjing (binatang) bisa manusiawi, tetapi dia bukanlah manusia.
Demikian juga dengan ke-ilahi-an. Orang-orang saleh yang betul-betul mengenal dan menghidupkan sifat-sifat Allah (kasih, setia, adil, jujur, benar), akan bisa menjadi manusia yang ilahi (termasuk Yesus dan para nabi dan rasul), tanpa harus 'dijadikan' Allah yang sejati.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Rupanya Anda belum bisa membedakan istilah ILAH dan ALLAH. Istilah Arab, “Ilah” setara dengan “Eloah” atau “Elohim” dalam bahasa Ibrani. Dalam bahasa Inggris ini setara dengan “God”. Sementara “Allah” adalah nama diri dari Ilah pra Islam sekaligus yang dipercayai oleh Muhamad dan pengikutnya, kaum Muslim. Sementara Anda dan hampir kebanyakan orang Kristen di Indonesia, nama Allah disejajarkan dengan Ilah atau Eloah atau God. Jelas ini keliru.
Karenanya, pertanyaan Anda menjadi salah. ”apa ada sesuatu yang ilahi di luar Allah? Bukankah hanya Allah saja sebagai satu-satunya yang ilahi?” seharusnya pertanyaannya, “apa ada sesuatu yang ilahi diluar Ilah yang benar?” atau “bukankah hanya Yahweh saja satu-satunya Elohim [Ilah]?” Demikian pula pertanyaan “jika Yahshua ilahi, pastilah Dia Allah” adalah sangat-sangat keliru. Seharusnya, “jika Yahshua itu Elohim, apakah Dia Yahweh itu sendiri?” Inilah kenapa saya terus menerus mengingatkan Anda untuk mendalami terlebih dahulu penggunaan nama Allah yang rancu dalam Kekristenan, barulah Anda dapat memahami perbedaan yang teramat jauh antara sesembahan Islam dan Kristen.
Yesus Diperanakkan, Dilahirkan, Bukan Diciptakan?
Klaim Penganut Dogma Yesus Allah:
Sebagai Anak Allah, Yesus itu diperanakkan (Mazmur 2:7, Ibrani 1:5, Kisah 13:33) dan dilahirkan (1Yohanes 5:18), bukan diciptakan. Diperanakkan / dilahirkan artinya 'keluar' dari Pribadi Allah, bukan dibentuk atau diciptakan dari yang tidak ada menjadi ada.
Jawab:
Istilah 'anak' dalam Alkitab menggambarkan kedekatan dan perhatian yang penuh antara Sang Pencipta dengan ciptaan-ciptaanNya, seperti seorang Bapak dengan anaknya. Demikian pula hubungan Yesus dengan Penciptanya sebagaimana tertulis dalam Ibrani 1:5 Allah berfirman: "Anak-Ku Engkau! Engkau telah Kuperanakkan .. Aku akan menjadi Bapa-nya, dan Ia akan menjadi Anak-Ku".
Kata 'diperanakkan' serta 'dilahirkan' sebenarnya di Alkitab juga memiliki makna 'diciptakan' atau 'dibentuk/dibuat'. Hal itu bisa kita bandingkan dengan Yesaya 66:8 "Masakan suatu negeri diperanakkan dalam satu hari atau suatu bangsa dilahirkan dalam satu kali?", Mazmur 90:1-2, Musa berdoa: "Tuhan, Engkaulah tempat perteduhan kami turun-temurun. Sebelum gunung-gunung dilahirkan, dan bumi dan dunia diperanakkan, bahkan dari selama-lamanya sampai selama-lamanya Engkaulah Allah".
