Midrash Shabat Kitab Kejadian 2: 1-25
Nats: Kejadian 2:15
HAKIKAT BEKERJA:
(BEKERJA ADALAH PERINTAH YAHWEH)
Untuk pertama kalinya Yahweh Tuhan Semesta Alam memerintahkan perihal bekerja dalam Kejadian 2:15 sbb: “Tuhan Yahweh mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”. Kata yang diterjemahkan oleh Lembaga Alkitab Indonesia “mengusahakan”, dalam bahasa Ibraninya ternyata digunakan kata “AVDAH” dari kata “AVAD”. Kata “AVAD” dalam keseluruhan Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) muncul sebanyak 290 kali dan oleh Lembaga Alkitab Indonesia diterjemahkan “bekerja”, “mengusahakan” “melayani”. Contoh: “…belum ada semak apa pun di bumi, belum timbul tumbuh-tumbuhan apa pun di padang, sebab Tuhan Yahweh belum menurunkan hujan ke bumi, dan belum ada orang untuk
mengusahakan (avod) tanah itu;…”(Kej 2:5).
Kata lain yng berkaitan dengan “AVAD” adalah “EVED” yang muncul dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) sebanyak 799 kali. Lembaga Alkitab Indonesia biasanya menerjemahkan dengan “budak”, “hamba”, “pelayan”. Contoh: “Apabila seseorang memukul
budaknya (avdo) laki-laki atau perempuan dengan tongkat, sehingga mati karena pukulan itu, pastilah budak itu dibalaskan” (Kel 21:20). “Tetapi Abraham menyesali Abimelekh tentang sebuah sumur yang telah dirampas oleh
hamba-hamba (avdey) Abimelekh” (Kej 21:25).
Jika bekerja adalah suatu perintah, maka bekerja adalah suatu kewajiban bagi manusia pada umumnya dan orang percaya pada khususnya. Rasul Paul secara tegas mengatakan kaitan antara pekerjaan dan makanan sbb: “Sebab, juga waktu kami berada di antara kamu, kami memberi peringatan ini kepada kamu: jika seorang tidak mau bekerja, janganlah ia makan” (2 Tes 3:10). Oleh karenanya Rasul Paul pun melakukan pekerjaan siang malam untuk memenuhi kebutuhannya dan pelayanannya sebagaimana dikatakan, “Sebab kamu masih ingat, saudara-saudara, akan usaha dan jerih lelah kami. Sementara kami bekerja siang malam, supaya jangan menjadi beban bagi siapa pun juga di antara kamu, kami memberitakan Besorah Tuhan kepada kamu” (1 Tes 2:9)
(BEKERJA ADALAH MELAYANI YAHWEH)
Yang menarik, kata “beribadah” dalam bahasa Ibrani dipergunakan kata “AVODAH”. Kata “AVODAH” muncul dalam Kitab Torah, Neviim, Kethuvim (TaNaKh) sebanyak 145 kali. Lembaga Alkitab Indonesia menerjemahkan kata ini dengan “melayani”, “budak”, “mengerjakan”, “beribadah”. Contoh: “…tetapi supaya mezbah itu menjadi saksi antara kami dan kamu, dan antara keturunan kita kemudian, bahwa kami tetap
beribadah (avodat) kepada Yahweh di hadapan-Nya dengan korban bakaran, korban sembelihan dan korban keselamatan kami. Jadi tidaklah mungkin anak-anak kamu di kemudian hari berkata kepada anak-anak kami: Kamu tidak mempunyai bagian pada Yahweh” (Yos 22:27). “Mereka harus mengerjakan tugas-tugas bagi Akharon dan bagi segenap umat Yishrael di depan Kemah Pertemuan dan dengan demikian melakukan
pekerjaan (avodat) jabatannya pada Kemah Suci” (Bil 3:7). “
Beribadahlah (ivdu) kepada Yahweh dengan sukacita, datanglah ke hadapan-Nya dengan sorak-sorai!” (Mzm 100:2).
