Kamis, 09 September 2010  |  
Ya YAHWEH, kami menanti-nanti saatnya Engkau menjalankan penghakiman; kesukaan 'nephesh' (kehidupan) kami adalah menyebut nama-Mu dan mengingat ('zeker') Engkau (Yes 26:8)
    ARTIKEL DETIL
18-10-2007
Teologi Kemakmuran 1: ADAKAH IMAN DI BUMI?
 
 
Judul perikop yang diberikan Lembaga Alkitab Indonesia yaitu: “Perumpamaan Tentang Hakim Yang Tidak Benar” tidak tepat dengan konteks pengajaran yang diucapkan Yahshua pada para murid-murid-Nya. Seharusnya, judul perikop adalah, “Perumpamaan Mengenai Kesetiaan Dalam Berdoa” . Judul ini selaras dengan INTI keseluruhan pengajaran Yahshua yang dibungkus dengan perumpamaan, yaitu: “Yesus mengatakan suatu perumpamaan kepada mereka untuk menegaskan, bahwa mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu” [Luk 18:1].

Dalam perumpamaan ini, Yahshua mengajarkan kepada para murid-murid-Nya PERANAN Iman dalam berdoa. Iman tersebut digambarkan seperti seorang janda yang gigih memperjuangkan perkaranya kepada seorang Hakim yang tidak takut akan Elohim [lo yare et ha Elohim]. Idiom “tidak takut akan Elohim”, selalu menunjuk pada orang yang tidak mempercayai Yahweh sebagai Elohim Israel dan Pencipta Langit dan Bumi. Hakim tersebut tidak mau mengabulkan permohonan wanita yang terus menerus merengek-rengek kepada dirinya agar membela perkaranya terhadap lawannya. Namun pada suatu ketika, sampailah hakim ini pada titik jenuh. Dia akhirnya mengabulkan permohonan janda tersebut dan berkata: “Walaupun aku tidak takut akan Elohim dan tidak menghormati seorang pun, namun karena janda ini menyusahkan aku, baiklah aku membenarkan dia, supaya jangan terus saja ia datang dan akhirnya menyerang aku". Kata “membenarkan”, seharusnya diterjemahkan dengan lebih dekat kepada naskah aslinya, sebagai “memberikan pembelaan” atau “memberikan pembalasan dengan adil” dari kata Yunani “ekdikeo”.

Lalu Yahshua memberikan analogi pada para murid-murid-Nya, “Tidakkah Elohim akan membenarkan orang-orang pilihan-Nya yang siang malam berseru kepada-Nya? Dan adakah Ia mengulur-ulur waktu sebelum menolong mereka?” Sekali lagi, kata “membenarkan” dalam ayat ini tidak tepat, seharusnya “memberikan keadilan” bagi orang-orang pilihan-Nya. Inilah janji Yahshua bahwa orang yang telah dipilih atau telah mendapat anugrah keselamatan dan kehidupan kekal, akan menerima apa yang menjadi haknya, yaitu jawaban atas doa dan permohonannya. Dan kunci untuk mendapatkan jawaban doa tersebut adalah “Emuna” atau “Pistis” yang dinampakkan dalam sikap “bertekun”, “setia”, “tidak jemu-jemu” dalam berdoa kepada Elohim Yahweh. Dalam ayat terakhir, Yahshua menubuatkan bahwa saat kedatanganNya yang kedua kali, adakah Dia menemukan orang yang memiliki iman atau kesetiaan kepada Elohim? Pernyataan ini merefleksikan keprihatinan Yahshua bahwa di zaman akhir orang-orang akan semakin kehilangan iman dan lebih mempercayakan diri pada kekuatan diri mereka sendiri.