Kata 'dilahirkan' dan 'diperanakkan' dalam ayat tersebut jelas mengandung arti DICIPTAKAN. Gunung-gunung dilahirkan, artinya = gunung-gunung diciptakan/dibentuk. Bumi dan dunia diperanakkan, artinya = bumi dan dunia diciptakan. Memahami Yesus diperanakkan/dilahirkan dalam makna diciptakan/dibentuk, adalah sangat sesuai juga dengan kesaksian Rasul Yohanes dalam Wahyu 3:14: Yesus (yang bergelar Amin, 2Korintus 1:20) adalah permulaan dari CIPTAAN Allah! Juga di Amsal 8:22, Hikmat (yang adalah gelar untuk Yesus, bdkn. 1Korintus 1:24) dikatakan sebagai permulaan ciptaan Allah. Hikmat/Yesus sendiri mengakui: "Yahweh telah menciptakan aku, sebagai permulaan pekerjaan-Nya, sebagai perbuatan-Nya yang pertama-tama dahulu kala. Sudah pada zaman purbakala aku dibentuk, pada mula pertama, sebelum bumi ada" (Amsal 8:22-23). Yesus adalah ciptaan Allah, bukan Allah itu sendiri.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Kata ”diperanakan” atau ”dilahirkan” bisa memiliki makna ganda. Makna konotatif dan makna denotatif. Jika dikatakan, ”Avraham memperanakan Yitskhaq”, maka artinya Yitskhaq adalah keturunan biologis Avraham [makna denotatif]. Jika dikatakan, ”bumi dan dunia diperanakkan” maka artinya ”bumi dan dunia diadakan, dijadikan oleh Elohim Yahweh [makna konotatif]. Jika dikatakan ”Yahshua diperanakkan oleh Elohim”, BERBEDA ARTI DAN KUALITAS MAKNANYA dengan kalimat, ”Avraham memperanakan Yitskhaq”. Mengapa? Karena baik Avraham dan Yitskhaq adalah manusia ciptaan Elohim Yahweh. Sementara Yahshua BUKAN CIPTAAN. Bukankah dalam Matius 1:18 dikatakan: ”Kelahiran [Yahshua Sang Mesias] adalah seperti berikut: Pada waktu [Miriam], ibu-Nya, bertunangan dengan [Yosef], ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri”. Adakah dikatakan bahwa Yahshua hasil persetubuhan biologis? Tidak! Karena kelahiran Yahshua adalah peristiwa METAFISIK. Oleh karenanya Yahshua BUKAN MAHLUK CIPTAAN sekalipun wadag-Nya adalah manusia sejati. Istilah ”diperanakan” bagi Yahshua menunjuk tiga arti sbb: Pertama, ”penetapan diri-Nya sebagai Putra Elohim yang akan melaksanakan karya penyelamatan, sebelum adanya waktu”. Kedua, mengandung maksud ”Firman yang menjadi manusia” mengejawantahkan Elohim Yahweh yang tidak nampak itu [Yokh 1:18, Yoh 14:9]. Ketiga, mengandung maksud, ”peneguhan tugas untuk melakukan penyelamatan di bumi” [Mat 3:17].
Lagi-lagi Anda bukan menyanggah tanggapan saya dengan analisis yang argumentatif, malah mengajukan ayat-ayat bukti yang basi karena sudah saya sanggah [lihat kajian saya dalam buku MEWASPADAI NE ARIANISME, halaman 21-22 mengenai pembahasan Wahyu 3:14, Amsal 8:22, Kolose 2:9, dll].
Soal banyak lagi ayat-ayat lain yang dianggap seolah-olah "membuktikan bahwa Yesus Allah sejati", silahkan baca buku judul MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL Perihal keallahan Yesus. Saya rasa anda akan tertarik untuk menyimaknya.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Saya sudah siap untuk mengonfrontir tulisan Anda.
