Yohanes)4 : 24
Introduksi
Ibadah, selalu berkaitan dengan penyembahan. Demikian pula sebaliknya, penyembahan selalu berkaitan dengan ibadah. Tidak ada ibadah tanpa penyembahan dan tidak ada penyembahan tanpa ibadah.
Ibadah yang benar dan berkenan menurut kehendak-Nya, bukan terletak pada kerumitan, keindahan maupun pranatan fisik semata, seperti, sujud, menadahkan tangan ke langit, berlutut dan perilaku sejenisnya, meskipun pola demikian tidak di persalahkan.
Inti ibadah ada dalam penyembahan. Saat seseorang menyembah, dia terhubung dengan pribadi Absolut yang mengatasi keterbatasannya. Ada hubungan antara Elohim dan ciptaan Elohim. Penyembahan yang benar, merupakan ibadah yang benar. Penyembahan yang keliru merupakan ibadah yang sia-sia.
Eksegese Teks
Penyembahan, dalam teks bahasa Ibrani, “
Tistakhawe”, sedangkan dalam bahasa Yunani, “
Proskuneo”. Dalam bahasa Ingris di sebut “
Worship”. Keseluruhan istilah tersebut mengandung makna, baik secara simbolik maupun lahiriah. Secara simbolik, penyembahan adalah refleksi ketaatan, ketundukan pada otoritas yang lebih tinggi [Hak 6:10, Mzm 8:10, Why 14:7]. Secara lahiriah, penyembahan bermakna tindakan untuk berlutut dengan sikap merendahkan wajah dan badan [Kel 34:8, Yes 36:7, Yoh 9:38].
Eksegese Konteks
1.
Bentuk dan Fase Penyembahan
Kitab TaNaKh [Torah, Neviim, Kethuvim], memberikan kesaksian historis fase-fase penyembahan, sbb :
- Pra Bait Suci di Yerusalem. Di tandai dengan ungkapan fisik seperti berlutut, bersujud, menadahkan tangan dan di sertai korban hewan [Kej 8:20, Kel 18:12, Im 6:9, Bil 28:3, 1 Raj 18:28].
- Berdirinya Bait Suci di Yerusalem. Ada waktu-waktu tertentu dalam ibadah. Daud, tujuh kali sehari memuji Elohimnya [Mzm 119:64], terkadang tiga kali sehari [Mzm 55:17]. Bahkan di malam hari, Daud memiliki waktu untuk ibadah [Mzm 119:62]. Demikian pula Daniel melakukan ibadah tiga kali sehari [Dan 2:19, 6:10]. Begitu pula Ezra saat membangun puing-puing Yerusalem yang runtuh, berdoa dalam waktu-waktu tertentu [Ezra 9:5].
- Masa karya Mesias dan para Rasul. Yahshua beribadah di Sinagog dalam waktu-waktu tertentu [Luk 4:11]. Rasul-rasul mengikuti pola ibadah tiga kali sehari pada jam-jam tertentu [Kis 2:24, Kis 3:1, Kis 4:42, Kis 10:9,30, Kis 16:25]
2.
Fokus Penyembahan
Frasa, “Elohim itu Roh”, menunjuk pada pemahaman bahwa orang beriman memiliki fokus penyembahan, yaitu Elohim yang keberadaan-Nya Roh. Ada banyk elohim di dunia ini. Siapakah Elohim yang sejati ?, Yahwehlah Elohim yang benar [Ul 10:17, Yer 10:10, 1 Taw 16:26, 1 Kor 8:5-6, Yoh 17:3]. Elohim yang benar itu telah menyatakan Firman-Nya dalam rupa manusia [1 Tim 3:16, Ibr 11:1, Yoh 1:14].
Elohim bukanlah mahluk ciptaan ketakutan manusia terhadap gejala alam yang di manifestasikan dengan gambar-gambar tertentu, patung-patung pahatan tertentu [dewa api, dewa angin, dewa halilintar, dewa hujan, dll]. Elohim itu Roh. Wujud keberadaan yang non material namun spiritual.
3.
Penyembah yang Benar dan Penyembahan yang Benar
Penyembah benar akan menyembah dengan benar [Yoh 4:23] Menyembah dengan cara yang tidak benar, menunjukkan bahwa seseorang belum mengenal siapa yang di sembah [Yoh 4:22]. Menyembah yang benar adalah dengan Roh dan Kebenaran, karena Elohim Roh adanya. Apa artinya ? Dalam percakapan singkat antara Yahshua dan perempuan Samaria, terlihat konsep umum yang berkembang pada waktu itu, bahwa seolah-olah Elohim berada dan berdiam di wilayah tertentu saja. Bagi orang samaria, Dia ada di gunung Gerizim. Bagi orang Yahudi, Dia ada di Yerusalem. Yahshua menyalahkan semua angapan tersebut.