Eksposisi
Akhir-akhir ini, definisi Iman mulai mengalami penyelewengan dari makna yang sesungguhnya. Pengaruh Teologi Kemakmuran [Prosperity Gospel] yang mencampurkan berbagai keyakinan Panteistik dengan Kekristenan, mendefinisikan iman sebagai “suatu kemampuan untuk mendapatkan berbagai hal yang kita ingini” . Iman itu akan berwujud, jika kita memvisualisasikan [membayangkan] apa yang kita minta dihadapan Elohim.

Denning dan Philips dalam bukunya yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, mengatakan: “Melalui latihan-latihan dalam buku seri ini, benak anda dipergunakan untuk membawa keingginan menjadi kenyataan! Kekayaan, kekuatan, sukses, kebahagiaan…bahkan kekuatan terpendam dalam diri anda…atau bahkan apa yang kita sebut kekuatan dalam diri anda…atau bahkan apa yang kita sebut kekuatan magik dan spiritual! Kekuatan benak tidak terbatas untuk melakukan semua itu dan juga tidak dibatasi oleh apapun. Visualisasi Kreatif memungkinkan anda dapat meraih segalanya” [Visualisasi Kreatif, Transita Asri Media, Jakarta, 1991]. Robert Schuller, seorang konselor Kristen menjelaskan: “Banyak orang gagal karena mereka mengabaikan visualisasi yang terinci mengenai apa yang dimintanya. Bila kita binggung dan mempunyai gambaraan yang kacau mengenai apa yang ingin kita capai, jangan kaget kalau kita gagal. Karena itu langkah awal dalam menjalani ‘iman yang memindahkan gunung’ adalah dengan membuat gambaran mental yang terinci mengenai mimpi kita” [Move Ahead With Possibilty Thinking, A Jove Book, New York, 1967, hal 189].

DR. Yonggi Cho, gembala sidang Yoido Full Gospel Church Korea mengatakan dalam salah satu bukunya: “Dapatkah kalian memiliki iman untuk memperoleh sebuah mobil Volkswagen? Mengapaga kalian tidak melakukan inkubasi terhadap sebuah mobil sekarang juga…Sekarang, saya menganjurkan kepada mereka…bayangkankanlah dalam pikiran kalian jenis mobil Volkswagen yang bagaimanakah yang kalian inginkan. Berapa banyak tempat duduk? Bagaimanakah warnanya?…Baiklah, kataku. Tulislah hal itu. Kemudian tutup mata kaalian dan bayangkanlah bentuk mobil Volkswagen itu dalam pikiran kalian…Tempelkanlah sehelai kertas, yang melukiskan ciri-ciri mobil Volkswagen kalian, pada dinding kamar tidur kalian. Bacalah lembaran kertas itu sebelum kalian pergi tidur dan pada saat kalian bangun dari tidur. Kemudian bayangkan mobil Volkswagen kalian. Bayangkan diri kalian sedang memasuki mobil Volkswagen, memutar kunci kontaknya dan merasakan getaran mesin mobil yang dihidupkan. Lalu berucap kepada diri sendiri: Ini adalah mobil Volkswagen saya” [DR. Cho, Kami Ingin sebuah Mobil Volkswagen, Immanuel, Jakarta, 1986, hal 14-17].

Berbagai kutipan pernyataan, penjelasan, pengajaran diatas yang dipromosikan baik oleh para penganut New Age Movement [Gerakan Zaman Baru] maupun tokoh-tokoh Kekristenan, menyamakan begitu saja arti IMAN dengan VISUALISASI. Jika visualisasi kita benar, maka iman kita menjadi benar dan akan menghasilkan sesuatu sebagaimana yang kita inginkan. Dalam hal ini, iman dianggap sebagai suatu usaha dan kemampuan yang kita miliki untuk mendapatkan kesuksesan dalam berbagai bidang.

