Kamis, 09 September 2010  |  
Beginilah kaukatakan kepada orang-orang Israel; YAHWEH, Elohim nenek moyangmu, Elohim Abraham, Elohim Iskak dan Elohim Yakub, telah mengutus aku kepadamu: itulah nama-Ku untuk selama-lamanya dan itulah sebutanku turun temurun (Kel 3:15)
    ARTIKEL DETIL
29-09-2009
Surat Dari Simpatisan Pergerakan Mesianik
 
 
Salam dalam Nama Maran Yeshua Mshikha saudara Pdt.Teguh Hindarto,

Shalom b'Mshikha!

Kami senang sekali membaca publikasi artikel Mesianik dalam bahasa Indonesia.
Langkah yang bapak lakukan kami dukung terlebih program-programNya semoga Ha'Shem membantu bapak dalam usaha pewartaan ini.

Senang sekali berkenalan dengan bapak,meskipun lewat media email ini, semoga suatu hari kita bisa bertemu sharing mengenai Iman Akar Ibrani ini.

Kami turut mendukung pewartaan untuk menyadarkan kaum Kristen untuk mengenal "Kampung Halaman Imannya sendiri", yakni Hebraic Roots. Sungguh menyedihkan sekali terlalu banyak dan terlalu lama kita dijajah oleh budaya kolonialis arogansi Greco-Roman yang membunuh Tuhan kita, menjajah dan menghancurkan Tanah Suci Yerusalem dan merampok Agama Yahudi menjadi Agama Greco-Roman alias Kekristenan non-Yahudi (Klal Kristiana atau Nosrim).

Kebohongan jika terlalu lama dipropaganda selama berabad-abad tidak dirasakan lagi kebohongan, dan berubah menjadi kebenaran bagi orang-orang yang tidak kritis menerimanya.

Sejak tahun 135 masehi sejak kaisar Hadrian membumi-hanguskan Tanah Suci dan melarang kaum Yahudi kembali ke Tanah Leluhur, maka membuka peluang bagi arogansi Greco-Roman menguasai ranah berpikir dunia Kristen yang memisahkan dirinya dari Bunda Gereja Yerusalem. Kekristenan hasil formulasi konsep iman sinkretisme bapa-bapa Gereja Kristen telah menciptakan jurang perpisahan yang sulit diseberangi untuk kembali kepada Hebraic Roots Iman Kristen.

Tugas kita cukup berat sekali untuk menghancurkan benteng yang dibangun oleh Greco-Roman (Hellenisme – Latinisme) agar umat manusia bias mengakses kembali Kebenaran, bukan berarti dalam Kekristenan tidak ada Kebenaran, tetapi kebenaran yang sekarat, dan tidak bisa sampai kepada Kebenaran Hakiki.

Konsep Kekristenan Hellenisme-Latinisme yang dilandaskan formulasi Bapa-bapa Gereja Kristen berdasarkan filsafat dan sinkretisme non-Yudaisme.

Ini sangatlah mengherankan bagaimana bisa manusia Kristen yang berjuta-juta, bahkan milyar tidak pernah berpikir mengapa Agama saya ini aneh sekali: Tuhan bernama Yesus Kristus, sementara Dia itu orang Yahudi tulen yang tidak mengenal bahasa Yunani, apa lagi Miriam gadis muda itu! Mungkinkah Malak Yahweh berbicara dengan Miriam dan Yosip dalam bahasa Yunani? Mustahil. Pastilah dalam bahasa Ibrani-Aramaik (Nasramit) dialek Galilea. Tetapi ada saja manusia Kristen yang berspekulasi bukankah Yesus itu Tuhan bisa berbicara bahasa apa saja di dunia ini? Bisa benardan bisa salah.