Terus soal Islam dan kata Allah, bagi saya samasekali tidak ada masalah pak. justru anda yang tampak bingung memperumit dengan bahasa 'teologi anda' tampaknya ingin membedakan 'Allah' agama Ibrahimik, Islam -Kristen. Biar tidak salah paham dengan islam, sepertinya anda harus belajar banyak tentang arti islam dan apa itu Al Qur'an berdasar Al Qur'an & Hadits, bukan islam dogma atau tradisi.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Sejak kuliah S-1 saya sudah terlibat adu argumentasi dengan Kiai Ali Yasir dari Ahmadiyah Qadiyan, Yogyakarta di Mesjid Piri sekitar tahun 90-an. Saya sampai sekarang masih mengajar tentang Islamologi di beberapa sekolah teologi di Yogyakarta dan jawa Timur. Tesis S-2 saya berjudul, ”PERSPEKTIF KITAB PERJANJIAN BARU TERHADAP ISA DALAM AL QUR’AN’ dengan hipotesis, ”Isa dalam Qur’an bukan Yesus dalam Kitab Perjanjian Baru”. Oleh karena saya juga menekuni mengenai keislaman, saya sampai pada kesimpulan, khususnya mengenai nama Tuhan yang sebenarnya berbeda. Saya ulangi lagi pernyataan saya dalam buku MEWASPADAI NEO ARIANISME, halaman 10 sbb:
Jika benar bahwa Tuhan Islam dan Kristen sama, mengapa Qur’an menolak kematian dan penyaliban Isa dan mengatakan bahwa orang lain yang diserupakan [Qs 4:157-158]? Mengapa Qur’an menolak eksistensi Ketu[h]anan Isa [Qs 5:116]? Mengapa Qur’an menolak keesaan Bapa, Putra dan Roh Kudus sebagai hakikat Elohim Yang Esa [Qs 5:72]? Mengapa Qur’an mengklaim bahwa misal penciptaan Isa hanya seperti Adam [Qs 4:59]?
Kita tidak menolak bahwa ada banyak unsur kesamaan antara Qur’an dan TaNaKh dan Brit Khadasha. Namun juga ada banyak ketidaksamaan yang sangat prinsipil dan doktrinal antara Qur’an dan TaNaKh dan Brit Khadasha. Fakta-fakta ketidaksamaan secara prinsipil dan doktrinal inilah yang tidak tersentuh oleh Frans Donald.
Kekurang mengertian bahasa Ibrani dan Yunani, menambah kekeliruan penyimpulan Sdr. Frans Donald mengenai konsep Ketuhanan antara Islam dan Kristen. Jika kita telaah bunyi teks Ibrani Kitab Keluaran [Sefer Shemot] 3:1-22 dan Qur’an At Taha [Qs 20:9-98] akan SANGAT BERTOLAK BELAKANG, sekalipun mengisahkan oknum yang sama, yaitu pertemuan antara Moshe dengan Tuhan Semesta Alam dan penyingkapan tabir nama-Nya.
Yang menarik, jika pernyataan nama Tuhan Semesta Alam dalam Kitab Keluaran 3:15 dinyatakan sbb: “Anokhi Yahweh >, Elohey avotekem, Elohey Avraham we Elohey Yitskhaq we Elohey Ya’aqov, shelakhmi aleikem. Ze shemi le olam we ze zikri le dor-dor” [Akulah Yahweh, Eloahnya nenek moyangmu, Eloahnya Avraham, Eloahnya Yitskhaq dan Eloahnya Ya’aqov, telah mengutus aku kepadamu. Inilah nama-Ku untuk selama-lamanya dan inilah pengingat-Ku turun temurun]. Maka Qur’an 20:14 justru mengatakan: “Innani anallahu la ilaha illa ana fa budni wa aqimis salata li zikri” [Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan {yang haq} selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”].
Bagaimana mungkin jika sumber pewahyuan TaNaKh dan Qur’an sama, yang satu memperkenalkan dirinya sebagai YAHWEH [ ]sementara yang satu memperkenalkan dirinya dengan nama Allah?