Sebagaimana telah diulas dalam analisis teks makna iman, salah satu dari makna iman adalah “mempercayai sepenuhnya terhadap apa yang dikatakan Elohim dalam janji FirmanNya”. Dalam kasus Abraham menerima janji Elohim Yahweh mengenai keturunannya yang akan seperti bintang di langit dan pasir di laut, dikatakan: Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya, lalu ia berangkat dengan tidak mengetahui tempat yang ia tujui. Karena iman ia diam di tanah yang dijanjikan itu seolah-olah di suatu tanah asing dan di situ ia tinggal di kemah dengan Ishak dan Yakub, yang turut menjadi ahli waris janji yang satu itu. Sebab ia menanti-nantikan kota yang mempunyai dasar, yang direncanakan dan dibangun oleh Elohim” [Ibr 11:8-10].

Abraham beriman bukan dengan jalan membayangkan atau memvisualisasikan keturunan yang jumlahnya seperti bintang di langit dan pasir di laut, sebagaimana diajarkan oleh tokoh-tokoh Injil kemakmuran. Abraham beriman karena dia telah menerima JANJI dari Elohim Yahweh. Rasul Paul menegaskan mengenai iman Abraham dalam Roma 4:20-21 demikian: “Tetapi terhadap janji Elohim ia tidak bimbang karena ketidakpercayaan, malah ia diperkuat dalam imannya dan ia memuliakan Elohim, dengan penuh keyakinan, bahwa Elohim berkuasa untuk melaksanakan apa yang telah Ia janjikan” .

Dalam kasus Abraham mendapatkan anak dari Sarai, meski usianya sudah sangat uzur, dikatakan: Karena iman ia juga dan Sara beroleh kekuatan untuk menurunkan anak cucu, walaupun usianya sudah lewat, karena ia menganggap Dia, yang memberikan janji itu setia. Itulah sebabnya, maka dari satu orang, malahan orang yang telah mati pucuk, terpancar keturunan besar, seperti bintang di langit dan seperti pasir di tepi laut, yang tidak terhitung banyaknya” [Ibr 11:11-12]. Sara tidak berdoa kepada Elohim Yahweh lalu memvisualisasikan seorang anak yang tampan atau cantik. Sara beriman ketika menerima janji Elohim Yahweh bahwa dirinya akan mendapatkan seorang anak diusianya yang telah uzur.

Jika kita perhatikan dengan cermat, tidak dapat disangkal bahwa cara seperti “visualisasi” yang dipraktekan Teologi Kemakmuran, sejajar dengan teknik-teknik ocultisme. Anna B. menjelaskan bagaimana seseorang dapat memperoleh kekayaan dengan visualisasi dan mengaktifkan daya batin beserta berbagai kesaksian orang-orang yang berhasil mempraktekan metode tersebut. Perhatikan langkah-langkahnya:
  • Tutup mata dan amati terbitnya matahari, ketika matahari timbul dan naik sampai setinggi jam 12 siang
  • Gambarkanlah tangan daya batin kundalini anda dan amati ia menjadi keemasan dan mulai membara. Ia akan menjadi semakin besar sehingga bisa menggengam matahari
  • Amati matahari ketika ia turun dari ketinggian jam 12 siang dan mulai masuk langit
  • Matahari harus masuk dalam telapak tangan tangan daya batin Kundalini yang berkilauan
  • Ketika matahari masuk dalam telapak tangan daya batin Kundalini anda yang berkilauan, gengamlah dan jangan dilepaskan
  • Berkonsentrasilah dengan sempurna pada saat itu tentang keinginan anda dan cara memperolehnya. Gambarkanlah satu keinginan saja sampai ia datang. Matahari harus turun kedalam telapak tangan daya batin Kundalini yang berkilauan itu. Ketika matahari turun dalam telapak tangan daya batin Kundalini yang berkilauan itu, gengamlah dan jangan biarkan terlepas…jangan biarkan pikiran lain memasuki anda. Pikirkanlah hanya mengenai keinginan anda dan cara memperolehnya dengan segera.” [Kundalini : Rahasia Yoga Kuno, Dahara Prize Semarang, 2003, hal 31-33]
Praktek yang menyamakan Visualisasi dengan Iman, merupakan praktek sinkretisme dengan kuasa-kuasa kegelapan, sebagaimana disitir oleh Ir. Herlianto dalam bukunya: “Jelas bahwa ajaran Teologi Sukses tentang visualisasi merupakan penggeseran dari teosentris ke antroposentris, dari janji Elohim ke kekuataan penglihatan manusiawi; suatu ajaran yang menyesatkan yang lebih berupa ajaran perdukunan/mistik daripada kristiani. Lebih-lebih bahwa ‘nabi-nabi’ sukses mengajarkan doa visualisasi yang lebih banyak mengarah pada permintaan akan keinginan-keinginan kedagingan dan duniawi” [Teologi Sukses, BPK Gunung Mulia, 1992, hal 108]