Buktinya ketika Yeshua ditanya mengenai Hari Kiamat, justru Dia menjawab “TIDAK TAHU”! Ini menunjukkan KeilahianNya benar-benar dikosongkan saat bershekinah menjadi Anaka Manusia. Inilah salah satu argumentasi persfektif filsafat yang suka berspekulasi abstrak bahwa jika kita melihat sudut pandang dari sisi Keilahian Tuhan tentu saja Tuhan bisa berbicara bahasa apapun. Persoalannya, Tuhan menjadi Manusia! Dia tunduk dalam kemanusiaanNya, Dia beragama Yudaisme, berbudaya Yahudi, berbicara Ibrani-Aramaik, belajar mengaji sejak kecil, berpakaian ala Yahudi, berpuasa Yahudi, dll., semuanya YAHUDI.

Kemudian yang paling menjengkelkan ditelinga, kaum Kristen sering mengatakan, “aku mengikutMu ya Tuhan…” Kalau mau menjadi pengikut Yeshua haruslah ‘jangan makan daging babi” sebab mulut Tuhan tidak pernah makan daging babi. Bukankah Yeshua berkata, seorang murid tidak lebih kurang dari pada gurunya”?

Tuhan berkata, “Aku adalah JALAN (Kata, “Jalan” dalam Iman Yudaisme adalah Halakha ha’YHWH atau Jalan Yahweh artinya Torah) …..(Yokhanan 14:6). Ketika Yeshua mengucapkan perkataan ini orang Yahudi khususnya kaum Farisi dan Sadduki marah besar sebab Yeshua mengidentikkan diriNya sendiri sebagai Torah! “Aku adalah Torah dan Torah itu adalah Aku” (Dalam naskah Peshitta Timur). Pada saat itu Tuhan tidak berbicara kepada orang-orang Kristen, tetapi kaum Yahudi yang kenal betul istilah kata Jalan itu sebagai “Way of Life” dalam iman Yudaisme. Lalu kaum Kristen menafsirkannya sesuai konteks Romanisme, “Aku adalah Jalan (jalan menuju Roma, yakni Pausisme).

Seringkali juga orang Kristen mengatakan, “Biarlah FirmanMu menjadi Pelita dan suluh terang bagi jalanku (Mazmur)”; pada hal istilah Firman itu identik dengan ‘Davar’(Sabda) dan Davar itu identik dengan Torah, yakni Perintah-perintah (Mitzvah), tapi faktanya kaum Kristen pelanggar Firman itu sendiri dengan merayakan hari Minggu sebagai hari beristirahat dan menguduskan hari. Yaaqub mengatakan, melanggar satu perintah melanggar semua Torah. Mulut dan fakta perbuatan tidak pernah sinkron.

Mereka beralasan kami merayakan Hari Minggu bukan menyembah Matahari, tetapi Kebangkitan Tuhan. Faktanya tidak satu teks Alkitab menyuruh kita beribadah Hari Minggu! Rasul-rasul pun tidak pernah mengajarkan hal ini. Memang Jemaat Nasrani Mula-mula sampai sekarang tetap merayakan Hari Kebangkitan, tetapi bukan Hari Perhentian yang dikuduskan melainkan waktu yang dipakai untuk “Katekisasi” (Limudah) umat dalam pengajaran Iman Kudus. Ada lagi yang sudah kehilangan akal untuk argumentasi dengan mengatakan, “Semua Hari Waktunya Tuhan” dan kapan saja kita bisa beribadah kepadaNya. Benar, tetapi adakah “Wahyu” Tuhan memerintahkan anda untuk berhenti dan menguduskan hari sesuai selera anda? Tidak ada. Mereka yang menganut prinsip ini pada hakikaktnya mempertuhankan dirinya sendiri. Inilah salah satu pengaruh filsafat Hellenisme yang kita kenal dengan konsep Filfasat Humanisme!!!

Ada lagi orang berkata, kita bisa menyembah dan mengerti Firman Tuhan dari budaya apa saja. Itu benar, tapi faktanya Tuhan tidak lahir dalam budaya anda, kecuali dalam konteks masyarakat Israel – Ibrani. Alkitab, Nabi-nabi, Tuhan, Rasul-rasul semua orang Yahudi dan berbudaya Yahudi, berpikir Yahudi, berbicara bahasa Yahudi (Ibrani-Aramaik), beragama Yahudi, dll. Ini adalah titik pijak Iman berangkat. Jika kita memanah sedikit saja sudut yang kita prediksi salah maka sasaran tidak kena.

