Tanya:
Apakah pengakuan iman bahwa Yahshua adalah Tu[h]an, atau status Keilahian-Nya, merupakan penetapan yang dilaksanakan oleh Kaisar Konstantine pada saat Konsili Nicea, tahun 325 Ms? Jika ya, berarti sebelum tahun konsili dilaksanakan, berarti Yahshua hanyalah manusia biasa layaknya nabi-nabi di Yisrael?
Jawab:
Ada tujuh konsili yang sudah berlangsung disekira Abad II-VIII Ms dan tiga diantaranya yang terkenal adalah Konsili Nicea, Konsili Konstantinopel dan Konsili Efesus. Secara ringkas hasil dari tujuh konsili tersebut al.,
Konsili pertama diadakan oleh Kaisar Romawi, Konstantin di Nicea pada tahun 325 dengan hasil, mengutuk pandangan Arius yang menyatakan bahwa Sang Putra Elohim, adalah ciptaan yang lebih rendah dari Bapa.
Konsili kedua dilaksanakan di Konstantinopel pada tahun 381 yang menetapkan tabiat Roh Kudus terhadap mereka yang menentang kesetaraan Roh dengan pribadi Bapa maupun Putra.
Konsili ketiga dilaksanakan di Efesus pada tahun 431 yang menetapkan bahwa Maria benar-benar “Yang melahirkan” atau “Bunda” Elohim [Theotokos], yang menentang ajaran Nestorius.
Konsili keempat diadakan di Kalsedon pada tahun 451 yang menetapkan bahwa Yahshua sesungguhnya Elohim sekaligus manusia seutuhnya, tanpa percampuran dua tabiat-Nya, untuk menentang pengajaran Monophisit [ajaran satu tabiat Yahshua].
Konsili kelima merupakan Konstantinopel kedua yang dilaksanakan pada tahun 553 dengan menafsirkan ketetapan Khalsedon serta penjelasan mengenai dua tabiat Yahshua; juga mengutuk pengajaran Origen mengenai pra ada jiwa sebelum diciptakan, dll.
Konsili keenam dilaksanakan di Konstantinopel pada tahun 681 yang menyatakan bahwa Mesias memiliki dua kehendak dari dua tabiat, kemanusiaan dan Keelohiman, untuk melawan ajaran Monothelit.
Konsili ketujuh dilaksanakan pada tahun 787 dibawah perintah Kaisar wanita bernama Irene. Konsili ini dikenal sebagai Nicea kedua. Konsili ini menegaskan penggunaan dan pemuliaan ikon-ikon [lukisan, patung] namun juga melarang penyembahan kepada ikon-ikon serta membuat patung-patung tiga dimensi. Konsili ini sebaliknya menyatakan mengenai konsili yang paling awal yang menyatakan dirinya sebagai konsili ekumenis ketujuh dan menghapus statusnya. Konsili yang paling awal memelihara iconoclast adalah Kaisar Konstantin V. Konsili ini dihadiri lebih dari 340 bishop di Konstantinopel dan Hieria pada tahun 754 yang menyatakan bahwa pembuatan ikon mengenai Yahshua atau orang-orang suci merupakan suatu pelanggaran terutama bagi alasan Kristologis.
Apakah ketujuh konsili dan terutama ketiga konsili [Nicea, Konstantinoel dan Efesus] yang menetapkan mengenai Keelohiman dari Yahshua? Sebenarnya ketujuh konsili ini, terutama ketiga konsili yang menetapkan status mengenai hakikat Yahshua hanyalah RESPON terhadap persoalan yang dimunculkan kaum bidat yang merendahkan hakikat Yahshua dengan menganggap manusia ciptaan belaka. Selain itu, konsili-konsili ini MENEGASKAN ulang mengenai sikap mereka terhadap hakikat Yahshua sebagai Sang Firman yang tidak diciptakan yang berdiam bersama Bapa Yang Kekal yang dalam kurun waktu tertentu menjadi manusia oleh Kuasa Roh Kudus [Yoh 1:1,14, Mat 1:18]. Mesipun patut diakui bahwa dalam berbagai perumusan dalam konsili ini terkontaminasi dengan berbagai pendekatan dan istilah-istilah filsafat platonik Yunani, yang melahirkan pernyataan-pernyataan teologis yang abstrak, namun konsili-konsili ini bukan bermaksud menaikkan derajat Yahshua dari manusia belaka menjadi Tuhan atau menuhankan manusia Yahshua.
Kesehakikatan Yahshua dengan Bapa Surgawi, yaitu Yahweh atau sifat Keelohiman Yahshua telah ditegaskan secara profetik [berdasarkan nubuatan] jauh sebelum ada konsili-konsili tersebut. Pada sekitar tahun 700 SM, Yesaya bernubuat: “ki yeled yullad lanu ben nittan lanu wattehi hammisra al sikmo wayyiqra shemo pele yoets, El gibbor, abi ad, syar shalom”. Restoration Scriptures menerjemahkan,” Bagi kita lahir seorang Anak, bagi kita diberikan seorang Putra; dan pemerintahan akan berada dibahu-Nya; dan nama-Nya akan disebut Yang Ajaib, Penasihat, El Yang Berkuasa, Abba Yang Kekal, Syar Shalom”. Demikian pula dalam Mikha 5:2, “we atta bet lekhem Ephrata sa ir lihyot be alpe Yahuda, mimmeka li yese lihyot mosel be Yisrael umosaotayw miqqedem mime olam”. Restoration Scriptures menerjemahkan, “Namun kamu Bet Lekhem Ephrata, meskipun engkau terkecil dari ribuan kota Yahudah, namun darimu akan muncul, Sang Moshiah, lahir bagi kami yang akan menjadi Pemerintah Yisrael; yang kemunculannya sejak dari zaman lampau, dari kekekalan”. Kata “Mesias” disana merupakan kutipan dari Targum Aramaik yang berbunyi “qedama yifok Mashikha…” Berbagai nubuatan tersebut memberikan deskripsi mengenai sifat Keelohiman Sang Mesias. Dan keseluruhan deskripsi tersebut tertuju pada pribadi Yahshua yang dilahirkan dari perawan Maryam namun tidak diciptakan [Mat 1:18]. Yahshua sendiri mengatakan “Aku datang dan keluar dari Bapa” [Yoh 8:42], untuk menegaskan kesehakikatan-Nya dengan Bapa Surgawi yaitu Yahweh.
Dan Brown, dalam bukunya Da Vinci Code, menuduh bahwa pengakuan terhadap Keelohiman Yahshua, didasarkan oleh Konsili Nicea tahun 325. Pernyataan ini didasarkan ketidakmengertian terhadap sejarah dan berbagai nubuatan dalam Kitab Suci yang tertuju kepada pribadi Mesias yang dijanjikan dan yang telah datang, yaitu Yahshua. |