Oya, pak Hindarto, 1 hal lagi yang sangat perlu anda pahami, a general truth: Pdt. Teguh Hindarto MTh. Seorang Pendeta Master Teologi. Maka adalah wajar (tidak ada istimewanya) kalau bisa banyak bicara / menafsirkan kitab suci. Frans Donald, pemikir bebas, penulis 7 judul buku, bukan lulusan teologi, bukan pendeta atau pemimpin gereja, maka wajar (bisa dimaklumi) kalau seandainya keliru dalam menafsirkan kitab suci.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Anda tidak usah berkelit dengan mengatakan adalah kewajaran jika saya mahir menafsir dikarenakan saya seorang Pendeta yang Master Teologi sementara Anda hanya penulis 7 buku dan wajar jika keliru menafsirkan kitab suci. Dengan mengatakan demikian, Anda sebenarnya hendak lari dari tanggung jawab. Justru karena Anda seorang yang non teologi, BERHATI-HATILAH MEMBUAT KLAIM yang seolah-olah lebih mengetahui dari orang-orang yang menggumuli teologi. Karena Anda sebenarnya masih dalam perjalanan mencari ’JALAN LURUS”, maka jangan tergesa-gesa membuat pernyataan dan kesimpulan dalam buku-buku Anda.
Pernyataan Anda persis seorang calon pelukis yang disuruh praktik melukis sebagaimana yang diajarkan oleh guru lukisnya. Si calon pelukis mengatakan pada gurunya, ”kalau lukisan saya tidak bagus, wajarlah karena saya masih pemula, sementara guru saya sudah mumpuni”. Kalimat dan kondisi sedemikian memang masih dapat dimaklumi, mengingat lukisan si calon pelukis memang tidak dipublikasikan kepada umum, sehingga tidak terlihat cacat yang memalukan gurunya. Namun kondisi ini berbeda dengan apa yang Anda telah tuliskan dan katakan. Jika Anda seorang yang selayaknya masih mencari ”JALAN LURUS”, sudah berani menerbitkan berbagai tulisan yang minim literatur, lalu berkata, ”jika ada salah tafsir pada tulisan saya, ya maklumi saja karena saya bukan pendeta!” maka pernyataan Anda sungguh sangat tidak bertanggung jawab. Mustinya Anda menyimpan naskah-naskah buku Anda untuk bahan diskusi di lingkungan terbatas saja, sebelum Anda benar-benar menemukan ”JALAN LURUS”.
Anda dengan saya mungkin "tidak selevel" (saya bukan teolog seperti anda), tapi hati-hati pak. Mungkin saja anda benar, tetapi bagaimana kalau sebaliknya, jangan-jangan Frans Donald lah yang benar, sementara Pdt. Teguh Hindarto MTh lah justru yang selama ini telah keliru, tersesat oleh dogma! Seperti halnya ahli-ahli taurat dan orang-orang Farisi yang merasa paling benar!? Jika anda merasa sudah pintar dan bijak, anda perlu renungkan Matius 11:25 pak pendeta!
Sekian. Sekiranya ada hal yang kurang berkenan, saya mohon maaf. Terimakasih!
Salam, B.R
FD.
Tanggapan Teguh Hindarto:
Untuk itulah mari kita saling menguji argumentasi dan kesimpulan yang telah kita buat. Anda jangan melarikan diri dari masalah yang sebenarnya yang telah Anda ciptakan, dengan meminta agar saya berhati-hati agar tidak tersesat. Kalau Anda sudah merasa menemukan ”JALAN LURUS” dengan pandangan Anda tersebut, maka argumentasi Anda bakal tahan uji. Namun jika sebaliknya, Andalah yang harus berhenti dan mulai dengan lebih seksama mencari Khokmah Yahweh agar mendapatkan ”Or ha Emet” [Terang Sejati] yang memerdekakan Anda dari kekeliruan berpikir.