Kekristenan itu sungguh aneh mengapa kita memakai bahasa Yunani – Latin untuk mengerti Firman Tuhan? Bukankah bahasa itu produk budaya, dan budaya itu hasil dari bahasa, pengalaman, konsep,. Intuisi, kebiasaan, pola pikir, dll oleh si pelaku budaya itu? Jika satu kata kita ibngin pahami, contoh kata “Arkhe” (Pada Mulanya) dalam bahasa Yunani, bukankah pikiran kita diseret kepada konteks budaya bahasa Yunani pada arti kata itu? Setiap kata ada latar belakang kata itu sendiri terjadi. Akibatnya kita terjebak dalam alam ranah konsep berpikir hellenisme yang lahir dari budaya kafir Yunani. Pada hal Alkitab yang kita bicarakan itu Iman Yudaisme. Pelaku Alkitab yang berbahasa Ibrani-Aramaik harus dipahami dalam konteks Yunani? Bagaimana bisa ketemu dengan yang dimaksud Alkitab?

Inilah pemikiran yang saya pergumulkan sejak tahun 1985 yang lalu sehingga saya hengkang dari Seminary, meskipun saya sudah semester 7, dengan marah anak muda kala itu saya tinggalkan Sekolah Teologi dan memilih Universitas Sekuler yang lebih rasional dan obyektif! Terus terang saya sedikit memandang rendah lulusan teologi yang hanya belajar 6 bulan sudah berani kotbah ngalor ngidul, dan juga paling tidak suka pendeta yang tidak tahu sejarah dan hanya berkata, “….ini Firman Tuhan”! Maka saya biasanya berkata, itu bukan firman Tuhan, tapi keyakinanmu, untuk apa saya percaya dengan ucapanmu, emangnya lo siapa?

Maaf, pak Pdt. Teguh tidak ada maksud saya merendahkan anda saudaraku, hanya sedikit rasa antusiasme melihat bapak sudah berkiprah memproklamirkan Hebraic Roots yang sudah lama saya rindukan ada di Indonesia ini. Puji syukur kepada Alaha Pencipta Alam Semesta telah mencelikkan hati nurani bapak. Kami dukung bapak dalam hal ini! Maju terus…

Kiranya Maran Yeshua Mshikha bar Alaha memberkati komunitas dan pelayanan bapak.


We aleikhem Shalom be Mshikha,
Jakarta, 24 September 2009

Kahein Hotman Lumbantoruan, S.Pd., M.Si
Gereja Nasrani Indonesia
Dibawah Jurisdiksi Kepatriakan Gereja Yerusalem Semitik Kuno (Jemaat Yerusalem Mula-mula) dan Supervisi Dewan Sanhedrin beit Knustha d’Shemisqho serta Dewan Keuskupan Asia Tenggara dan Timur Jauh
 
Komentar terhadap Artikel ini dapat Anda kirim ke komentar@messianic-indonesia.com
Jangan lupa untuk mencantumkan Judul Artikel ini dalam komentar Anda

Anda juga dapat berpartisipasi dalam situs ini
dengan mengirimkan Artikel anda ke redaksi@messianic-indonesia.com
--- ---
Shalom Alaika !!!
Selamat datang,

selamat bergabung di komunitas Messianic Indonesia.
Semoga website ini dapat menjadi berkat bagi saudara.

 

©2007 Messianic-Indonesia Media Team - All Rights Reserved  
Terimakasih Bapa atas kesempatan yang telah Engkau berikan untuk membangun Situs ini.
Pakailah Situs ini untuk memasyurkan dan memuliakan nama-Mu. Amin

Saran dan Kritik:
redaksi@messianic-indonesia.com