Jika “AVODAH” yang bermakna “beribadah” atau “melayani Tuhan” memiliki hubungan dengan kata sebelumnya yaitu “AVAD” dan “EVED”, maka dapat diambil kesimpulan sbb:
Pertama, bekerja adalah ibadah. Bekerja adalah pelayanan kepada Tuhan dalam konteks sosial. Konsekwensi logis bahwa bekerja adalah ibadah dan pelayanan kepada Tuhan maka orang beriman dalam melakukan pekerjaan (sebagai pengusaha, pedagang, guru, karyawan, pegawai pemerintah, polisi, tentara, dll) harus mengekspresikan nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta pelayanan. Tidak mengherankan ketika Yahweh memerintahkan kepada Yishrael agar tidak berlaku curang dalam berdagang dengan mengatakan, “Neraca yang betul, batu timbangan yang betul, efa yang betul dan hin yang betul haruslah kamu pakai; Akulah Yahweh Tuhanmu yang membawa kamu keluar dari tanah Mitsrayim (Im 19:36).Inilah salah satu contoh bahwa bekerja adalah melayani Tuhan. Maka segala bentuk kecurangan dalam bekerja (menggunakan formalin, menggunakan zat pewarna berbahaya, menggelonggong hewan, mengedarkan makanan kadaluarsa, menyuap pejabat, mengorupsi uang rakyat) tidaklah mencerminkan nilai-nilai kejujuran dan keadilan serta pelayanan.
Kedua, ibadah bermakna melayani Tuhan. Ibadah dalam pemahaman Kekristenan yang kembali ke akar Ibrani atau akar Semitik, terdiri dari empat bagian: ibadah harian (tefilah), ibadah pekanan (shabat), ibadah bulanan (rosh kodesh), ibadah tahunan (moedim). Empat bentuk ibadah di atas harus dipahami sebagai bentuk pelayanan individu dan komunitas umat beriman kepada Tuhan dan jangan dipahami sebagai sebuah beban yang memberatkan. Kita melayani Tuhan karena Tuhan telah melakukan banyak hal bagi kita. Dia telah menebus kita dari kutuk dosa dan telah mengaruniakan hidup kekal melalui Yahshua Sang Mesias, Dia telah menjanjikan berkat-berkat jasmani dan rohani dll. Jika kita telah sampai pada pemahaman bahwa ibadah adalah melayani Tuhan, maka kita tidak bermalas-malasan dalam beribadah dan tidak merasa terpaksa melakukan ibadah.
BATAS MELAKUKAN PEKERJAAN
Apa yang terjadi jika seseorang tidak beristirahat dalam melakukan pekerjaan? Kelelahan yang berujung pada penyakit tentunya. Yahweh Semesta Alam telah mengatur batasan seseorang dalam melakukan pekerjaan dalam Keluaran 20:9-10 sbb, “…enam hari lamanya engkau akan bekerja (taavod) dan melakukan segala pekerjaanmu (asyita kol melakteka) ,tetapi hari ketujuh adalah hari Sabat Yahweh Tuhanmu; maka jangan melakukan sesuatu pekerjaan (lo taasyeh kol melakah), engkau atau anakmu laki-laki, atau anakmu perempuan, atau hambamu laki-laki, atau hambamu perempuan, atau hewanmu atau orang asing yang di tempat kediamanmu”.
Shabat bukan hanya bermakna hari berkumpul untuk beribadah sebagaimana anggapan beberapa orang yang keliru. Kita beribadah Shabat bukan sekedar mengganti hari dari hari Minggu ke hari Sabtu. Kita beribadah Shabat bukan soal hadir dan tidak hadir dalam pertemuan di tempat ibadah. Kata Shabat bukan sekedar hari ketujuh. Shabat adalah “BERHENTI” dari berbagai aktivitas yang dikategorikan pekerjaan harian yang bersifat profit. Dalam kejadian 2:2 dikatakan, “Ketika Tuhan pada hari ketujuh telah menyelesaikan pekerjaan yang dibuat-Nya itu, berhentilah Ia pada hari ketujuh dari segala pekerjaan yang telah dibuat-Nya itu”. Perhatikan kata “hari ketujuh” dipergunakan kata “yom hasheviyi” sementara kata “berhentilah” dipergunakan kata “yishbot”. Kedua kata tersebut memiliki akar kata yang sama yaitu “SHABAT”. Maka makna Shabat adalah hari ketujuh sekaligus perhentian mahluk dari aktivitas melakukan pekerjaan untuk kebutuhan finansial. Dalam perhentiannya, manusia menghayati kembali hubungan dengan Sang Pencipta-Nya yang telah memerintahkan bekerja dan memberikan berkat melalui pekerjaan tersebut. Penghayatan manusia itu diungkapkan dalam ibadah individual dan ibadah kolektif di tempat ibadah.