Lalu bagaimana kita harus menjalani hidup dengan berlandaskan iman sebagaimana yang diajarkan oleh Yahshua, tanpa terjebak dengan sinkretsime dengan ajaran New Age Movement mengenai Visualisasi? Sebagaimana dikatakan, “Sesungguhnya, orang yang membusungkan dada, tidak lurus hatinya, tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya” [Hab 2:4]. Dalam teks Hebrew, “Hine upla lo yasra nafso bo we tsadiq beemunato yihye” . Iman merupakan gaya hidup orang benar. Iman itu harus meresap dalam berbagai sikap, tindakan, keputusan, pekerjaan, ibadah, doa, yang kita lakukan. Gaya hidup orang beriman dikontraskan dengan gaya hidup orang yang tidak lurus hatinya, yaitu membusungkan dada sebagai sikap yang mengandalkan kekuatan diri sendiri.

Sebagaimana konteks perikop yang telah kita kaji, maka kita akan membatasi diri mengenai aplikasi iman dalam doa [tefilah]. Dalam kasus Mesias memberikan perumpamaan mengenai doa yang tidak jemu-jemu, sesungguhnya Mesias Yahshua sedang mengajarkan suatu doa yang terus menerus, tidak putus berharap dan setia dihadapan Elohim Yahweh. Inilah doa yang beriman. Doa yang bukan mengandalkan kekuatan visualisasi, melainkan doa yang dilandasi keyakinan terhadap janji firman-Nya yang mengatakan bahwa Elohim akan membalas sebagaimana yang telah diminta oleh orang-orang pilihan-Nya. Jika anda memiliki berbagai permohonan, mulai berdoa dengan iman terhadap janji Elohim bahwa Dia akan menjawab karena kita adalah anak-anak-Nya, karena kita adalah orang-orang pilihannya. Tanpa beriman terhadap janji Elohim, maka kita tidak memiliki kekuatan dan kepastian dalam apa yang kita mohonkan padanya.

Jika benar bahwa gejala Teologi Kemakmuran yang menyamakan iman dengan visualisasi [membayangkan] yang kini marak dipraktekan oleh berbagai komunitas orang beriman di Indonesia, dengan ciri-ciri pengajaran mengenai hidup sukses, hidup kaya, hidup diberkati secara finansial, adalah salah satu gaya hidup orang benar yang mempraktekan iman, mengapa Yahshua prihatin dengan menubuatkan bahwa jika Anak Manusia datang kedua kalinya, apakah Dia mendapati iman di bumi? Sikap ini justru membantah kebangkitan iman yang dipromosikan penganjur Teologi Kemakmuran. Nubuatan ini justru mengindikasikan bahwa banyak orang yang semakin tidak beriman, menjelang kedatangan-Nya yang kedua kali. Iman yang dipromosikan penganjur Teologi Sukses adalah Pseudo Iman [iman palsu]. Teologi yang dipromosikan penganjur Teologi Sukses adalah Pseudo Teologi [teologi palsu].


Pdt. Teguh Hindarto, MTh
Nafiri Yahshua Ministry
KEBUMEN
JAWA TENGAH - INDONESIA
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- tguh ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com