Yahshua, bukan mengkritik bentuk dan cara penyembahan [sujud, berlutut, menadahkan tangan, berdiri, dll] bukan pula menyalahkan aturan ibadah [liturgi, doa harian, hafalan doa, dl]. Yahshua hanya menyalahkan KONSEP wanita Samaria yang keliru. Wanita Samaria ini keliru memahami
WUJUD dan
TEMPAT Elohim berada. Konsep yang keliru ini mengakibatkan penyembahan yang keliru.
Menyembah dalam Roh dan Kebenaran, bermakna menyembah dengan kemurnian hati yang keluar dari kesadaran diri manusia. Dengan kata lain, penyembahan dengan ekspresi hati yang tidak dapat di batasi oleh bentuk-bentuk yang temporal, Dalam diri manusia ada “roh”. Ini adalah pusat kesadaran manusia akan Tuhan [Ams 20:27].Kadang-kadang , “roh” di hubungkan dengan hati nurani manusia [Mzm 51:12, Yoh 36:26, Mzm 16:7].
Menyembah dalam Roh dan Kebenaran, tidak meniadakan, menghapuskan, menghilangkan bahkan mentabukan ungkapan atau ekspresi fisik dalam penyembahan. Jika ini di berlakukan, tentu para rasul tidak akan melakukan pola sembahyang harian tiga kali sehari [Kis 2:24, Kis 3:1, Kis 4:42, Kis 10:9,30].
Aktualisasi
Saya pernah di tanya oleh seorang teman di Yogyakarta, “menurut Bapak, apakah orang GKJ, GKI, Advent, Katholik, itu sudah melakukan penyembahan dalam Roh dan Kebenaran ?”. Lalu saya menjawab, “Asalkan dia tahu HAKIKAT menyembah dalam Roh dan kebenaran, apapun bentuk ibadahnya, sesungguhnya Dia telah mengalami apa yang di sebut menyembah dalam roh dan kebenaran. Sayang,nya banyak gereja-gereja yang tidak memahami hakikat penyembahan dalam roh dan kebenar dan terikat secara kaku terhadap liturgi yang di susun, sehingga membatasi karya Roh Kudus dalam penyembahan”.
Apapun ekspresi penyembahan kita, asalkan penyembahan itu di lakukan oleh roh kita yang terdalam, berarti kita tidak akan membatasi ekspresi roh atau hati kita, dengan kalimat atau rumusan tertentu yang mengikat dan membelenggu ekspresi dan komunikasi roh kita dengan roh Yahweh.
Samiton Pangellah menegaskan, “
Sebenarnya semua sikap tubuh dan ekpresi adalah dekorasi dari penyembahan, bukan hakikat dari penyembahan itu sendiri. Dalam penyembahan kita pada Tuhan, kita mewarnainya dan mengisinya dengan ungkapan cinta yang tidak terbatas…Tuhan mencari sikap hati dan bukan sikap tubuh” [
Prophetic Priestly Worship, Metanoia 1999, hal 10].
Saat menyembah dan saat mengalami penyembahan dan kehadiran Elohim, tidak ada kalimat yang merumuskan semua pengalaman spiritual tersebut secara sempurna. Hati kitalah yang merasakannya. Bob Sorge menegaskan, Saya pernah mendengar ayah saya, Morris Smith berkata;
penyembahan yang sejati menyimpang dari definisi. Ia hanya dapat dialami. Betapa benarnya hal ini, karena penyembahan tidak di maksudkan Tuhan menjadi diskusi buku-buku teks, melainkan sebagai sarana persatuan dengan Tuhan untuk dialami oleh orang-orang yang dikasihi-Nya” [
Mengungkap Segi-segi Pujian dan Penyembahan, ANDI Offset 1991, hal 52].
Bagaimana kita mengktualisasikan dalam hakikat dan bentuk menyembah dalam Roh dan Kebenaran dalam devosi personal [doa pribadi], devosi komunal [ibadah bersama saat sabat] ?
Pertama, lakukanlah dengan hati yang tertuju pada Dia semata.
Kedua, hati yang menyembah akan mengekspresikan dalam bentuk-bentuk al, “bermazmur”, “berbicara lidah” [glossolalia], “bernubuat”, “meditasi Firman”, “bernyanyi”, “bersujud”, “berlutut”. Ekspresikan dorongan dalam hati menjadi perbuatan yang dapat terlihat.
Ketiga, saat beribadah bersama, jangan terpaku pada liturgi. Berikan kesempatan Roh berkarya seluas-luasnya dalam bentuk “bermazmur”, “bernubuat”, “menyampaikan penglihatan”, dll.
Teguh Hindarto, MTh
Nafiri Yahshua Ministry
KEBUMEN
JAWA TENGAH - INDONESIA