Ketika seseorang berhenti dari seluruh aktifitas pekerjaan harian yang mendatangkan keuntungan dan beribadah kepada Yahweh di dalam Yahshua Sang Mesias, maka dia telah menunjukkan bahwa dirinya bukan hamba pekerjaan yang melayani pekerjaan melainkan dirinya adalah hamba Yahweh. Dengan berhenti dari pekerjaan di hari Shabat maka seseorang telah mengakui bahwa Yahweh di dalam Yahshua Sang Mesias adalah Tuan atas hari Shabat.
BEKERJALAH
UNTUK MEMPEROLEH MAKANAN YANG KEKAL
Yahshua Sang Mesias dan Junjungan Agung kita mengajarkan “Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia (Bar Enosh) kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Tuhan, dengan meterai-Nya” (Yoh 6:27). Apa arti pernyataan di atas? Apa makna “makanan yang dapat binasa” dan “makanan yang tidak dapat binasa?” Konteks perikop hendak menjelaskan bahwa “makanan yang tidak dapat binasa”, menunjuk pada “manna sorgawi” saat Bangsa Yishrael dipelihara di padang gurun (Yoh 6:32-33). Dengan kisah tersebut Yahshua hendak mengarahkan pendengarnya bahwa Dialah Roti Surga yang mendatangkan kekekalan karena Dia datang dari Bapa Surgawi. Kekekalan itu diperoleh oleh siapapun yang beriman dan menerima Diri-Nya sebagai Putra Tuhan (Yoh 6:35).
Berkaca dari pembacaan teks di atas, kita harus sadar bahwa jangan sampai kita bekerja untuk pekerjaan itu sendiri. Jangan sampai kita gila kerja dan lupa waktu. Lupa waktu untuk makan dan beristirahat serta beribadah. Dengan mengabaikan waktu untuk makan, beristirahat dan beribadah, maka kita telah menunjukkan bahwa kita bekerja untuk makanan yang tidak kekal yaitu roti, nasi dan berbagai benda-benda fana di sekeliling kita. Namun sebaliknya, dengan kita memanajemen waktu dengan baik, maka kita telah membagi waktu dengan baik pula. Waktu untuk beribadah adalah waktu bagi kita untuk memperoleh makanan yang kekal yang berguna untuk kerohanian kita sebagaimana dikatakan Rasul Paul dalam 1 Timotius 4:7-8, “Tetapi jauhilah takhayul dan dongeng nenek-nenek tua. Latihlah dirimu beribadah. Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang”.
Marilah kita mengubah cara pandang kita yang keliru selama ini mengenai bekerja dan pekerjaan. Marilah kita melakukan pekerjaan sebagai wujud ketaatan terhadap perintah Tuhan dan pelayanan terhadap Tuhan dan sesama. Bersama itu pula kita harus menyadari batas-batas dalam bekerja dan menghentikan aktifitas kita untuk membarui jasmani dan rohani kita dengan beribadah kepada Tuhan. Dengan beribadah kepada Tuhan kita telah bekerja untuk memperoleh makanan yang mendatangkan kekekalan yang tersimpan dalam firman-Nya dan makanan kekal itu akan memberi kekuatan kepada kita untuk menghadapi kehidupan yang keras dan jahat ini.
KAVOD LEKA, KAVOD LEKA YAHWEH ELOHEINU, AMEN (KEMULIAAN HANYA BAGIMU YA YAHWEH TUHAN KAMI, KEMULIAAN HANYA BAGIMU SAJA, AMIN)
Pdt. Teguh Hindarto, MTh
Gereja Kemah Abraham
Pos Bajem Klirong, Kebumen