Terimakasih atas nasihat Anda, agar saya merenungkan Matius 11:25. Sampai hari ini saya tidak merasa telah menjadi orang yang pintar dan bijak. Tapi memang benar bahwa saya meminta kepada Bapa Yahweh di dalam Yahshua Sang Mesias, agar saya diberi kecerdasan, kepandaian dan hikmat. Dan itu ada dalam Torah-Nya [Mzm 119:97-100]. Maka jangan berhenti dan memposisikan diri sebagai orang bodoh, tapi yang berani menyalahkan pendapat orang-orang pandai sebagaimana Anda telah lakukan dengan penerbitan buku-buku Anda, melainkan mintalah khokmah Yahweh agar Anda menemukan ”Or ha Emet”. Yahshua berkata: ”Jika Engkau tinggal di dalam FIRMAN-Ku, maka engkau menjadi murid-murid-Ku dan engkau akan mengetahui KEBENARAN dan KEBENARAN itu akan MEMERDEKAKAN kamu” [Yok 8:31-32]. Pertanyaannya: Sudahkan Anda yakin bahwa kebenaran yang Anda klaim sebagai kebenaran, sebagaimana Anda ungkapkan dalam buku-buku Anda, adalah kebenaran yang sejati atau justru ”pseudo kebenaran?” Anda yang harus menjawabnya...
Akhir kata, saya menunggu sanggahan Anda yang argumentatif, rasional, dan teologis dan bukan berputar-putar pada persoalan yang bukan menjadi tema pokok pembahasan kita. Saya berdoa sebagaimana Paul berdoa: ”...dan meminta kepada [Elohim] Tu[h]an kita [Yahshua Sang Mesias], yaitu Bapa yang mulia itu, supaya Ia memberikan kepadamu Roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar. Dan supaya Ia menjadikan mata hatimu terang, agar kamu mengerti pengharapan apakah yang terkandung dalam panggilan-Nya: ...” [Ef 1:17-18]. Jika ada kata, kalimat, pernyataan dalam tanggapan saya yang menyinggung Sdr. Frans Donald, saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Lehit raot we shalom
Teguh Hindarto,MTh.
Footnote:
- [f1] : DR. Quraish Shihab, Menyingkap Tabir Ilahi, Lentera Hati, 1998, hal 3-9
- [f2] : Ibid
- [f3] : Ibid
- [f4] : Ibid
- [f5] : DR. Djaka Soetapa, Penterjemahan Kata Yahweh dan Elohim menjadi TUHAN dan Allah dalam Perspektif Teologi Islam, hal 2 [Makalah disampaikan pada Sarasehan Terjemahan Alkitab Mengenai Kata TUHAN dan ALLAH, PGPK, Bandung, 5 Juni 2001]
- [f6] : DR. Kautzar Azhari Noer, Tuhan Kepercayaan [Artikel Koran Jawa Pos, 23 September 2001
- [f7] : Arthur Jefrey, The Foreign Vocabulary of the Qur’an, Baroda:Oriental Institute, 1938, p.66
- [f8] : Bambang Noorsena, Mengenai Kata Allah, Institute for Syriac Christian Studies, Malang, 2001, hal 9
- [f9] : Olaf Schumman, Keluar dari Benteng Pertahanan, Rasindo, hal 172-174
- [f10] : George Fry and James R. King, Islam: A Survey of The Muslim Faith, Baker Book House, 1982, p.487
- [f11] : Arabic Lexicographical, Miscelani, 1972, p. 173-190
- [f12] : Op.Cit., Mengenai Kata Allah, hal 16-17
- [f13] : DR. D.L. Baker, Pengantar Bahasa Ibrani, BPK 1992, hal 89
- [f14] : Teguh Hindarto, STh., Kritik dan Jawab Terhadap Efraim Bambang Noorsena, SH. [Artikel di Majalah BAHANA No 09, 2001, hal 13]
- [f15] : Timothy D. Oliver, Jesus is Jehovah [YHWH], Christan Soldiers Ministries, www.christianity.com/csm4jesus
|
| |
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda
Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com |
--- tguh --- |
|
|
|
|
|
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,
selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara. |
|
|
|
|
|